Sejarah: Dakwah Salafiyah di Masa Kesultanan Sambas - LITERASI SAMBAS
News Breaking
Intro
wb_sunny

Breaking News

Sejarah: Dakwah Salafiyah di Masa Kesultanan Sambas

Sejarah: Dakwah Salafiyah di Masa Kesultanan Sambas

Oleh: Sambas Berhijrah


"DAKWAH SALAFIYAH DI MASA KESULTANAN SAMBAS"


Literasisambas.org - Berbicara mengenai dakwah salafiyah di Sambas, tidak lepas dari sosok Syaikh Basyuni Imran rohimahullah. Syaikh Basyuni Imran bernama lengkap Syaikh Muhammad Basyuni bin Muhammad Imran bin Muhammad Arif bin Imam Nuruddin bin Imam Mushthafa as-Sambasi. Beliau juga dikenal dengan "Mahraja Imam" yang merupakan gelar penghormatan oleh Sultan Sambas pada masa itu. Beliau dilahirkan pada tanggal 23 Zulhijjah 1300 H/25 Oktober 1883 M di Sambas, Kalimantan Barat, Indonesia dan merupakan pewaris terakhir gelar Mahraja Imam (gelar tertinggi pejabat urusan agama) di Kesultanan Melayu Sambas, Kalimantan Barat, Indonesia. 

Sejak kecil, Basyuni Imran belajar ilmu agama Islam kepada ayahnya Muhammad Imran dan belajar pengetahuan umum di Sekolah Rakyat (Volksschool) di tanah kelahirannya. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya ke Makkah dari tahun 1320 H/1902 M hingga tahun 1325 H/akhir tahun 1907 M. Beliau kemudian melanjutkan studinya di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, selama dua tahun (dari 1327 H/1909 M hingga 1329 H/1911 M). Setahun kemudian (1330 H/1912 M), Beliau pindah ke Madrasah Darud Da‘wah wal Irsyad, sebuah balai pendidikan yang didirikan oleh Sayyid Muhammad Rasyid Ridha, di Kairo, Mesir.

Pada tahun 1913, Basyuni Imran dipanggil keluarganya pulang ke Sambas, Kalimantan Barat, karena ayahnya menderita sakit keras. Selang beberapa bulan kemudian, Beliau dinobatkan sebagai penyandang gelar Mahraja Imam menggantikan ayahnya, Muhammad Imran, dengan tugas menangani urusan agama sekaligus menjadi qadhi dan mufti Kesultanan Sambas. Beliau aktif mengadakan ceramah umum seminggu sekali di Masjid Agung Jami' Sultan Muhammad Syafiuddiin II Sambas dengan menggunakan artikel tafsir dan tauhid karya Syaikh Rasyid Ridha (Ulama Ahlussunah Mesir) sebagai rujukan utamanya.

Tahun 1916, Basyuni Imran mendirikan madrasah modern “Madrasah Sulthaniyyah” yang dibiayai sepenuhnya oleh Sultan Sambas. Madrasah ini tampak berbeda dengan kebanyakan madrasah di Indonesia saat itu, karena pengajarannya menggunakan bahasa Arab dan semua mata pelajarannya tentang agama.

Basyuni Imran juga tercatat pernah terlibat aktif dalam kepengurusan Masyumi, meski kiprahnya di partai tersebut tidak dikenal secara luas. Selama bertugas menjadi qadhi dan mufti, serta aktif mengajar di madrasah Sultaniyyah, Basyuni Imran tidak pernah memiliki kesempatan untuk kembali lagi ke Mesir. Namun, kenyataan ini tidak menyurutkan tekadnya untuk terus mengikuti perkembangan pemikiran Islam bermanhaj salaf melalui Majalah Al-Manar.

Beliau konsisten berkorespondensi dengan gurunya, Rasyid Ridha, untuk bertanya tentang berbagai macam wacana. Salah satu pertanyaannya kepada Majalah Al Manar, yakni tentang “Mengapa umat Islam terbelakang sementara umat lain maju?”, langsung dijawab oleh Syakib Arsalan dalam bukunya yang terkenal “Limadza Ta‘akhkhara al Muslimun wa Limadza Taqaddama Ghairuhum” yang diterbitkan di Mesir.

Pengaruh pemahaman reformis yang dipelajari dari Rasyid Ridha sangat membekas pada diri Basyuni Imran. Beliau tercatat telah menerjemahkan dua karya Rasyid Ridha ke dalam bahasa Melayu, menulis tujuh buku berbahasa Melayu, dan dua buku berbahasa Arab. Buku-bukunya merupakan karya sederhana, tetapi semuanya merefleksikan sikap reformisnya. Misalnya, pada pendahuluan bukunya yang berjudul “Nur al-Siraj fi Qishshah al-Isra’ wa al-Mi‘raj”, Basyuni Imran mengemukakan bahwa penulisan buku ini bertujuan untuk mengevaluasi ceramah-ceramah yang disampaikan pada acara peringatan Isra dan Mi‘raj yang telah berlaku di kampungnya. Ia mengusulkan agar cerita-cerita yang disampaikan pada acara tersebut didasarkan pada hadis sahih.

Dalam karya Beliau yang lain “An Nushush wa al Barahin”, Basyuni Imran menceritakan adanya beberapa masjid di Sambas yang tidak digunakan untuk salat jum‘at karena jama‘ahnya kurang dari empat puluh orang (syarat minimal sahnya salat jum‘at menurut madzhab Imam Syafi‘i). Padahal, menurut pendapat Beliau, masjid-masjid tersebut hendaknya tetap dipergunakan salat jum‘at meskipun jama‘ahnya kurang dari empat puluh orang. Sebab shalat jum‘at tetap dianggap sah meskipun hanya diikuti oleh sedikit orang.

Syaikh Basyuni Imran sendiri wafat pada tanggal 29 Rajab 1396 H/26 Juli 1976 M. Semoga Allah merahmati Beliau. Dan gerakan pembaharuan yang telah dilakukan Beliau, sayangnya, tidak ada yang meneruskannya, karena tak ada seorang pun dari muridnya yang dapat menggali pemikirannya secara utuh, sehingga Sambas kembali menjadi wilayah yang jauh dari gerakan pembaharuan pemikiran Islam yang murni.

Dan beliau memiliki beberapa murid yang juga aktif menyampaikan dakwah, di antaranya Bapak Murtaba -rohimahullah- yg merupakan ayah kandung dari Ustadz Anhari Murtaba hafidzahullah (Imam Tetap Masjid Jami' Sambas).

 

📝 Akhukum fillah

Sumber: Admin FB @sambas berhijrah (Semoga Allah Merhmati Beliau)

Link Fb:

https://web.facebook.com/hashtag/semoga_allahmerhmatibeliau?__eep__=6&__cft__[0]=AZWl1vH6P__1FvatrBIRFAapoGeUwi_4bu70KilF6zeoAqBVwaxGKJF4Ug9fTbDj1YnakTmd5FQiHyrfBhY8oVyy5j-pqVkA54PEKZiDIh-gdCLVTAp0x8P1eDJOqxXl3LI&__tn__=*NK-R

 

Wallahu a’lam….

 

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar