Zakat Fitrah, Bagian 1 dari 5: Pengertian Zakat dan 6 Hikmah Diwajibkannya Zakat Fitrah - LITERASI SAMBAS
News Breaking
Intro
wb_sunny

Breaking News

Zakat Fitrah, Bagian 1 dari 5: Pengertian Zakat dan 6 Hikmah Diwajibkannya Zakat Fitrah

Zakat Fitrah, Bagian 1 dari 5: Pengertian Zakat dan 6 Hikmah Diwajibkannya Zakat Fitrah

Oleh: Usmul Hidayah

Literasisambas.org - Tidak dipungkiri bahwa Bulan Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan. Baik berkah untuk Si Kaya maupun berkah untuk Si Miskin. Mengapa demikian? Karena di bulan Ramadhan selain diperintahkan untuk berpuasa, umat islam juga diwajibkan untuk mengeluarkan zakat. zakat tersebut disebut dengan zakat Fitrah. Zakat inilah nanti untuk membantu orang-orang yang fakir (miskin) dan lainnya.

Zakat adalah salah satu pilar utama ajaran Islam. Bahwa zakat melengkapi pilar lain dengan menopang sendi-sendi kehidupan ekonomi dan sosial kaum muslimin. Dengan zakat ini, prolem kemiskinan umat Islam dan ketimpangan sosial dalam lingkup masyarakat luas pun ikut tertangani. Islam menghadirkan sebagai solusi. Dengan zakat ini, hubungan antara si kaya dan si miskin menjadi harmonis. Rasa solidaritas orang kaya kepada orang miskin tumbuh seiring dipraktikkannya amalan (zakat) ini. Melalui zakat harta orang kaya itu dapat disucikan dari kotorannya sehingga ia menjadi lebih berkat. Berkat zakat juga, dapat membersihkan jiwa dari kelalaian terhadap kehidupan akhirat.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

خُذْ مِنْ اَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ

Artinya: “Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka.” (QS. at-Taubah: 103)

Sebelum mengetahui apa itu zakat fitrah, ada baiknya kita mengetahui apa itu zakat baik menurut Bahasa maupun menurut istilah agar kita bisa mengetahui makna yang sebenar dari zakat tersebut. Zakat dari segi Bahasa adalah kesucian, tumbuh, berkah dan pujian. Semua ini digunakan di dalam al-Qur’an maupun hadits (as-Sunnah). (An-Nihayah fi Gharibil Hadits wal Atsar karya Ibnu Katsir, tema Zakaa (1/308)

Sedangkan secara istilah adalah kewajiban dalam harta. (Fiqhuz Zakah, 1/37) Iman asy-Syaukani rahimahullahu berkata: “Zakat secara Bahasa artinya tumbuh”. Dalam Bahasa Arab terdapat ungkapan Zakaa az-Zar, yang artinya tumbuh (berkembang). Zakat juga dimaknai dengan “penyucian”. Menurut istilah syariat Islam, zakat mengandung kedua makna tersebut.

Tentang makna yang pertama, tinjauannya adalah karena mengeluarkan zakat merupakan sebab berkambang atau bertambahnya harta seseorang. Dalam arti bahwa pahala bertambah banyak dengan sebab mengeluarkannya atau karena zakat tersebut terkait erat dengan harta produktif yang dapat bertambah seperti harta perdagangan dan pertanian. Sementara itu zakat menurut arti yang kedua, tinjauannya karena zakat menyucikan jiwa dari sifat bakhil tercela dan membersihkan dosa-dosa hamba. (Nailul Authar II/5)

Zakat dalam istilah syariat Islam adakalanya disebut shadaqah (sedekah), baik dalam al-Qur’an al-Karim maupun as-Sunnah al-Muthahharah. Allah Subhanahu wa Ta’ala, berfirman:

وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّلْمِزُكَ فِى الصَّدَقٰتِۚ فَاِنْ اُعْطُوْا مِنْهَا رَضُوْا وَاِنْ لَّمْ يُعْطَوْا مِنْهَآ اِذَا هُمْ يَسْخَطُوْنَ

Artinya: “Dan di antara mereka ada yang mencelamu tentang (pembagian) sedekah (zakat); jika mereka diberi bagian, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi bagian, tiba-tiba mereka marah.” (QS. at-Taubah: 58)

Berdasarkan penjelasan di atas, makna lafazh “sedekah” memiliki dua makna. Pertama, sedekah dalam arti sedekah sunnah. Yang kedua, sedekah dalam arti sedekah wajib, yaitu yang disebut dengan istilah zakat. (Selengkapnya dalam kitab al-Qamus al-Fiqh: Lughatan wa Ishtilahan karya Sa’di Abu Jib, hal 209)

Setelah kita mengetahui apa pengertian zakat baik menurut Bahasa maupun istilah, sekarang kita membahas apa itu zakat fitrah.

A.     Pengertian Zakat Fitrah

Al-Fithr (fitrah) bentuk lafazhnya adalah isim mashdar. Asalnya dari perkataan: Afthara ash-Shaaim yufthir ifthaaraan (orang yang berpuasa itu berbuka puasa). Bentuk mashdar dari kata afthara adalah fithaar. (Buku Ensiklopedi Zakat, hal 318)

Zakat fitrah yaitu zakat badan dan jiwa. Pernyandingan kata zakaah (zakat) dengan kata fithr (fitrah) adalah bentuk penyandingan sesuatu dengan sebabnya. Karena berbuka puasa setelah berakhirnya bulan Ramadhan adalah sebab wajibnya zakat fitrah. Karena itulah, zakat disandingkan dengan fitrah, karena ia diwajibkan dengan adanya fithr (berbuka) dari bulan Ramadhan. Sehingga, dikatakanlah zakat al-fithr (zakat karena tidak berpuasa lagi).

Ada juga yang mengatakan bahwa asalnya adalah fitrah yang berarti ciptaan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا

Artinya: “(sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu….” (QS. ar-Rum: 30)

Zakat fitrah menurut istilah adalah zakat yang wajib ditunaikan setelah berbuka di akhir bulan suci Ramadhan sebagai pensucian bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan keji. (Buku Ensiklopedi Zakat, hal 319)

 

B.      Dalil Wajibnya Zakat Fitrah

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ تَزَكّٰىۙ وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهٖ فَصَلّٰىۗ

Artinya: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman), dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia salat.” (QS. al-‘Ala: 14-15)

Hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

 عَنْ قَيْسِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِصَدَقَةِ الْفِطْرِ قَبْلَ أَنْ تُنْزَلَ الزَّكَاةُ 

فَلَمَّا نَزَلَتْ الزَّكَاةُ لَمْ يَأْمُرْنَا وَلَمْ يَنْهَنَا وَنَحْنُ نَفْعَلُهُ

Artinya: “Dari Qais bin Sa'd ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan kami untuk menunaikan zakat fitrah sebelum turunnya ayat zakat, maka ketika ayat zakat telah turun beliau tidak memerintahkan ataupun melarang kami, sementara kami tetap melakukannya." (Hadits Sunan Ibnu Majah No. 1818 - Kitab Zakat)

Sedangkan menurut Dalil Ijma’, para ulama sepakat bahwa zakat fitrah itu hukumnya wajib. Sebagaimana Imam Ibnul Mundzir Rahimahullahu berkata, “Para ulama sepakat bahwa zakat fitrah hukumnya wajib. Mereka juga sepakat bahwa zakat fitrah diwajibkan kepada orang yang mampu menunaikannya untuk diri sendiri dan untuk anak-anaknya yang masih kecil yang tak bisa atau belum memiliki harta. Mereka pun sepakat mengenai wajibnya menunaikan zakat fitrah untuk hamba sahaya yang tinggal Bersama”. (al-Ijmaa karya Ibnul Mundzir, hal. 55)

 

C.   Tiga Syarat Wajib Zakat Fitrah

1.     Islam

Zakat fitrah wajib ditunaikan oleh setiap muslim, baik yang berstatus merdeka atau hamba sahaya, baik laki-laki maupun perempuan dan dewasa ataupun anak kecil.

Keterangan tersebut didasarkan pada Hadits

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَرَضَ زَكَاةَ الفِطْرِ مِنْ 

رَمَضَانَ عَلَى النَّاسِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أوْ صَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ عَلَى كُلِّ حُرٍّ أوْ عَبْدٍ ذَكَرٍ أوْ أنْثَى مِنَ 

الْمُسْلِمِيْنَأخرجه البخاري في صحيحه.

Artinya: “Bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mewajibkan zakat fitri dari bulan Ramadhan atas manusia satu sha dari kurma atau satu sha dari gandum bagi setiap umat muslim yang merdeka atau hamba sahaya, baik laki-laki maupun perempuan.” (HR. Al-Bukhari)

Iman Ibnu Qudamah berkata, “Kesimpulannya, zakat fitrah wajib atas setiap orang Islam, anak kecil maupun dewasa, laki-laki, maupun perempuan. Demikian pendapat semua ulama muslim. Zakat ini juga wajib atas anak yatim, wali si anak yang menunaikannya dari harta anak yatim tersebut, dan wajib atas hamba sahaya”. (al-Mughni karya Ibnu Qudamah, IV/284)

2.     Kaya atau Tidak Fakir

Artinya orang tersebut memiliki satu sha (makanan pokok) pada hari raya Idul Fithri dan malamnya, kelebihan dari makanan untuk dirinya dan orang-orang yang menjadi tanggungannya pada hari itu dan kelebihan kebutuhan pokoknya. (al-Kafi karya Ibnu Qudamah, I/168)

3.     Tiba Waktu Diwajibkannya

Yaitu ketika matahari tenggelam pada malam Idul Fithri. Hal ini didasarkan pada hadits Ibnu Umar.

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْمُرُ بِإِخْرَاجِ الزَّكَاةِ قَبْلَ الْغُدُوِّ لِلصَّلَاةِ يَوْمَ 

الْفِطْرِ

Artinya: "Dari Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam memerintahkan untuk membayar zakat fitrah sebelum berangkat (ke tempat shalat) pada hari raya idul fitri." (Hadits Jami' At-Tirmidzi No. 613 - Kitab Zakat)


Yakni, tatkala matahari tenggelam pada hari terakhir bulan Ramadhan. Siapa pun yang masuk Islam, menikahi seseorang atau dikaruniai anak setelah matahari terbenam, atau mati sebelum matahari terbenam (pada hari terakhir bulan itu), maka dia tidak wajib menunaikan zakat fitrah. Sebaliknya, jika ia mati setelah matahari terbenam, wajib ditunaikan zakat fitrahnya. Saat itu zakat fitrah sudah wajib dalam tanggungannya, sehingga kewajibannya itu tidak gugur karena kematiannya (atau kematiaan orang yang berada dalam tanggungannya). Kondisi ini seperti kafarat zhihar. (al-Kafi karya Ibnu Qudamah, hal. 2170)


D.     Hikmah Diwajibkannya Zakat Fitrah

Tak diragukan lagi, disyariatkannya zakat fitrah tentu mempunyai banyak hikmah. Diantaranya hikmah yang paling jelas dan terpenting adalah:

1.     Penyucian untuk orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan keji, sehingga zakat dapat menjadi penambal kekurangan pada ibadah puasanya di bulan Ramadhan, dan kebahagiaan hatinya menjadi sempurna.

2.     Memberi makan orang-orang miskin serta mencegah mereka meminta-minta pada hari Raya Idul Fithri serta membuat mereka Bahagia, maka hari raya Idul Fithri menjadi hari yang menggembirakan bagi tiap elemen masyarakat Islam.

3.     Menciptakan kebersamaan di antara seluruh muslimin, baik kaya maupun miskin pada hari itu, sehingga semua orang bias meluangkan waktu untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Alhasil, akan merasakan kebahagiaan serta kegembiraan atas limpahan nikmat ilahi. Dalam hadits Ibnu Abbas, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda:

((فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ 


وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ....))

Artinya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari bersenda gurau dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan orang miskin….”

4.     Memperoleh pahala yang besar lantaran menunaikan zakat pada waktunya kepada orang-orang yang berhak menerimanya.

Demikian yang dikemukaan pada lanjutan hadits dari Ibnu Abbas tersebut.

((....مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ))

Artinya: “….Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.” (HR. Abu Daud, no. 1609)

5.     Zakat fitrah merupakan zakat badan atau jiwa, sebagai karunia bahwa Allah masih menghidupkannya pada tahun itu. Oleh sebab itu, zakat fitrah ini diwajibkan terhadap orang dewasa, maupun anak-anak, laki-laki maupun perempuan, kaya maupun miskin, merdeka atau hamba sahaya, yang berfisik sempurna maupun cacat, dengan kadar yang sama, yaitu 1 sha (±4 mud).

6.     Sebagai ungkapan rasa syukur orang-orang yang puasa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena Allah memberi mereka kemampuan menyelesaikan kewajiban puasa. (Buku Ensiklopedi Zakat, hal 323-324)

        Dari sinilah, tampak jelas kelebihan ajaran Islam. Islam tidak melulu mengajarkan ritual seremonial ukhrawi, akan tetapi ia juga mencakup aspek ekonomi sosial duniawi. Bahkan konsep Islam itu tampak semakin sempurna karena secara erat menghubungkan antara satu rukun yang bersifat duniawi dan rukun lain yang bersifat ukhrawi. Satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisah-pisahkan. Seorang muslim tidak hanya dituntut supaya shalih secara spiritual, namun dia harus shalih juga secara sosial.

Semoga Bermanfaat. Aamiin....


Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar