Khutbah Jum'at Edisi Spesial Ramadhan: Ramadhan akan Berlalu, Mana Tangisan Itu? - LITERASI SAMBAS
News Breaking
Intro
wb_sunny

Breaking News

Khutbah Jum'at Edisi Spesial Ramadhan: Ramadhan akan Berlalu, Mana Tangisan Itu?

Khutbah Jum'at Edisi Spesial Ramadhan: Ramadhan akan Berlalu, Mana Tangisan Itu?

 Oleh: Usmul Hidayah

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللَّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ كَمَا قَالَ تَعَالَى:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

إِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

Jamaah Shalat Jum’at yang dirahmati Allah

Literasisambas.org - Puji syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala nikmat dan karunia-Nya, karena kita masih diberikan nikmat hidup dan nikmat sehat, untuk merasakan Ramadhan hadir dihadapan kita serta diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri, untuk bertobat, memohon ampun dan lebih memaksimalkan ibadah puasa yang mungkin tahun kemaren belum bisa memaksimalkannya. Banyak diantara kita yang diberi nikmat hidup dan sehat tetapi tidak sempat bahkan sibuk dengan urusan dunia sehingga ia melupakan ibadah puasa dan dengan sengaja meninggalkannya bahkan dianggap biasa-biasa saja, sehingga ia menjadi orang yang “Merugi dan Celaka” di akhirat nanti, Naudzubillah.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Pencipta dan Pemelihara alam semesta. Tiada henti Allah melimpahkan rahmat dan nikmat-Nya kepada seluruh hamba-Nya, kepada kita semua. Pada jum’at ini di bulan Ramadhan, ternyata kita yang masih terpilih oleh Allah, menjalani Ramadhan hingga akhir. Dan bahkan sekian banyak orang yang ingin hidup pada bulan Ramadhan, tapi 1 bulan, 1 minggu, 1 hari menuju Ramadhan ternyata sudah dipanggil terlebih dahulu oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka dari itu, syukurilah nikmat ini, karena tidak semua orang bisa mendapatkannya. Jika kita menemukan dan mendapatkan nikmat khusus yang tidak mungkin kita dapatkan pada Ramadhan berikutnya, maka rumusnya, Maksimalkan ibadah ramadhan ini dan jangan sekali-kali tinggalkan shalat teraweh dan ibadah-ibadah lainnya”. Semoga kita termasuk orang-orang yang diringankan langkah kita untuk menuju Rumah Allah dan mendapatkan gelar orang-orang yang bertaqwa, diterima taubatnya dan mendapatkan ampunan dari Allah serta diselesaikan masalah dalam kehidupan kita, bulan yang mulia ini, dan bulan seterusnya.

Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada suri teladan ummat Baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassallam. Dengan perjuangan dan pengorbanan pula, Beliau telah berhasil menancapkan sendi-sendi iman dan tauhid di dada umatnya, kepada keluarga dan sahabatnya serta pengikut-pengikutnya yang telah melanjutkan tongkat estafet dan komando kepemimpinan, sambung menyambung, sehingga hasilnya bisa kita nikmati yaitu nikmat iman dan nikmat islam sampai saat ini. Pada kesempatan hari yang mulia ini, Khatib membawa judul khutbah yakni Ramadhan akan Berlalu, Mana Tangisan Itu?.

 Jamaah Shalat Jum’at yang dirahmati Allah

Bulan Ramadhan adalah bulan kemuliaan, bulan keberkahan, bulan ampunan dan bulan dimana bulan yang sangat dinanti-nantikan kehadirannya bagi orang-orang yang beriman. Bulan Ramadhan adalah moment untuk meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menampilkan ibadah terbaik dan penuh dengan keikhlasan menjalanan ibadah tersebut dengan menahan haus dan lapar. Semoga ibadah kita diterima oleh Allah dan menjadikan kita hamba yang bersyukur lagi bertaqwa. Dalam Firman-Nya yang disandingkan dengan perintah puasa,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS. Al-Baqarah: 183)

Dengan banyaknya keutamaan dan kenikmatan bulan Ramadhan, tidak terasa sebentar lagi kita akan ditinggalkan oleh Bulan Yang Mulia tersebut. Sebuah ketenangan dan kedamaian dalam mendekatkan diri pada-Nya kini mulai terasa sirna. Terus? Bagaimana dengan kondisi kita sekarang? Cobalah lihat diri kita. Apa yang telah kita lakukan di bulan Ramadhan tahun ini? Amalan ibadah apa yang patut kita banggakan tahun ini? Akankah iman kita semakin meningkat atau malah sebaliknya? Itu semua hanya kita sendiri dan Allah yang mengetahuinya. Apakah aku termasuk di dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, yang sabdanya,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

Artinya: “Dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Celakalah seseorang, Bulan Ramadhan menemuinya kemudian keluar sebelum ia mendapatkan ampunan." (Hadits Jami' At-Tirmidzi No. 3468 - Kitab Do'a)

Ibnu Rajab menukil perkataan Salaf, Barangsiapa yang tidak diampuni dosa-dosanya di bulan Ramadhan, maka tidak akan diampuni dosa-dosanya di bulan-bulan lainnya.” [Latha-if Al-Ma’arif, hal. 297]

Jamaah Shalat Jum’at yang dirahmati Allah

Jika kita perhatikan pada awal datangnya Ramadhan ini, seluruh umat Muslim gembira akan kedatangannya. Hal ini terlihat dari banyaknya umat Muslim menyambut kedatangannya dengan membeli perlengkapan untuk sahur, berbuka, bahkan mengajak sanak saudara untuk berkumpul menyambut kedatangannya. Banyak umat Muslim yang melakukan shalat berjama’ah di dalam masjid untuk sekedar mengerjakan shalat sunah (tarawih dan witir). Hampir seisi ruangan masjid penuh oleh mereka yang antusias menyambut dan menjalankan ibadah kepada Allah.

Tapi, saat penghujuang Ramadhan, perlahan demi perlahan, satu per satu, semua mulai kembali pada semula. Di mana orang-orang mulai meninggalkan masjid. Tempat makan mulai penuh, dengan alasan reunian sehingga melupakan kewajiban atau melupakan saat awal ramadhan tiba. Di penghujuang Ramadahan, pasar mulai penuh, dengan alasan mempersiapkan menyambuat hari kemenangan dengan membeli pakaian baru dan lainnya. Tetapi ia lupa dengan hati dan imannya, apakah sudah diperbaharui? Sedangkan amal itu tergantung diperhujungnya (akhir). Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

        Artinya: “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari, No. 6607)

Az-Zarqani dalam Syarh Al-Muwatha’ menyatakan bahwa amalan akhir manusia itulah yang jadi penentu dan atas amalan itulah akan dibalas. Siapa yang beramal jelek lalu beralih beramal baik, maka ia dinilai sebagai orang yang bertaubat. Sebaliknya, siapa yang berpindah dari iman menjadi kufur, maka ia dianggap murtad.

Dan dikuatkan oleh perkataan yang diriwayatkan dari Ka’ab bin Mâlik Radhiyallâhu anhu, bahwa beliau (Bisyr al-Hâfî rahimahullâhu - salah satu sahabat dan murid Fudhail bin Iyadh), berkata: “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan, lalu terbetik di dalam hatinya apabila Ramadhan telah berlalu maka ia tidak akan memaksiati Allah, maka ia akan masuk surga tanpa perlu meminta dan hisab. Namun barangsiapa berpuasa Ramadhan, lalu ia berniat di dalam hatinya apabila Ramadhan berlalu, maka ia akan memaksiati Rabb-nya, maka puasanya tertolak”. (Lathâ’if al-Ma’ârif hal. 136-137)

Jamaah Shalat Jum’at yang dirahmati Allah

Ulama terdahulu menangis tersedu-sedu meninggalkan Ramadhan, mereka menangis karena khawatir tidak maqbul-nya amalan dalam Ramadhan, serta takut Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memberikan kesempatan untuk Ramadhan yang akan datang. Maqbul tidaknya amalan dalam Ramadhan akan terlihat ketika Ramadhan berlalu, tantangan besar justru datang usai Ramadhan, tantangan dalam mempertahankan amalan yang telah dibiasakan dalam Ramadhan. Mempertahankan amalan yang telah dibiasakan dalam Ramadhan tentu bukanlah hal mudah, apalagi dengan tantangan dan rintangan yang selalu menghadang di depan.

Ibnu Rajab Al Hanbali dalam Kitab Lathaif Al Ma’arif menceritakan bahwa Wahb bin al-Ward melihat suatu kelompok manusia tertawa riang di Hari Raya, beliau mengatakan, “Jika mereka termasuk orang yang diterima ibadah puasanya, pantaskah tertawa itu sebagai wujud rasa syukurnya? Jika mereka termasuk orang yang ditolak ibadah puasanya, pantaskah tertawa itu sebagai wujud rasa takut mereka” (Lathâ’if al-Ma’ârif hal. 209). Di sisi lain, siapa hati yang tidak akan gembira ketika waktu berbuka puasa telah tiba (Idul Fitri), apalagi dengan menghayati segala halang rintang ketika berpuasa.

 Jamaah Shalat Jum’at yang dirahmati Allah

Apakah saat kemenangan (Hari Raya Idul Fitri) telah tiba, kita tidak boleh bergembira? Tidak bolehkah memakai pakaian yang terbaik atau baru? Tentu jawabannya adalah boleh saja. Pensyariatan hari raya merupakan rahmat Allâh Azza wa Jalla kepada umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dijelaskan dalam hadits dari Anas, beliau berkata:

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَ لِأَهْلِ الْمَدِينَةَ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقَالَ قَدِمْتُ 

عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ قَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ النَّحْرِ وَيَوْمَ الْفِطْرِ

Artinya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam datang dan penduduk Madinah kala itu memiliki dua hari yang mereka gunakan untuk bergembira di masa jahiliyah, lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku telah mendatangi kalian dan kalian memiliki dua hari yang kalian gunakan untuk bergembira di masa jahiliyah. Sungguh Allah Azza wa Jalla telah menggantikan untuk kalian dua hari yang lebih baik dari itu; yaitu hari Nahr (‘Idul Adh-ha) dan hari Fithr (‘Idul Fithri).” (Dikeluarkan oleh Abu Daud dalam bab Shalat al-Îdain (1/675/1134), al Nasaa’I (3/179) dan Ahmad (3/103))

Imam Maalik rahimahullah berkata, “Saya mendengar para Ulama bahwa memakai minyak wangi dan berhias pada setiap hari raya itu disunnahkan”. (Al-Mughni 3/257)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu untuk keluar pada dua hari raya memakai pakaian terbaiknya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu memiliki hullah (pakaian khusus) yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam kenakan untuk dua hari raya dan Jum’at, terkadang mengenakan dua baju burd berwarna hijau dan kadang mengenakan satu pakaian burd berwarna merah.” (Zâd al-Ma’âd 1/441)

Jamaah Shalat Jum’at yang dirahmati Allah

Namun, janganlah kebahagian kita itu menyebabkan kita lupa diri, lupa bahwa kita termasuk dalam golongan yang mana, diterima ibadah puasa kita atau sebaliknya. Apalagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan bahwa Iblis akan melancarkan serangan besar-besaran dalam rangka mengotori kefitrahan yang telah diraih manusia dengan berpuasa dalam Ramadhan. Mari merenung seraya berdoa, semoga kita termasuk orang-orang yang diterima amalan dalam Ramadhan, semoga pula kebaikan kita akan selalu terjaga dan terpelihara hingga maut menjemput kita.

Sebagai penutup khutbah ini, salah satu para salaf dalam memaknai hari Ied, Ibnu Rojab berkata: “Ied itu bukanlah bagi orang yang berpakaian baru, namun Ied itu adalah bagi orang yang bertambah ketaatannya. Ied itu bukanlah bagi orang yang menghias pakaian dan kendaraannya, namun Ied itu adalah bagi orang yang diampuni dosa-dosanya. Di malam Ied, dibagikan pembebasan dan ampunan bagi para hamba, maka barangsiapa yang meraihnya maka ia mendapatkan Ied, dan siapa yang tidak memperolehnya maka ia terusir jauh.” [Lathâ’if al-Ma’ârif hal. 277]

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ



Khutbah ke-2 

أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

اَمَّا بَعْدُ : فَيَااَ يُّهَاالنَّاسُ !! اِتَّقُوااللهَ تَعَالىَ. وَذَرُوالْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَوَمَابَطَنْ. وَحَافِظُوْاعَلىَ الطَّاعَةِ 

وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ. وَاعْلَمُوْااَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالىَ 

وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاًعَلِيْمًا: اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. 

وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ 

قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، 

وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، 

وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ 

لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

 

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى

عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ, يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.

فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

 

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar