Khutbah Idul Fitri 1441 H/2021 M Spesial: Hari Kemenanganku Telah Tiba, Apakah Aku sudah Kembali Fitri (Suci)? - LITERASI SAMBAS
News Breaking
Intro
wb_sunny

Breaking News

Khutbah Idul Fitri 1441 H/2021 M Spesial: Hari Kemenanganku Telah Tiba, Apakah Aku sudah Kembali Fitri (Suci)?

Khutbah Idul Fitri 1441 H/2021 M Spesial: Hari Kemenanganku Telah Tiba, Apakah Aku sudah Kembali Fitri (Suci)?

 Oleh: Usmul Hidayah


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh….

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا 

أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

اللهُ أَكْبَرُ - اللهُ أَكْبَرُ - اللهُ أَكْبَرُ - اللهُ أَكْبَرُ - اللهُ أَكْبَرُ - اللهُ أَكْبَرُ - اللهُ أَكْبَرُ  اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ 

وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Hadirin Shalat Idul Fitri yang Berbahagia

Literasisambas.org - Puji syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala nikmat dan karunia-Nya, karena kita masih diberikan nikmat hidup dan nikmat sehat, sehingga kita bisa menyelesaikan ibadah puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan. Saat ini, Idul Fitri hadir dihadapan kita, tidak dipungkiri perasaan kita tadi malam, pasti merasakan senang, gembira bahkan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata saking senangnya, saat mendengar suara takbir di pengeras suara masjid dan di sekeliling kita.

Dan sejak pagi hari setelah shalat shubuh dan saat matahari terbit kita semua mengucapkan takbir, tahmid dan tahlil, mengagungkan Asma Allah secara bersamaan sebagai tanda rasa syukur, senang dan haru menyambut hari kemenangan. Di pagi hari yang indah ini kita berkumpul bersama, bersimpuh dihadapan-Nya, untuk mengerjakan shalat idul fitri berjama’ah dan mendengarkan sepenggal ilmu untuk menambah pengetahuan serta mengevaluasi diri setelah menjalani Puasa Ramadhan, apakah diri ini, benar-benar sudah kembali ke fitri (suci) dan pantaskah untuk merayakan hari kemenangan dalam melawan makan dan minum, hawa nafsu dan lainnya yang bisa membatalkan puasa.

Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada suri teladan ummat, yakni Nabi Besar, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassallam. Dengan perjuangan dan pengorbanannya, Beliau telah berhasil menancapkan sendi-sendi iman dan tauhid di dada umatnya, kepada keluarga dan sahabatnya serta pengikut-pengikutnya yang telah melanjutkan tongkat estafet dan komando kepemimpinan, sambung menyambung, sehingga hasilnya bisa kita nikmati yaitu nikmat iman dan nikmat Islam sampai saat berbahagia ini. Pada kesempatan yang berbahagia, Khatib akan membawa judul khutbah yakni “Hari Kemenanganku Telah Tiba, Apakah Aku sudah Kembali Fitri (Suci)?”. 

Hadirin Shalat Idul Fitri yang Berbahagia

اللهُ أَكْبَرُ - اللهُ أَكْبَرُ - أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Sudah lebih dari satu tahun kita dilanda musibah pandemi Covid-19, sudah banyak yang tertulari baik di tanah air maupun di seluruh negara di atas bumi dan erjuta orang telah wafat karena wabah tersebut. Dampak dari wabah ini sangat luarbiasa, bukan hanya kepada derajat kesehatan, tetapi juga berakibat kepada aspek kehidupan lain secara menyeluruh. Selain ekonomi yang hancur, juga relasi sosial terganggu dan kehidupan keagamaan juga banyak yang menyesuaikan dengan keadaan. Untuk itu tetaplah kita waspada, berikhtiar semaksimal mungkin untuk menjaga diri kita dan keluarga agar tidak terkena terlalu jauh dari dampak musibah ini. Tetap mematuhi protokol kesehatan yang telah diperintahkan oleh pemerintah setempat maupun pemerintah pusat, agar kita semua bisa memberikan rasa aman antar sesama.

Hadirin Shalat Idul Fitri yang Berbahagia

اللهُ أَكْبَرُ - اللهُ أَكْبَرُ - أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Sungguh bulan yang penuh berkah telah berakhir, dan kini kita tengah diselimuti kebahagiaan, yaitu kebahagiaan Hari Raya Idul Fitri, yang telah dijadikan Allah sebagai Hari Raya bagi umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallama. sebagaimana dijelaskan dalam hadits dari Anas, Beliau berkata:

قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ قَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ النَّحْرِ 

وَيَوْمَ الْفِطْرِ

Artinya: “Aku telah mendatangi kalian dan kalian memiliki dua hari yang kalian gunakan untuk bergembira di masa jahiliyah. Sungguh Allah Azza wa Jalla telah menggantikan untuk kalian dua hari yang lebih baik dari itu; yaitu hari Nahr (‘Idul Adh-ha) dan hari Fithr (‘Idul Fithri).” (Dikeluarkan oleh Abu Daud dalam bab Shalat al-Îdain (1/675/1134), al Nasaa’I (3/179) dan Ahmad (3/103))

Hari kebahagiaan dan kemenangan telah hadir di hadapan kita. Sebelum ia hadir, kita semua pasti menjalani segala rintangan, menahan rasa haus, menahan rasa lapar bahkan menahan rasa gerah saat merasakan panasnya matahari di siang hari. Saat rintangan itu datang tetapi kita tetap semangat dalam melaksanakannya, baik shalat wajib maupun sunnah, membaca al-Qur’an di siang maupun di malam hari walaupun rasa ngantung menghadiri. Begitu juga banyak film atau acara tv yang menggoda, akan tetapi kaki kita tetap melangkah ke masjid melaksanakan shalat tarawih berjama’ah dari awal Ramadhan sampai garis finish. Sungguh itu semua dilakukan untuk memaksimalkan ibadah puasa sebagai wujud rasa syukur kepada Allah dan ingin mendapatkan gelar orang-orang yang bertaqwa dikemudian hari.

Firman Allah Subahanahu wa Ta’ala:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS. Al-Baqarah: 183)

Hadirin Shalat Idul Fitri yang Berbahagia

اللهُ أَكْبَرُ - اللهُ أَكْبَرُ - أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Hari kemenangan telah tiba, mungkin sebagian kita bahkan semua telah mempersiapkannya dengan sebaik-baik mungkin. Tidak dipungkiri dengan pakaian, kendaraan bahkan penampilan, semuanya diupgrade atau serba baru. Apakah itu dibolehkan agama dalam rangka merayakan hari kemenangan? Tentu jawabannya adalah boleh-boleh saja. Di dalam buku Ahkamu Al’ Iidaini Fii Al Sunnah Al Muthahharah, Ibnul Qayyim berkata dalam Zadul Ma’ad, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memakai pakaiannya yang paling bagus untuk keluar (melaksanakan shalat) pada hari Idul Fitri dan Idul Adha. Beliau memiliki perhiasan yang biasa dipakai pada dua hari raya itu dan pada hari Jum’at.”

Pertanyaan bagi kita semua, apakah hati dan iman kita ikut diperbaharui? Apakah selama ibadah puasa, hati kita jujur dalam melaksanakannnya? Apakah ibadah kita ada perubahan dalam arti peningkatan? Apakah ibadah yang dijalankan saat Ramadhan bisa tetap istiqomah setelahnya? Inilah yang harus lebih diperhatikan dan dievaluasi, agar kita bisa memperbaiki di bulan-bulan berikutnya dan semoga kita semua dipanjangkan umur untuk bertemu lagi di Bulan Ramadhan berikutnya dan bisa lebih memaksimalkan ibadah-ibadah yang mungkin tertinggal. Aamiin….

Hadirin Shalat Idul Fitri yang Berbahagia

اللهُ أَكْبَرُ - اللهُ أَكْبَرُ - أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Setelah kita mengetahui beberapa amalan di bulan Ramadhan yang kita kerjakan, sudah selayaknya ia kembali dalam keadaan bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya bersih dari dosa. Az Zuhri berkata, “Ketika hari raya Idul Fithri, banyak manusia yang akan keluar menuju lapangan tempat pelaksanaan shalat ‘ied, Allah pun akan menyaksikan mereka. Allah pun akan mengatakan, “Wahai hambaku, puasa kalian adalah untuk-Ku, shalat-shalat kalian di bulan Ramadhan adalah untuk-Ku, kembalilah kalian dalam keadaan mendapatkan ampunan-Ku.” Ulama salaf lainnya mengatakan kepada sebagian saudaranya ketika melaksanakan shalat ‘ied di tanah lapang, “Hari ini suatu kaum telah kembali dalam keadaan sebagaimana ibu mereka melahirkan mereka.” (Lathaif Al Ma’arif, hal. 366). Dikatakan demikian karena sungguh amat banyak pengampunan dosa di bulan Ramadhan.

Dari sini, seharusnya setelah Idul Fitri, seorang muslim bisa menjadi lebih baik. Ibadah yang biasa rutin dijaga di bulan Ramadhan berusaha terus dirutinkan semisal menjaga shalat jama’ah (bagi pria), berusaha terus shalat malam dan giat berpuasa sunnah. Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah menjadikan ajal (waktu akhir) untuk amalan seorang mukmin selain kematiannya.” Lalu Al Hasan membaca firman Allah (yang artinya), “Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin (yakni ajal).” (QS. Al Hijr: 99) (Lathaif Al Ma’arif, 392). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah bahwa amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang berlanjut walaupun sedikit.” (HR. Muslim).

Hadirin Shalat Idul Fitri yang Berbahagia

اللهُ أَكْبَرُ - اللهُ أَكْبَرُ - أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Para ulama terdahulu begitu semangat untuk menyempurnakan amalan mereka, kemudian mereka berharap-harap agar amalan tersebut diterima oleh Allah dan khawatir jika tertolak. Merekalah yang disebutkan dalam firman Allah (yang artinya), “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut.” (QS. Al Mu’minun: 60)

Ibnu Diinar mengatakan, “Tidak diterimanya amalan lebih kukhawatirkan daripada banyak beramal.” Abdul Aziz bin Abi Rawwad berkata, “Saya menemukan para sahabat begitu semangat untuk melakukan amalan sholih. Apabila telah melakukannya, mereka merasa khawatir apakah amalan mereka diterima ataukah tidak.” Sebagian ulama sampai-sampai mengatakan, “Para terdahulu biasa memohon kepada Allah selama enam bulan agar dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan. Kemudian enam bulan sisanya, mereka memohon kepada Allah agar amalan mereka diterima.”

Hadirin Shalat Idul Fitri yang Berbahagia

اللهُ أَكْبَرُ - اللهُ أَكْبَرُ - أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Itulah kekhawatiran para salaf. Mereka begitu khawatir kalau-kalau amalannya tidak diterima. Namun berbeda dengan kita yang amalannya begitu sedikit dan sangat jauh dari amalan para salaf. Kita begitu “pede” dan yakin dengan diterimanya amalan kita. Sungguh, teramatlah jauh antara kita dengan mereka (Lathaif Al Ma’arif, 368-369).

Di akhir khutbah ini saya ingin mengajak hadirin sekalian marilah kita tetap teguh dalam keislaman, walaupun dalam suasana prihatin. Kita tetap istiqomah tidak terbawa arus dan terombang ambing oleh kehidupan sekeliling kita. Perumpaman yang bagus dan hikmah yang sederhana kita ambil dari kehidupan ikan di lautan, mereka hidup dan berada dalam air yang rasanya asin tetapi tidak menyebabkan dirinya asin, selama ikan itu hidup badanya bisa menetralisir pengaruh luar.

Semoga kita selalu mendapat lindungan dari Allah, selalu sehat, selamat dan barakah. Semoga Allah menerima segala amal ibadah kita dan memaafkan segala dosa dan kesalahan kita, serta membimbing terus supaya kita berada di jalan yang benar jalan orang orang yang diridhai Allah bukan jalan orang yang sesat dan dimurkai Allah.

Semoga perjumpaan dengan Idul Fithri ini, kita mendapatkan dua kebahagiaan, yaitu bahagia ketika berbuka dan bahagia ketika berjumpa kelak dengan Allah dalam keadan yang fitri (suci) dan mendapatkan surga yang tertinggi yakni surga firdaus. Aamiin ya Rabbal’alamiin….

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


 

Khutbah ke Dua

 

أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَنَا مُحَمَّدٌ عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Do'a

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا 

الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ 

عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا

اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُم تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُم  تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُم

عِيْدُكُمْ مُبَارَكٌ وَعَسَاكُمْ مِنَ العَائِدِيْنَ وَالفَائِزِيْنَ

كُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

 

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh….

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar