Zakat Fitrah, Bagian 3 dari 5: Tiga Pendapat dalam Pembagian Zakat Fitrah, Mana yang Paling Kuat? - LITERASI SAMBAS
News Breaking
Intro
wb_sunny

Breaking News

Zakat Fitrah, Bagian 3 dari 5: Tiga Pendapat dalam Pembagian Zakat Fitrah, Mana yang Paling Kuat?

Zakat Fitrah, Bagian 3 dari 5: Tiga Pendapat dalam Pembagian Zakat Fitrah, Mana yang Paling Kuat?

 Oleh: Usmul Hidayah


Yang Berhak Menerima Zakat Fitrah


1.      Pendapat yang Pertama: 8 Golongan sama Seperti Zakat Maal

Literasisambas.org - Di dalam al-muqhni karya Ibnu Qudamah (IV/314), bahwa zakat fitrah dapat didistribusikan kepada para mustahik (yakni para penerima zakat mal atau zakat harta). Karena zakat fitrah juga termasuk zakat, sehingga distribusinya seperti zakat-zakat lainnya. Zakat fitrah termasuk dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

۞ اِنَّمَا الصَّدَقٰتُ لِلْفُقَرَاۤءِ وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْعٰمِلِيْنَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوْبُهُمْ وَفِى الرِّقَابِ وَالْغٰرِمِيْنَ وَفِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَابْنِ السَّبِيْلِۗ فَرِيْضَةً مِّنَ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ

Artinya: “Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” (QS. at-Taubah: 60)

 

2.    Pendapat yang Kedua: 8 Golongan Penerima Zakat Maal, tetapi Diutamakan Orang-orang Miskin.

Asy Syaukani rahimahullah berkata, “Adapun tempat pembagian shadaqah fithri adalah tempat pembagian zakat (maal), karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menamakannya dengan zakat. Seperti sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘Barangsiapa membayarnya sebelum shalat, maka itu merupakan zakat yang diterima,’ dan perkataan Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan zakat fithri. Kedua hadits itu telah dijelaskan. Tetapi sepantasnya didahulukan orang-orang faqir, karena perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mencukupi mereka pada hari (raya) tersebut. Kemudian jika masih lebih, dibagikan kepada yang lain.” (Dararil Mudhiyyah, halaman 140. Penerbit Muassasah ar Rayyan, Cet. II, Th. 1418H/1997M)

Perkataan asy Syaukani rahimahullah ini, juga dikatakan oleh Shiqdiq Hasan Khan al Qinauji rahimahullah. (At Ta’liq ar Ra dhiyyah, 1/555)

Syaikh Abu Bakar Jabir al Jazairi berkata, “Tempat pembagian shadaqah fithri adalah, seperti tempat pembagian zakat-zakat yang umum. Tetapi, orang-orang faqir dan miskin lebih berhak terhadapnya daripada bagian-bagian yang lain. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘Cukupilah mereka dari minta-minta pada hari (raya) ini!’ Maka zakat fithri tidaklah diberikan kepada selain orang-orang faqir, kecuali jika mereka tidak ada, atau kefaikran mereka ringan, atau besarnya kebutuhan bagian-bagian yang berhak menerima zakat selain mereka”. (Minhajul Muslim, 231. Penerbit Makatabatul ‘Ulum wal Hikam & Darul Hadits, tanpa tahun; Taisirul Fiqh, 74.)

Ada juga yang berpendapat bahwa zakat fitrah hanya boleh diberikan kepada orang-orang yang memang berhak menerima pemberikan kafarat (tebusan). Sehingga dilihat dari segi penerimaan zakat fitrah sama seperti kafarat sumpah, zhihar, pembunuhan, hubungan badan di siang hari bulan Ramadhan, dan kafarat saat haji. Orang-orang yang berhak menerima kafarat tersebut berhak menerima zakat fitrah untuk memenuhi kebutuhan mereka; yaitu, orang-orang fakir dan miskin. Maka itu, muallaf, hamba sahaya, atau yang lainnya tidak boleh diberikan zakat fitrah. (Ensiklopedi Zakat, hal. 338)

 

3.      Pendapat yang Ketiga: Hanya Orang Fakir Miskin Saja

Asy-Syaukani berkata tentang hadits Ibnu Abbas, yang di dalamnya dikemukakan: “….sebagai pemberian makan kepada orang miskin.” (Abu Dawud, no. 1609)

Lengkapnya:

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ 

وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ 

صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ.

Artinya: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari bersenda gurau dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.” (HR. Abu Daud (no. 1609) dan Ibnu Majah (no. 1827) Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan.

Dari hadits tersebut adalah dalil bahwasanya zakat fitrah hanya didistribusikan kepada orang-orang miskin saja. Karenanya, zakat ini tidak didistribusikan kepada golongan-golongan penerima zakat lainnya. (Nailul Authar karya asy-Syukani, II/103)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Pendapat ini lebih kuat dalilnya”. (Majmuu’ Fataawaa Ibni Taimiyah, XXV/73) Beliau juga berkata, “Zakat fitrah tidak boleh diberikan kecuali kepada orang yang berhak menerima kafarat, yaitu orang-orang yang menerimanya untuk menutupi kebutuhan makannya (fakir miskin), jadi bukan kepada muallaf, hamba sahaya dan selainnya”. (al-Ikhtiyarat al-Fiqhiyah karya Ibnu Taimiyah, hal. 151)

Imam Ibnul Qayyim mengatakan, “Di antara petunjuk Nabi adalah mengkhususkan zakat fitrah agar diberikan kepada orang-orang miskin saja. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah membaginya kepada delapan golongan penerima zakat dan tidak pula memerintahkan hal tersebut. Tidak ada seorang sahabat pun yang melakukannya, begitu juga para ulama sesudah mereka. Salah satu pendapat mazhab kami, zakat fitrah tidak boleh didistribusikan kecuali atas fakir miskin. Sungguh pendapat ini lebih kuat daripada pendapat kedua yang menyatakan bahwa zakat fitrah harus didistribusikan kepada delapan golongan penerima zakat”. (Zaad al-Ma’ad fi Hady Khairil Ibad, I/22)

 

4.      Kesimpulan dari Ketiga Pendapat

Pendapat yang paling rajih (kuat) adalah pendapat yang ketiga yakni hanya orang fakir miskin saja. Dengan pertimbangan sebagai berikut:

1.     Hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang zakat fitri

وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ

Artinya: “Dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin”. (HR Abu Dawud, no. 1609; Ibnu Majah, no. 1827; dan lain-lain).

2.     Zakat fithri termasuk jenis kaffarah (penebus kesalahan, dosa), sehingga wujudnya makanan yang diberikan kepada orang yang berhak, yaitu orang miskin, wallahu a’lam.

3.     Adapun pendapat yang menyatakan zakat fitrah untuk delapan golongan sebagaimana zakat mal, karena zakat fithri atau shadaqah fithri termasuk keumuman firman Allah Azza wa Jalla:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ 

وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ

Artinya: (Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan.” At-Taubah, ayat 60), maka pendapat ini dibantah, bahwa ayat ini khusus untuk zakat mal, dilihat dari rangkaian ayat sebelumnya dan sesudahnya.

 

Kemudian juga, tidak ada ulama yang berpegang dengan keumuman ayat ini, sehingga seluruh jenis shadaqah hanyalah hak delapan golongan ini. Jika pembagian zakat fithri seperti zakat mal, boleh dibagi untuk delapan golongan, maka bagian tiap-tiap golongan akan menjadi sedikit. Tidak akan mencukupi bagi gharim (orang yang menanggung hutang), atau musafir, atau fii sabilillah, atau lainnya. Sehingga tidak sesuai dengan hikmah disyari’atkannya zakat. Wallahu ‘alam. (Bahkan sebagian ulama berpendapat wajib dibagi untuk delapan golongan. Lihat Majmu Fatawa 25/71-78)

Para ulama berselisih pendapat mengenai siapakah yang berhak diberikan zakat fithri. Mayoritas ulama berpendapat bahwa zakat fithri disalurkan pada 8 golongan sebagaimana disebutkan dalam surat At Taubah ayat 60. Sedangkan ulama Malikiyah, Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya dan Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa zakat fithri hanyalah khusus untuk fakir miskin saja

Allamah Ibnu Utsaimin, pada saat menerangkan dua pendapat ini, menyatakan: “Ihwal masalah pendistribusian zakat fitrah terdapat dua pendapat. Pertama, zakat fitrah didistribusikan sebagaimana zakat lainnya, bahkan diberikan kepada muallaf dan orang yang mempunyai beban utang. Kedua, zakat fitrah didistribusikan bagi fakir miskin saja. Pendapat kedua inilah yang benar. (Ensiklopedi Zakat, hal. 340)

Imam Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, berkata: “Zakat fitrah, melaluinya Allah mensyari’atkan hamba-Nya supaya menyanyangi kaum fakir dan juga orang-orang yang membutuhkan, dan fungsinya sebagai pemberian makan bagi orang-orang miskin. Lalu dalam kesempatan lain, penyalurannya hanya kepada fakir miskin”. (Majmuu Fataawaa Ibni Baz, XIV/215)


Wallahu'alam....

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar