Kerasnya Hati Berawal dari Harta Haram? Ini Penjelasnnya - LITERASI SAMBAS
News Breaking
Intro
wb_sunny

Breaking News

Kerasnya Hati Berawal dari Harta Haram? Ini Penjelasnnya

Kerasnya Hati Berawal dari Harta Haram? Ini Penjelasnnya

Oleh: Usmul Hidayah

Literasisambas.org - Hati adalah tempat berlabuhnya berbagai perasaan, tumbuh kembang antara kebaikan dan keburukan. Hati juga menjadi sumber inspirasi dan permasalahan, tempat lahirnya rasa cinta dan kebencian, serta muara bagi keimanan dan kekufuran. Hati juga sumber kebahagian jika sang pemiliknya mampu membersihkan berbagai macam kotoran yang melekat di dalamnya, namun sebaliknya ia merupakan sumber bencana jika sang empunya gemar mengotorinya dengan perbuatan dosa.

Dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

Artinya: “Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)”. (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Hati yang kotor hanya akan menyebabkan kapasitas diruangnya menjadi pengap, sumpek, gelap, bahkan rusak. Bagaimana Hati Bisa Rusak? Syaikh Sholih Al Fauzan mengutarakan bahwa rusaknya hati adalah dengan terjerumus pada perkara syubhat, terjatuh dalam maksiat dengan memakan yang haram. Bahkan seluruh maksiat bisa merusak hati, seperti dengan memandang yang haram, mendengar yang haram. Jika seseorang melihat sesuatu yang haram, maka rusaklah hatinya. Jika seseorang mendengar yang haram seperti mendengar nyanyian dan alat musik, maka rusaklah hatinya. Hendaklah kita melakukan sebab supaya baik hati kita. Namun baiknya hati tetap di tangan Allah. Lihat Al Minhah Ar Robbaniyah, hal. 110.

Jika sudah rusak maka seluruh komponen juga akan turut rusak akan hal-hal kebaikan. Mata tidak senang melihat orang ke masjid, mata risih melihat majelis ta’lim. Telinga bisa mendengar tapi tidak membuat hati tersentuh dengan suara azan. Mulut tidak senang berbicara hal-hal hikmah, dan apabila diberi nasehat, malah diajak berdebat. Dalam makna yang sama, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menegaskan: “Amalan badan tidak akan diterima tanpa perantara amalan hati. Karena hati adalah raja, sedangkan anggota badan ibarat prajuritnya. Bila Sang Raja buruk, maka akan buruk pula seluruh prajuritnya.” (Majmu’ Al Fatawa, 11/208).

Baik atau buruknya hati sangat menentukan kualitas kehidupan seorang muslim. Bahkan Hadits sendiri menjelaskan bahwa apabila segumpal darah itu baik maka baiklah manusia, dan apabila ia buruk maka buruklah manusia itu dan segumpal darah yang dimaksud ialah hati. Jadi, hati bisa mengarahkan manusia ke Syurga atau ke Neraka. Sebab itu, sehingga kita perlu selalu menjaga hati dan merawatnya agar tidak gelap dengan kotoran/dosa, salah satu cara merawat hati adalah memperhatikan halal dan haram sumber pendapatan kita atau jangan memakan harta haram. Yang dimaksud dengan harta haram, yaitu setiap harta yang didapatkan dari jalan yang dilarang syari’at.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

Artinya: “Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 168)

Petaka buruk yang akan menimpa mereka adalah api neraka dengan harta haram yang setiap saat mereka masukkan ke dalam perut mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengatakan dalam haditsnya yang shahih,

يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ إِنَّهُ لاَ يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلاَّ كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ

Artinya: Wahai Ka’ab bin ‘Ujrah, sesungguhnya tidaklah tumbuh setiap daging yang diberi asupan makanan yang haram melainkan nerakalah yang berhak membakarnya.” (HR. Ahmad dan at-Tirmizi, dinyatakan shahih oleh al-Albani).

Seorang manusia yang hidup di abad modern ini, dituntut untuk mengumpulkan dan menumpuk harta sebanyak-banyaknya agar bisa hidup layak dan tenang menghadapi masa depan keluarganya dan anak cucunya. Memang benar apa yang disabdakan oleh Rasulullah, pada akhir zaman nanti orang-orang tidak peduli lagi dari mana harta dia dapatkan. Sebagaimana sabdanya:

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِى الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ ، أَمِنْ حَلاَلٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ

Artinya: Akan datang suatu zaman di mana manusia tidak lagi peduli dari mana mereka mendapatkan harta, apakah dari usaha yang halal atau yang haram.” (HR. Bukhari no. 2083, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

Akhirnya ada yang jadi budak dunia. Pokoknya dunia diperoleh tanpa pernah peduli aturan. Inilah mereka yang disebut dalam hadits,

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ وَالْقَطِيفَةِ وَالْخَمِيصَةِ ، إِنْ أُعْطِىَ رَضِىَ ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ

Artinya: “Celakalah wahai budak dinar, dirham, qothifah (pakaian yang memiliki beludru), khomishoh (pakaian berwarna hitam dan ada bintik-bintik merah). Jika ia diberi, maka ia rida. Jika ia tidak diberi, maka ia tidak rida.” (HR. Bukhari, no. 2886, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

Lantas Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Inilah yang namanya budak harta-harta tadi. Jika ia memintanya dari Allah dan Allah memberinya, ia pun rida. Namun ketika Allah tidak memberinya, ia pun murka. ‘Abdullah (hamba Allah) adalah orang yang rida terhadap apa yang Allah ridai, dan ia murka terhadap apa yang Allah murkai, cinta terhadap apa yang Allah dan Rasul-nya cintai serta benci terhadap apa yang Allah dan Rasul-Nya benci.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 10:190)

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah mengisyaratkan bahwa baiknya amalan badan seseorang dan kemampuannya untuk menjauhi keharaman, juga meninggalkan perkara syubhat (yang masih samar hukumnya, -pen), itu semua tergantung pada baiknya hati. Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 210. Para ulama katakan bahwa walaupun hati (jantung) itu kecil dibandingkan dengan bagian tubuh yang lain, namun baik dan jeleknya jasad tergantung pada hati. (Lihat Syarh Muslim, 11: 29).Para ulama katakan bahwa hati adalah malikul a’dhoo (rajanya anggota badan), sedangkan anggota badan adalah junuduhu (tentaranya). Lihat Jaami’ul ‘Ulum, 1: 210. Para ulama berselisih pendapat mengenai maksud baiknya hati, salah satu yang dimaksud baiknya hati adalah rasa takut pada Allah dan siksanya. (Syarh Al Arba’in, hal. 68-69.)

Rasa takut kepada Allah yakni dengan menghindari dari perkara yang diharamkan oleh Allah, misalnya menghindari dari harta haram dan semisalnya, (lihat QS. al-Baqarah: 168)

Jika makanan yang haram semakin banyak yang masuk ke dalam tubuh kita, maka semakin tertutup mata hatinya. Telinga juga begitu, mendengar suara azan telinganya biasa saja, dinasehati malah marah-marah. Jika benda haram yang masuk ke dalam tubuh kita, maka menutupi fungsi-fungsi kebaikan di dalam dirinya. Jika sudah begini, mohon di renungi diri kita masing-masing di rumah, kata Nabi: Do’anya tidak akan pernah terkabulkan dan puncak penyakit hati ada di situ. Na’uzdubillah

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّباً، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ المُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ المُرْسَلِيْنَ فَقَالَ {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ 

الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا} وَقَالَ تَعَالَى {يَا أَيُّهَا الذِّيْنَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ 

يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌوَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ 

بِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَه

Artinya: “Sesungguhnya Allah Ta’ala itu baik (thayyib), tidak menerima kecuali yang baik (thayyib). Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada kaum mukminin seperti apa yang diperintahkan kepada para Rasul. Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal shalih.’ (QS. Al-Mu’minun: 51). Dan Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepadamu.’ (QS. Al-Baqarah: 172). Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan seseorang yang lama bepergian; rambutnya kusut, berdebu, dan menengadahkan kedua tangannya ke langit, lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, wahai Rabbku.’ Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia dikenyangkan dari yang haram, bagaimana mungkin doanya bisa terkabul.” (HR. Muslim, no. 1015)

Jika sumber pendapatan kita haram, maka makanan kita akan ikut haram, minuman kita ikut haram, pakaian kita pun akan ikut haram. Jika seseorang memasukan yang haram dalam mulutnya maka yang haram ini akan masuk ke dalam tubuhnya, dibawa oleh darah, itu yang menyebabkan kemudian ia masuk ke mata jadi penyakit mata, masuk ke telinga jadi penyakit telinga. Bahkan yang paling berbahaya masuk ke dalam hati, itu bisa menutup hati sehingga menjadi penyakit hati, itu yang paling fatal. Maka turunlah Ayat al-Qur’an, QS. al-Baqarah ayat 7:

خَتَمَ اللّٰهُ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ وَعَلٰى سَمْعِهِمْ ۗ وَعَلٰٓى اَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَّلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ ࣖ

Artinya: “Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup dan bagi mereka siksa yang Amat berat”.

Tafsir Al-Mukhtashar/Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram), maksudnya karena Allah telah menyegel dan menutup hati mereka beserta kebatilan yang ada di dalamnya. Allah juga menutup telinga mereka sehingga tidak bisa mendengarkan kebenaran untuk diterima dan diikuti. Allah juga menutup mata mereka sehingga tidak bisa melihat kebenaran yang sangat jelas di hadapan mereka. Kelak di akhirat mereka akan mendapatkan azab yang sangat berat.

Sedangkan menurut Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir/Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah:

خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ

Yakni mereka adalah orang-orang yang tidak memahami makna hidayah dan tidak mau mendengarkan apa yang bermanfaat bagi mereka yang disebabkan kebencian mereka terhadap kebenaran dan terhadap orang yang membawa kebenaran.

وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ

Yakni penutup yang menghalangi menglihatan mereka untuk melihat kebenaran. Ibnu Jarir berkata: sesungguhnya dosa-dosa itu jika dilakukan terus menerus maka akan menutup hati, sehingga tertutup jalannya dan kekufuran yang ada didalamnya tidak bisa keluar.

Dari penjelasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa orang tidak tidak dapat menerima petunjuk, dan segala macam nasehatpun tidak akan berbekas padanya. Mereka tidak dapat memperhatikan dan memahami ayat-ayat al-Quran yang mereka dengar dan tidak dapat mengambil pelajaran dari tanda-tanda kebesaran Allah baik di alam semesta, di permukaan bumi dan pada diri mereka sendiri. Apa yang menyebabkan ini terjadi, karena Mata Hatinya terkena penyakit. Mata hati yang tugasnya untuk merespon apa yang dilihat oleh mata fisik, tapi dalam hal ini ia tidak bisa memberikan nilai, tidak bisa memberikan respon. Inilah efek dari makanan yang haram, masuk ke dalam dirinya itu menutup Penglihatan Hatinya.

Mata fisiknya bisa melihat, tapi tidak ada pencegahan/tidak ada respon dalam hatinya. Bila matanya melihat hal yang buruk-buruk tapi mata hatinya tidak protes karena tertutup oleh kotoran/dosa. Ia santai saja, melihat tayangan buruk, melihat gambar-gambar jelek, suara azan tidak tersentuh, yang paling berbahaya kalau terus-terusan ini terjadi suara hatinya akan mati dan inilah awal mula melahirkan maksiat.

Sebagai kesimpulan, Sebagai muslim kita harus senantiasa terus mampu membedakan antara harta yang halal dan haram, serta menjauhkan diri dari harta yang haram tersebut karena efeknya yang sangat besar bagi hati kita yaitu membuat hati gelap, sementara jika hati gelap maka ia akan menggiring manusia menuju berbagai keburukan lainnya. Pesan untuk kita semua, jangan pernah membawa benda yang haram di dalam kehidupan keluarga kita. Apabila kita membawa rezeki yang haram di dalam rumah kita, dimasak oleh ibu/istri dan dimakan bukan satu atau dua orang, tapi bisa banyak orang, seperti anak kita dan yang lainnya. Dan setidaknya kita memakan makanan yang haram dan diterapkan kepada anak kita dan ini sangat berbahaya. Bukan hanya menghambat kecerdasan anak tersebut, tetapi berbahaya menghambat keimanannya dan kedekatannnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jika kita ingin terbebas dari penyakit hati maka jangan sampai ruang-ruang penangkap informasi ini seperti mata, telinga, mulut dan yang lainnya digunakan untuk menangkap yang buruk-buruk yang dilarang oleh syari’at atau dilarang oleh al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

 

Allahua’lam….

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar