Nasib Amalku? 2 Kunci Diterimanya Amal - LITERASI SAMBAS
News Breaking
Intro
wb_sunny

Breaking News

Nasib Amalku? 2 Kunci Diterimanya Amal

Nasib Amalku? 2 Kunci Diterimanya Amal

 Oleh: Usmul Hidayah

Literasisambas.org - Segala puji bagi Allah. Kepada-Nya kita memuji, meminta pertolongan, dan meminta ampunan. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa kami dan keburukan amaliah kami. Siapa saja yang Allah beri petunjuk, tiada seorang pun yang bisa menyesatkan. Sebaliknya siapa yang disesatkan-Nya, taka da seorangpun yang memberikannya petunjuk. Aku bersaksi tiada sesembahan yang hak selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah seorang hamba dan rasul-Nya.

Sesungguhnya diantara tanda Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikannya cinta dengan ilmu. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

Artinya: “Dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang di kehendaki Allah kebaikan padanya, niscaya Dia memahamkannya dalam agama." (Hadits Jami' At-Tirmidzi No. 2569 - Kitab Ilmu)

Di antara keagungan agama ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikannya adanya para imam yang memikul ilmu agama, yang menjelaskan kepada jalan menuju kebaikan, merekalah yang sangat dibutuhkan oleh orang yang menghadapi kebingungan dalam urusan agama mereka. Merekalah penyejuk hati bagi orang yang menghadapi prolematika kehidupan dan berusaha mencari solusi agamis, serta para pejuang yang memerangi jalan-jalan kesesatan yang selalu siap menyimpangkan umat ini.

Begitu juga dalam amal ibadah. Yang sudah tercampur antara ibadah dan adat, antara sunnah dan bid’ah, antara halal maupun haram. Belum lagi masalah aqidah dalam beragama, jika kita hanya belajar masalah fiqh saja tanpa mempelajari aqidah maka kita akan membenarkan semua aliran dalam agama bahkan mengatakan ambil yang baik dan buang yang buruknya. Padahal masalah aqidah yang dipegang oleh sahabat Rasulullah, bila hukumnya “A”, maka tetap “A”. Maka dari itu diperlukan guru atau imam yang benar-benar terjaga keilmuannya (ilmu syar’ie) dan aqidahnya.

Dalam hal ini, sudah seharusnya kita mengetahui amalan-amalan yang telah kita kerjakan, apakah sudah sesuai dengan ilmu (petunjuk) ataupun tidak? Karena sering kali kita temukan di sekitar kita banyak orang yang beramal tanpa mengetahui dasar ilmunya. Imam Bukhari rahimahullah berkata dalam kitabnya “Berilmu sebelum beramal”, beliau menafsirkan dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَاعْلَمْ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْۢبِكَ ࣖ

Artinya: “Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu”. (QS. Muhammad: 19)

Di ayat ini, Allah memulai perintahnya dengan: “ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah”, yang ini merupakan perintah untuk mencari ilmu. Kemudian Allah sebutkan amal yang sangat penting yaitu istighfar, sebagaimana Allah sebutkan di lanjutan ayat, yang artinya: “mintalah ampunan untuk dosamu.”

Ketika menjelaskan hadits ini, al-Hafidz al-Aini dalam kitab syarh shahih Bukhari mengutip perkataan Ibnul Munayir berikut: “Yang beliau maksudkan bahwasanya ilmu adalah syarat sah ucapan dan perbuatan. Ucapan dan perbuatan tidak akan dinilai kecuali dengan ilmu. Oleh sebab itu, ilmu didahulukan sebelum ucapan dan perbuatan. Karena ilmu yang akan men-sahkan niat, dan niat adalah yang mengsahkan amal”. (Umdatu al-Qori, Syarh Shahih Bukhari, al-Hafidz al-Aini, jilid 2, hal. 476).

Dari penjelasan ayat di atas, dapat kita simpulkan bahwa ilmu merupakan pokok utama dalam mengerjakan amal perbuatan terutama yang berkaitan dengan ibadah. Karena sesungguhnya dengan ilmu kita akan mengetahui, apakah ini perintah Allah atau bukan? Apakah ini sunnah Rasul atau bukan? Apakah ini wajib atau bukan? Dan lainnya. Yang pastinya dengan ilmu, wawasan kita akan bertambah.

Bukan hanya ilmu yang harus diperhatikan dalam beramal, melainkan ada kaitannya dengan diterimanya amal ibadah, yakni, keikhlasan dan sesuai tuntunan Rasul (ittiba’). Jika salah satu syarat saja yang terpenuhi, maka amalan ibadah menjadi tertolak.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا ࣖ

Artinya: “Barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. al-Kahf: 110)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh”, maksudnya adalah mencocoki syariat Allah (mengikuti petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam). Dan “Janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”, maksudnya selalu mengharap wajah Allah semata dan tidak berbuat syirik pada-Nya. Inilah dua rukun diterimanya ibadah, yaitu harus ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 9/205, Muassasah Qurthubah)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَإِلَى رَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَإِلَى رَسُولِهِ 

وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Artinya: "Saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya setiap amalan sesuai dengan niat, dan balasan bagi seseorang itu sesuai dengan apa yang di niatkannya. Maka barangsiapa hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya maka pahala hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa hijrahnya untuk dunia atau wanita yang akan di nikahinya, maka balasan hijrahnya sesuai dengan tujuan hijrahnya tersebut." (Hadits Sunan Ibnu Majah No. 4217 - Kitab Zuhud)

Hadits lain yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Artinya: “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Dalam Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Hadits ini adalah hadits yang sangat agung mengenai pokok Islam. Hadits ini merupakan timbangan amalan zhohir (lahir). Sebagaimana hadits ‘innamal a’malu bin niyat’ [sesungguhnya amal tergantung dari niatnya] merupakan timbangan amalan batin. Apabila suatu amalan diniatkan bukan untuk mengharap wajah Allah, pelakunya tidak akan mendapatkan ganjaran. Begitu pula setiap amalan yang bukan ajaran Allah dan Rasul-Nya, maka amalan tersebut tertolak. Segala sesuatu yang diada-adakan dalam agama yang tidak ada izin dari Allah dan Rasul-Nya, maka perkara tersebut bukanlah agama sama sekali.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 77)

Di kitab yang sama, Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Suatu amalan tidak akan sempurna (tidak akan diterima) kecuali terpenuhi dua hal:

1)     Amalan tersebut secara lahiriyah (zhohir) mencocoki ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini terdapat dalam hadits ‘Aisyah ‘Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.’

2)     Amalan tersebut secara batininiyah diniatkan ikhlas mengharapkan wajah Allah. Hal ini terdapat dalam hadits ‘Umar ‘Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niat’.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 20)


Setelah kita mengetahui dalil wajibnya ikhlas dan ittiba’ dalam beramal, langkah selanjutnya adalah mengetahui apa itu ikhlas dan ittiba’, agar kita memahami makna tersebut.

1.          Ikhlas

Ikhlas artinya kita berbuat dan melakukan apa pun hanya dengan niat untuk meraih ridha Allah, bukan untuk apa pun dan bukan untuk siapa pun. Ikhlas adalah kunci diterimanya ibadah dan bentuk-bentuk amal kebajikan. Meski besar nilainya di mata manusia, amal tersebut tidak ada artinya di mata Allah bila tidak dibarengi dengan keikhlasan. Namun, sekecil apa pun kebajikan itu di mata manusia, bila dibarengi dengan niat ikhlas, ia sangat besar nilainya di hadapan Allah.

2.          Ittiba’

Sedangkan ittiba’ adalah (mengikuti) kebenaran adalah kewajiban setiap manusia sebagaimana Allah wajibkan setiap manusia agar selalu ittiba’ kepada wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya. Allah jadikan wahyu tersebut sebagai petunjuk bagi manusia di dalam kehidupannya.

Ittiba’ adalah menempuh jalan orang yang (wajib) diikuti dan melakukan apa yang dia lakukan. (I’Iamul Muwaqqi’in 2/171) Seorang muslim wajib ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dengan menempuh jalan yang beliau tempuh dan melakukan apa yang beliau lakukan. Begitu banyak ayat Al-Qur’an yang memerintahkan setiap muslim agar selalu ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, di antaranya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ 

اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا ࣖ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. an-Nisa’: 59)

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ , لَوْ أَنَّ مُوسَى كَانَ حَيًّا , مَا وَسِعَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِي

Artinya: “Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya seandainya Musa hidup maka tidak boleh baginya kecuali mengikutiku”. (Dikeluarkan oleh Abdur Razzaq dalamMushannafnya 6/Fl 3, lbnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya 9/47, Ahmad dalam Musnadnya 3/387, dan lbnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan Ilmi 2/805, Syaikh Al-Albani berkata dalam Irwa’ 6/34, “Hasan”)

Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata, “Jika Musa Kalimullah tidak boleh ittiba’ kecuali kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bagaimana dengan yang lainnya? Hadits ini merupakan dalil yang qath‘i atas wajibnya mengesakan Nabi Shallallahu alaihi wasallam dalam hal ittiba’, dan ini merupakan konsekuensi syahadat ‘anna Muhammadan rasulullah”, karena itulah Allah sebutkan dalam ayat di atas (Ali lmran/3: 31) bahwa ittiba’ kepada Rasulullah bukan kepada yang lainnya adalah dalil kecintaan Allah kepadanya”. (Muqaddimah Bidayatus Sul fi Tafdhili Rasul, hal. 5-6)

Demikian juga Allah memerintahkan setiap muslim agar ittiba’ kepada sabilil mukminin yaitu jalan para sahabat Rasulullah dan mengancam dengan hukuman yang berat kepada siapa saja yang menyeleweng darinya:

وَمَنْ يُّشَاقِقِ الرَّسُوْلَ مِنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدٰى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهٖ مَا تَوَلّٰى وَنُصْلِهٖ جَهَنَّمَۗ وَسَاۤءَتْ مَصِيْرًا ࣖ

Artinya: “Dan barangsiapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka Jahanam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. an-Nisa’: 115)

Diantara perintah mereka (4 imam mazhab) kepada para pengikutnya agar selalu ittiba’:

1.         Al-Imam Abu Hanifah berkata, “Tidak halal atas seorangpun mengambil perkataan kami selama dia tidak tahu dari mana kami mengambilnya” Dalam riwayat lain beliau berkata, “Orang yang tidak tahu dalilku, haram atasnya berfatwa dengan perkataanku”. (Dinukil oleh Ibnu Abidin dalam Hasyiyahnya atas Bahru Raiq 6/293 dan Sya’ rany dalam Al-Mizan 1/55)

2.         Al-Imam Malik berkata: “Sesungguhnya aku adalah manusia yang bisa benar dan keliru. Lihatlah pendapatku, setiap yang sesuai dengan Kitab dan Sunnah maka ambillah, dan setiap yang tidak sesual dengan Kitab dan Sunnah maka tinggalkanlah”. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam Al-Jami’ 2/32)

3.         Al-Imam Asy-Syafi’i berkata, “Jika kalian menjumpai sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, ittiba’lah kepadanya, janganlah kalian menoleh kepada perkataan siapapun”. (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’ 9/107 dengan sanad yang shahih)

Beliau juga berkata, “Setiap yang aku katakan, kemudian ada hadits shahih yang menyelisihinya, maka hadits Nabi, lebih utama untuk diikuti. Janganlah kalian taqlid kepadaku”. (Diriwayatkan olehAbu Hatim dalamAdab Syafi’i hal.93 dengan sanad yang shahih)

4.         Al-Imam Ahmad berkata, “Janganlah.engkau taqlid dalam agamamu kepada seorangpun dari mereka, apa yang datang dari Nabi dan para sahabatnya ambillah” Beliau juga berkata, “Ittiba’ adalah jika seseorang mengikuti apa yang datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya”. (Masa’iI Al-Imam Ahmad oleh Abu Dawud hal.276- 277)

 

SEBAB-SEBAB MUNCULNYA AMALAN TANPA TUNTUNAN

1.    Tidak memahami dalil dengan benar.

2.   Tidak mengetahui tujuan syari’at.

3.   Menganggap suatu amalan baik dengan akal semata.

4.   Mengikuti hawa nafsu semata ketika beramal.

5.   Berbicara tentang agama tanpa ilmu dan dalil.

6.   Tidak mengetahui manakah hadits shahih dan dho’if (lemah), mana yang bisa diterima dan tidak.

7.   Mengikuti ayat-ayat dan hadits yang masih samar.

8.   Memutuskan hukum dari suatu amalan dengan cara yang keliru, tanpa petunjuk dari syari’at.

9.   Bersikap ghuluw (ekstrim) terhadap person tertentu. Jadi apapun yang dikatakan panutannya (selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), ia pun ikuti walaupun itu keliru dan menyelisih dalil. (Disarikan dari Al Bida’ Al Hauliyah, ‘Abdullah bin ‘Abdil ‘Aziz bin Ahmad At Tuwaijiri, hal. 37-68, Darul Fadhilah, cetakan pertama, 1421 H)

Sungguh sangat berbahaya dalam hidup, jika apa yang kita kerjakan ternyata amal tersebut tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena tidak sesuai dengan tuntunan Rasul. Seorang ulama mengatakan, baiknya hati tergantung baiknya amal. Baiknya amal tergantung keikhlasan.

Mengapa banyak orang yang beramal kelihatannya, tapi hatinya tidak begitu baik? Dia salat, dia saum, dan dia sedekah, tapi tetap sombong, dengki, dan ujub. Dia baca Quran, dia banyak amalnya, dia menolong orang, dan dia dakwah. Tapi kenapa hatinya tidak berubah? Penyebabnya adalah niatnya yang bisa merusak amal. Amal merusak hati. Jadi diterimanya amal itu, sebelum ittiba' kepada Rasulullah, adalah ikhlas. "Sesungguhnya amal itu tergantung niat...." (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Wallahu‘alam

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

 

 

 

 

 

 

 

 

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar