Zakat Fitrah, Bagian 4 dari 5: Pendapat 4 Mazhab Zakat Fitrah dengan Uang serta Alasannya - LITERASI SAMBAS
News Breaking
Intro
wb_sunny

Breaking News

Zakat Fitrah, Bagian 4 dari 5: Pendapat 4 Mazhab Zakat Fitrah dengan Uang serta Alasannya

Zakat Fitrah, Bagian 4 dari 5: Pendapat 4 Mazhab Zakat Fitrah dengan Uang serta Alasannya

Oleh: Usmul Hidayah

          Literasisambas.org - Masalah ini termasuk kajian yang banyak menjadi tema pembahasan di beberapa kalangan dan kelompok yang memiliki semangat dalam dunia Islam. Tak heran, jika kemudian pembahasan ini meninggalkan perbedaan pendapat. Pada penjelasan ini, terlebih dahulu akan disebutkan perselisihan pendapat ulama, kemudian di-tarjih (dipilihnya pendapat yang lebih kuat).

1.      Pendapat Mazhab al-Malikiyah

Pendapat mazhab al-Malikiyah tidak mengamini zakat dengan uang. "Tidak sah (zakat fitrah) kurang dari satu sha menurut kalangan ulama Madinah di antaranya Imam Malik dan juga selainnya, (zakat fitrah) berupa biji-bijian yang merupakan makanan pokok seluruhnya, tidak sah dengan tepung, bubuk juga roti … dan tidak (boleh) mengganti zakat dengan nilai (uang) menurut ahli Madinah, dan inilah pendapat yang sahih dari Imam Malik dan juga kebanyakan ulama al-Malikiyah." (al-Kafi fi Fiqh Ahl Madinah 1/323).

 

2.      Pendapat Mazhab al-Syafi’iyyah

Pendapat yang sama mazhab al-Syafi’iyyah yang sama menolak zakat fitrah dengan uang. "Kadar yang diwajibkan (zakat fitrah) adalah 5 1/3 rithl Baghdad, dari makanan pokok berupa biji-bijian dan juga buah. Tidak boleh (zakat fitrah) dengan roti, tepung, dan juga tidak (boleh) mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk nilai dengan perak atau emas." (al-Iqna’ lil-Mawardi 69)

 

3.      Pendapat Mazhab Hanabilah

Begitu juga pendapat mazhab al-Hanabilah juga demikian. "Siapa yang mampu mengeluarkan (zakat fitrah) berupa kurma, jelasi atau gandum, atau kismis, atau juga aqith (jameed), tapi ia mengeluarkan selain yang tersebut, tidak sah zakat fitrahnya, dan (juga) siapa yang mengeluarkan nilai (uang)-nya tidak sah." (Mukhtashar al-Khiraqi 48).

 

4.      Pendapat Mazhab al-Hanafiyah

Pendapat mazhab al-Hanafiyah yang membolehkan membayar zakat fitrah dengan uang. Mazhab Hanafiyah adalah satu-satunya mazhab yang membolehkan membayar zakat fitrah dengan uang dan itu tidak diaminkan oleh mazhab lain.

Namun, terkait semua itu, banyak teks atau ibrah yang termaktub dalam kitab-kitab ulama mazhab masing-masing. Pertama, misalnya, teks dari Mazhab al-Hanafiyah yang membolehkan membayar zakat fitrah dengan uang itu sebagai berikut, "Diceritakan dari Abu Yusuf (murid Imam Abu Hanifah) bahwa bayar zakat fitrah dengan tepung itu lebih aku sukai daripada bayar dengan jelai, dan bayar dengan dirham (uang) lebih aku sukai daripada bayar dengan tepung atau juga dengan jelai; karena uang lebih bisa menyelesaikan hajatnya si fakir. (Bada’i al-Shana’i 2/72).

Sebagai tambahan wacana, berikut ini kami sebutkan perselisihan ulama dalam masalah ini.

1.       Pendapat yang Melarang Pembayaran Zakat Fitrah dengan Uang

·    Syekhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Allah mewajibkan pembayaran zakat fitri dengan bahan makanan sebagaimana Allah mewajibkan pembayaran kafarah  dengan bahan makanan.” (Majmu’ Fatawa)

·    Taqiyuddin Al-Husaini Asy-Syafi’i, penulis kitab Kifayatul Akhyar (kitab fikih Mazhab Syafi’i) mengatakan, “Syarat sah pembayaran zakat fitri harus berupa biji (bahan makanan); tidak sah menggunakan mata uang, tanpa ada perselisihan dalam masalah ini.” (Kifayatul Akhyar, 1:195)

·    An-Nawawi mengatakan, “Ishaq dan Abu Tsaur berpendapat bahwa tidak boleh membayar zakat fitri menggunakan uang kecuali dalam keadaan darurat.” (Al-Majmu’)

·    An-Nawawi mengatakan, “Tidak sah membayar zakat fitri dengan mata uang menurut mazhab kami. Pendapat ini juga yang dipilih oleh Malik, Ahmad, dan Ibnul Mundzir.” (Al-Majmu’)

·    Asy-Syairazi Asy-Syafi’i mengatakan, “Tidak boleh menggunakan nilai mata uang untuk zakat karena kebenaran adalah milik Allah. Allah telah mengkaitkan zakat sebagaimana yang Dia tegaskan (dalam firman-Nya), maka tidak boleh mengganti hal itu dengan selainnya. Sebagaimana berkurban, ketika Allah kaitkan hal ini dengan binatang ternak, maka tidak boleh menggantinya dengan selain binatang ternak.” (Al-Majmu’)

·    Ibnu Hazm mengatakan, “Tidak boleh menggunakan uang yang senilai (dengan zakat) sama sekali. Juga, tidak boleh mengeluarkan satu sha’ campuran dari beberapa bahan makanan, sebagian gandum dan sebagian kurma. Tidak sah membayar dengan nilai mata uang sama sekali karena semua itu tidak diwajibkan (diajarkan) Rasulullah.” (Al-Muhalla bi Al-Atsar, 3:860)

·    Asy-Syaukani berpendapat bahwa tidak boleh menggunakan mata uang kecuali jika tidak memungkinkan membayar zakat dengan bahan makanan.” (As-Sailul Jarar, 2:86)

Ø  Alasan mereka melarang:

1)      Banyak riwayat atau dalil membayar zakat fitrah dengan makanan pokok, bukan dengan uang.

2)      Zakat fitrah adalah ibadah yang telah ditetapkan kadar, cara, waktunya, ketentuannya dan lainnya.

3)      Di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sudah ada uang (dirham dan dinar), tapi Beliau tidak pernah melakukannya.

2.       Pendapat yang Membolehkan Pembayaran Zakat Fitrah dengan Uang

Ulama yang berpendapat demikian adalah Umar bin Abdul Aziz, Al-Hasan Al-Bashri, Atha’, Ats-Tsauri, dan Abu Hanifah. Diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri, bahwa beliau mengatakan, “Tidak mengapa memberikan zakat fitri dengan dirham.”

Diriwayatkan dari Abu Ishaq; beliau mengatakan, “Aku menjumpai mereka (Al-Hasan dan Umar bin Abdul Aziz) sementara mereka sedang menunaikan zakat Ramadan (zakat fitri) dengan beberapa dirham yang senilai bahan makanan.”

Diriwayatkan dari Atha’ bin Abi Rabah, “Bahwa beliau menunaikan zakat fitri dengan waraq (dirham dari perak).

Ø  Alasan mereka membolehkan:

1.     Dalil riwayat yang disampaikan adalah pendapat Umar bin Abdul Aziz dan Al-Hasan Al-Bashri. Sebagian ulama menegaskan bahwa mereka tidak memiliki dalil nash (Alquran, al-hadits, atau perkataan sahabat) dalam masalah ini.

2.     Istihsan (menganggap lebih baik). Mereka menganggap mata uang itu lebih baik dan lebih bermanfaat untuk orang miskin daripada bahan makanan.

 

KESIMPULAN:

-       Pendapat yang paling Rajih (kuat) adalah zakat fitrah dengan makanan pokok, karena sesuai dalil dan sunnah. Jika dibandingkan 4 mazhab, perbandingannya adalah 3 tidak boleh dengan uang, dan hanya 1 yang membolehkan.

-       Sedangkan menggunakan uang, hanya sebagian kecil yang membolehkan dengan beralasan jika “lebih baik”.

-       Alasan “Lebih Baik”, dapat dibantah dengan pernyataan, “Jika orang yang menerima zakat (fakir miskin), ia bias saja menjual makanan pokok itu sehingga ia dapat memanfaatkan hasil penjualan makanan tersebut. Justru mengeluarkan zakat fitrah dengan uang itu cenderung tersembunyi dan tidak tampak sehingga tidak ketahui oleh orang lain.” Allahu’alam (Fiqh Zakat Kontemporer, Tanya Jawab Ihwal Zakat)

 

Ada perbedaan pendapat yang terjadi jumhur ulama tentang zakat menggunakan uang, karena tidak ada dalil yang shahih dalam penetapannya. Karena sesuai dalil yang Shahih, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah merintahkan hal tersebut, kecuali berzakat fitrah dengan makanan pokok.

Rasulullah bersabda:

سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ يَقُولُا كُنَّا نُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِينَا عَنْ كُلِّ صَغِيرٍ 

وَكَبِيرٍ حُرٍّ وَمَمْلُوكٍ مِنْ ثَلَاثَةِ أَصْنَافٍ

Artinya: “Sa'id Al Khudri berkata; kami mengeluarkan zakat Fithrah pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yakni dari setiap anak kecil dan besar, merdeka atau hamba sahaya, berupa tiga bahan makanan pokok." (Hadits Shahih Muslim No. 1642 - Kitab Zakat)

Di antara ulama abad ini yang mewajibkan membayar dengan bahan makanan pokok:

§   Imam Ibnu Qudamah mengucapkan, “Tidak boleh menunaikan zakat fitrah dengan uang. Sebab tindakan itu berarti mengganti apa yang disebutkan dalam nash”. (al-Kafi Karya Ibnu Qudamah, I/764)

§   Imam Abdul Aziz bin Abdullah bi Baz, berkata “Menurut mayoritas ulama, tidak boleh menunaikannya dengan uang. Inilah yang benar, sesuai dalil. Sehingga yang wajib ialah menunaikannya dalam bentuk makanan seperti yang dilakukan Rasulullah dan para Sahabat”. (Majmuu’ Fataawaa Ibn Baz, XIV/202)

§   Dinyatakan pula, “Zakat fitrah adalah ibadah menurut ijma muslimin, dan asal semua ibadah adalah tauqifiyyah (sesuai dalil). Jadi tidak boleh beribadah kecuali berdasarkan ketentuaan yang ditetapkan oleh Nabi”. (Majmuu’ Fataawaa Ibn Baz, XIV/208)

§   Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-‘Ilmiyya wal Ifta’ menyatakan, “Zakat fitrah tidak boleh ditunaikan dalam bentuk uang. Karena dalil syar’ie menunjukan bahwa penuaiannya dalam bentuk makanan. Maka, tidak boleh menyimpang dari dalil syar’ie kepada pendapat siapa pun”. (Majmuu’ Fataawa al-Lajnah ad-Daimah, IX/379)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda:


عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا 

هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Artinya: “Dari Aisyah berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: " Barangsiapa membuat perkara baru dalam urusan kami yang tidak termasuk darinya maka dia tertolak." (Hadits Sunan Ibnu Majah No. 14 - Kitab Mukadimah)


Wallahu'alam....


Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar