Membela Imam Abul Hasan al-Asy'ariy - LITERASI SAMBAS
News Breaking
Intro
wb_sunny

Breaking News

Membela Imam Abul Hasan al-Asy'ariy

Membela Imam Abul Hasan al-Asy'ariy

Oleh: al-Faqiir Abu Musa al-Fadaniy 

Membela Imam Abul Hasan al-Asy'ariy (Rahimahullahu)

Bismillahirrahmanirrahim

 

Literasisambas.org - Terjadinya penolakan dari sebagian pengikut Imam Abul Hasan al-Asy'ariy akan sebuah fakta bahwa Imam Abul Hasan al-Asy'ariy telah rujuk kepada Manhaj para Salaf sebelum wafatnya merupakan fenomena yang dapat dipahami alasannya.

Mengapa dapat dipahami alasannya?

Bagaimana tidak, mereka sudah terlanjur bersusah payah mempelajari Aqidah lama Imam Abul Hasan al-Asy'ariy (ketika ia masih diatas Aqidah mu'tazilah / kullabiyah), pengorbanan harta dan waktu yang begitu panjang telah mereka curahkan, lalu tetiba mengetahui ternyata Imam Abul Hasan al-Asy'ariy ruju' kepada manhaj as-Salaf, maka betapa hancurnya perasaan mereka, terlebih tak tanggung-tanggung, sebagai bukti kesungguhan ruju'nya Imam Abul Hasan al-Asy'ariy kepada Aqidah yang murni, yaitu aqidah yang dipahami oleh generasi as-Salaf (Radiyallahu 'anhum), ia telah menulis banyak buku membantah Aqidahnya yang lama.

Berbagai tuduhan dusta atas Imam Abul Hasan al-Asy'ariy disebarkan dari zaman ke zaman, tak ubahnya seperti kaset usang yang dipaksa untuk terus diputar, guna menutupi fakta yang amat menyakitkan bagi para pengekor hawa nafsu.

Berbagai manuver keji mereka lancarkan untuk menolak fakta taubatnya Imam Abul Hasan al-Asy'ariy.

Betul...

Tentu saja mereka harus menolak fakta tersebut, karena jika mereka mengakui ruju'nya Imam Abul Hasan al-Asy-'ariy kepada Manhaj Salaf, maka sama saja mengakui bahwa aqidah mu'tazilah yang mereka imani hingga hari ini merupakan Aqidah yang bathil, aqidah yang menyimpang, dan Aqidah Salaf lah aqidah yang benar.

Sehingga masuk akal jika mereka mati-matian menolak fakta sejarah bahwa Imam Abul Hasan al-Asy'ariy telah ruju' kepada Manhaj Salaf.

Didalam Aqidah Salaf, maka salaf (pendahulu)nya yaitu para Sahabat Nabi Radiyallahu 'anhum. Adapun Aqidah Mu'tazilah (yang digagas Washil bin ‘Atha’, mantan muridnya Imam Hasan al-Bashri Rahimahullahu). Maka "salaf"nya bermuara kepada rahimnya Jahmiyyah dengan puggawanya yaitu Jahm bin Shafwan.

Berikut ini beberapa syubhat dari orang-orang yang menolak fakta ruju'nya Imam Abul Hasan al-Asy'ariy kepada Manhaj Salaf, dan kami sertakan bantahannya, semoga dengan ini dapat mencerahkan bagi orang-orang yang memang jujur mengikuti kebenaran.

Syubhat #1: Mereka mengklaim bahwa Imam Abul Hasan al-Asy'ariy tidak pernah membuat kitab al-Ibanah, adapun kitab al-Ibanah yang sudah tersebar tersebut merupakan karangan orang-orang "wahabi". Dan sekaligus mengklaim bahwa tidak pernah Imam Abul Hasan al-Asy'ariy rujuk kepada Manhaj as-Salaf.

Bantahan Syubhat-1:

Pertama, ada puluhan ulama pada ratusan tahun lalu yang bersaksi bahwa Kitab al-Ibanah 'an ushuuli ad-Diyanah benar-benar ditulis oleh Imam Abul Hasan al-Asy'ariy (Wafat pada tahun 324 H), bahkan puluhan ulama Ahlus Sunnah tersebut menceritakan secara mendetail berkenan ruju'nya Imam Abul Hasan al-Asy'ariy kepada Manhaj as-Salaf.

Mereka adalah ulama Ahlus Sunnah yang menjadi rujukan kaum muslimin sampai hari ini, apakah masuk akal puluhan ulama besar tersebut berdusta ? Tentu tidak mungkin. Berikut kami akan sebutkan satu per satu sebatas yang kami mampu, Biidznillah

#1 al-Haafidz Ibnu 'Asaakir (wafat pada tahun 571 H). Beliau menjelaskan berkenaan hal ini pada kitab beliau yang berjudul at-Tabyiin.

#2 Imam Abu Nashr as-Sajzi (wafat pada tahun 444 H). Beliau menukilkan penjelasan Kitab al-Ibanah pada kitabnya yang membantah ahlul kalam

#3 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat pada tahun 728 H). Syaikhul islam menukilkan kitab al-Ibanah di banyak karya tulis beliau, diantaranya yang berjudul Bayanu Talbisi al-Jahmiyyah, al-Fatawa, dan Dar at-Ta'awudh

#4 Imam Ibnul Qayyim (wafat tahun 751 H). Beliau menukilkan kitab al-ibanah di beberap buku beliau, satu diantaranya yg berjudul Ijtima'ul Juyusyil Islamiyyati

#5 Abu Bakr Ahmad bin al-Husain bin 'Ali al-khurosani al-Baihaqi (wafat tahun 458 H). Beliau jelaskan di kitabnya yang berjudul al-I'tiqad wal Hidayah ila sabilir rasyad

#6 Syaikhul Islam Abu Ustman Isma'il bin Abdirrahman bin Ahmad ash-Shobuni (Lahir tahun 373 H). Ibnu 'Asaakir menceritakan Imam Ash-Shobuni sering membawa Kitab al-Ibanah ditangannya ketika hendak mengajar

#7 Imam an-Nawawi (wafat 676 H). Imam Adz-Dzahabi menceritakan di dalam kitab al-Uluw bahwa Imam an-Nawawi memiliki salinan Kitab al-Ibanah karya Imam Abul Hasan al-Asy'ari

#8 Imam Adz-Dzahabi (wafat 748 H). Beliau jelaskan panjang lebar dalam kitabnya yang berjudul al-'Uluw Lil 'Aliyil Ghaffar dan Tarikh Islam

#9 Ibnu Farhuun al-Maliki (Wafat pada tahun 799 H). Beliau menjelaskan terkait al-Ibanah karya Imam Abul Hasan al-Asy'ariy di kitab beliau yang berjudul Kitab ad-Dibaaj al-Madzhab

#10 Abu Fallah Abdul Hayyi bin 'Imaad al-Hanbali (wafat pada tahun 1098 H). Beliau menjelaskan perihal kitab al-Ibanah di kitab beliau yang berjudul Syadzaraat adz-Dzahab Fii A'yanil Madzhab

#11 Sayyid Murtadha az-Zubaidy (wafat pada tahun 1205 H). Beliau terangkan di kitab beliau yang berjudul Ithaafus Sa'adah al-Muttaqin bi Syarh Asraari Ihya' Ulumuddin

#12 al-Hafidz Taqiyuddin al-Maqrizi (wafat pada tahun 845 H). Dijelaskan oleh beliau dalam kitabnya yang berjudul al-Mawa'itz wa' I'tibar

#13 al-Faaqih Abul Ma'aly Mujla (wafat pada tahun 550 H). Beliau uraikan di kitab beliau yang berjudul Fiqih adz-Dzakhaair

#14 Imam Ibnu Abdil Baar (wafat pada tahun 463 H). Secara tegas beliau uraikan di kitab beliau yang berjudul at-tamhid dan al-Istidzkar

#15 al-Haafidz Abu Bakr as-Sam'aniy al-khurasaniy (Mufti Khurasan, wafat pada tahun 562 H). Hal ini telah diuraikan oleh Syaikhul Islam di kitab yang berjudul Bayanu Talbisi al-Jahmiyyah

#16 al-Qadhi Abu Bakr al-Baqilaniy (wafat pada tahun 402 H). Dipaparkan pada Kitabnya yang berjudul Thabaqat al-Fuqaha asy-Syafi'in

#17 Ibnu Darbas asy-Syafi'i (wafat tahun 605 H). Diuraikan secara mendetail pada kitabnya yang berjudul Risalah Fii adz-Dzab 'an abil Hasan al-Asy'ariy

#18 al-Hafidz Ibnu Katsir (wafat pada tahun 774 H). Beliau jelaskan di kitab Thabaqat asy-Syafi'iyyah & al-Bidayah wa an-Nihayah

#19 Abu Bakr Ibnu Faurak (Wafat 406 H). Beliau menjelaskan secara detail kisah perjalanan Abul Hasan al-Asy'ariy dalam mencari hidayah, dan menyebutkan Imam Abul Hasan al-Asy'ariy keluar dari manhaj Mu'tazilah menuju Manhaj para as-Salaf pada tahun 300H

#20 al-Khatib al-Baghdadiy (wafat pada tahun 463 H). Beliau uraikan di kitabnya yang berjudul Tarikh Baghdadiy

#21 Ibnu Khallikan (wafat pada tahun 681 H). Beliau jelaskan di kitab yang berjudul Wafayatul a'ayan

#22 Imam Taajuddin as-Subki (wafat pada tahun 771 H). Dipaparkan pada kitabnya yang berjudul Thabaqaatul asy-Syaafi'iyyah al-Kubra

#23 al-Hafidz Ibnu Hajar al-'Astqalaniy (wafat pada tahun 852 H). Diuraikan di kitabnya yang berjudul Lisaanul Mizan

#24 Abu Muhammad Ibnu Thabbakh (wafat pada tahun 575 H). Syaikhul Islam menjelaskan di kitab Bayanu Talbisi al-Jahmiyyah bahwa Ibnu Thabbakh banyak menukil dari kitab al-Ibanah

#25 Para Ulama Kontenporer seperti Syaikh al-Utsaimin, Syaikh Shaalih al-Fauza, Syaikh Isma'il al-anshory, Syaikh 'abdul aziz bin Baaz

Dan masih banyak lagi yang belum kami sebutkan satu per satu karena keterbatasan kami.

Kemudian, framing mereka bahwa "wahabi" merupakan dalang atas kitab al-Ibanah, maka ini sangat membingungkan. Karena mereka sendiri yang menyatakan bahwa "wahabi" dinisbatkan kepada sosok Syaikh Muhammad bin Abdil Wahab (Rahimahullahu), yang mana beliau lahir pada tahun 1206 H, maka bagaimana mungkin puluhan ulama Ahlus Sunnah yang telah mempersaksikan bahwa Imam Abul Hasan al-Asy'ariy ruju' kepada Manhaj Salaf juga diframingkan sebagai "Wahabi" ? Padahal para ulama tersebut wafat ratusan tahun sebelum Syaikh Muhammad bin Abdil Wahab lahir. Maka syubhat mereka pada poin ini sangatlah lemah.

Syubhat #2: Sebagian Ahlul Bid'ah yang sedikit cerdas, tidak berani menuduh bahwa Kitab al-Ibanah tidak ditulis oleh Imam Abul Hasan al-Asy'ariy, namun mereka menebarkan syubhat bahwa isi dari Kitab al-Ibanah telah dipalsukan oleh "wahabi". Dan sebagian mereka memberikan syubhat bahwa Kitab al-Ibanah cetakan non-arab saudi ada perbedaan dengan kitab al-Ibanah cetakan arab saudi.

Bantahan Syubhat #2:

Para pengikut hawa nafsu mungkin tidak tahu, bahwa diantara bukti kesungguhan Imam Abul Hasan al-Asy'ariy dalam membantah Aqidahnya yang lama, ia telah membantahnya dgn menulis kitab yang sangat banyak judulnya, sehingga Aqidah beliau di Kitab al-Ibanah 'an Ushuuli ad-Diyanah sama dengan kitab-kitab beliau lainnya yg ditulis saat ia ruju' kepada manhaj as-Salaf.

Berikut diantara kitab-kitab yang ditulis oleh Imam Abul Hasan al-Asy'ariy dalam menjelaskan prinsip-prinsip Aqidah as-Salaf & membantah aqidah mu'tazilah :

- al-Mujiiz

- Asyful Asrar wa Hatkul Asrar

- Mufiid Fii Radd 'ala Jahmiyyah wal mu'tazilah

- Maqalaatul Islamiyyin Wakhtilaafil Mushallin

- Risalah ila ahli tsagar

- al-luma' al-kabir & al-luma' ash-shagir

Adapun kitab yang paling terakhir beliau tulis sebelum wafatnya yaitu Kitab al-Ibanah 'an Ushuuli ad-Diyanah.

Apakah para pengikut hawa nafsu tersebut juga akan sesumbar mengklaim bahwa semua kitab-kitab diatas ini juga dipalsukan oleh "wahabi" ? Maka klaim yang demikian tersebut sangat mengada-ada, karena para ulama ahlus sunnah yang hidup ratusan tahun lalu juga telah menukilkan kitab-kitab tersebut dalam menjelaskan Aqidah Imam Abul Hasan al-Asy'ari yang ruju' kepada manhaj as-Salaf.

Kemudian mereka menerbar syubhat, bahwa Kitab al-Ibanah cetakan non-arab saudi ada perbedaan dengan kitab al-Ibanah cetakan arab saudi, maka ini bukti bahwa "wahabi" telah mengubah-ubah isi kitab al-Ibanah. Maka klaim ini tidak benar.

Mengapa tidak benar?

Pertama, perbedaan yang minor diantara mauskrip itu merupakan hal yang lazim, dan ini terjadi dibanyak manuskrip, dan perbedaan minor tersebut tidak sampai mengubah subtansi isi kitab, Semisal pada bagian awal kitab al-Ibanah, di sebuah manuskrip tertulis "وهو الواحد القاهر", adapun di manuskrip yang dijadikan pegangan cetakan arab saudi tertulis: "وهو الله الواحد القاهر".

Hal-hal minor seperti ini tidak saling bertentangan, malah seringnya memperkuat satu dengan yang lainnya, dan yang paling terpenting tidak mengubah prinsip-prinsip aqidah salaf yang diuraikan oleh Imam Abul Hasan al-Asy'ariy.

Dan betapa rusaknya cara berlogika mereka, kebencian mereka kepada Negeri Tauhid Arab Saudi begitu besar, sampai-sampai jika ada perbedaan antara kitab al-Ibanah cetakan non-arab saudi dengan cetakan arab saudi, maka mereka langsung klaim yg salah adalah cetakan arab saudi.

Seharusnya jika mereka berani mengklaim al-Ibanah cetakan arab saudi adalah palsu, maka cara berlogika yang benar yaitu mereka harus menghadirkan manuskrip yang belum dipalsukan "wahabi". Namun sayangnya mereka tidak mampu (dan tidak akan pernah mampu) menghadirkan manuskrip yang mereka klaim belum dimanipulasi oleh "wahabi.

Jika demikian, lantas bagaimana metodologi mereka dalam menentukan manuskrip mana yang paling shahih? Tentu saja, omong kosong mereka ini tak lain hanya sangkaan yang sangat mengada-ada.

Pun juga, jika mereka memaksa agar orang-orang awam meyakini bahwa Kitab-Kitab karya Imam Abul Hasan al-Asy'riy yang ruju' kepada Manhaj as-Salaf adalah kitab-kitab yang telah dipalsukan, maka setidaknya mereka harus punya dua hal untuk membuktikan omong kosong mereka tersebut

Pertama, mereka harus dapat menghadirkan semua manuskrip kitab-kitab karya Imam Abul Hasan al-Asy'riy (kitab-kitab yang menjelaskan Aqidah as-Salaf), yang belum dimanipulasi oleh "wahabi". Sehingga demikian, kita dapat melakukan perbandingan manuskrip bersama-sama. Namun sayangnya, mereka tidak pernah mampu.Karena manuskrip yang ada saat ini, secara substansi, semuanya sama.

Kedua. Mau tidak mau, mereka terpaksa harus meyakini juga bahwa semua kitab para ulama ahlus sunnah yang ditulis ratusan tahun lalu berkenaan ruju'nya Imam Abul Hasan al-Asy'ariy kepada manhaj as-Salaf adalah palsu / dipalsukan oleh "wahabi", sehingga konsekuensi logisnya, mereka harus menghadirkan semua manuskrip kitab-kita para ulama ahlus sunnah tersebut yang belum dimanipulasi oleh "wahabi". Maka barulah kemudian dapat kita bandingkan bersama-sama semua manuskrip tersebut. Namun tentu saja, ini pekerjaan lebih berat lagi bagi mereka, dan (lagi-lagi) mereka tidak akan pernah mampu sampai kapanpun.

Sebetulnya fakta akan ruju'nya Imam Abul Hasan al-Asy'ariy kepada Manhaj para as-Salaf merupakan perkara yang sangat terang benderang, maka jika seseorang memang mengidolakan sosok Imam Abul Hasan al-Asy'ariy, hendaknya ia ikuti aqidah yang dipegang oleh beliau sebelum wafatnya, yaitu Aqidah yang juga dianut oleh para sahabat nabi (Radiyallahu 'anhum).

Dan bagi anda tak terima dengan ruju' Imam Abu Hasan al-Asy'ari kepada manhaj as-Salaf, maka silahkan saja anda tetap beriman dengan Aqidah beliau yang lama (yaitu Aqidah Mu'tazilah/Kullabiyah), itu hak anda. Akan tetapi, tidak halal atas anda berdusta atas nama Imam Abul Hasan al-Asy'ariy, karena sungguh beliau (Rahimahullahu) telah menunjukkan kesungguhannya dalam taubatnya, dan beliau telah berlepas diri dari aqidah beliau yang lama.

Semoga Allah Ta'ala memberikan kita jiwa yang hanif seperti Imam Abul Hasan al-Asy'ariy, ia habiskan waktunya untuk mencari kebenaran, bukan mencari pembenaran. Ketika ia menyadari itu salah, maka ia segera ruju' atas kesalahannya.

-------------------------

 

Sumber: Kitab al-Ibanah ini merupakan karya Imam Abul Hasan al-Asy'ariy (Rahimahullahu).

Baarakallahu Fiikum

Fb: al-Faqiir Abu Musa al-Fadaniy

(Jika menemukan kekeliruan dalam tulisan ini, mohon berkenan menasihati kami, dengan menyertakan bukti-bukti yang ilmiah)


Bagian #1:

https://www.literasisambas.org/2021/05/mengenal-imam-abul-hasan-al-asyariy.html

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar