Biografi Singkat al-Imam Asy-Syafi'i dan Karyanya yang Terkenal - LITERASI SAMBAS
News Breaking
Intro
wb_sunny

Breaking News

Biografi Singkat al-Imam Asy-Syafi'i dan Karyanya yang Terkenal

Biografi Singkat al-Imam Asy-Syafi'i dan Karyanya yang Terkenal

 Oleh: Usmul Hidayah



Biografi Singkat al-Imam Asy-Syafi’i

Literasisambas.org - Sesungguhnya diantara tanda Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikannya cinta dengan ilmu. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

Dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa dikehendaki Allah untuk mendapat kebaikan, maka Allah akan memberikan pemahaman kepadanya tentang agama." (Hadits Sunan Ibnu Majah No. 216)

Diantara keagungan agama ini Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan adany imam yang memikul ilmu agama, yang menjelaskan kepada umat tentang urusan agama. Merekalah cahaya yang menerangi jalan menuju kebaikan, merekalah yang sangat dibutuhkan oleh orang yang menghadapi kebingungan dalam urusan agama mereka. Merekalah penyejuk hati bagi orang yang menghadapi problematika kehidupan dan berusaha mencari solusi agamis, serta para pejuang yang menerangi jalan-jalan kesesatan yang selalu siap menyimpangkan umat ini. Merekalah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan umat untuk bertanya kepada mereka dalam firman-Nya:

فَسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَۙ

Terjemah Kemenag 2002

Artinya: “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. an-Nahl: 43)

Banyak para imam umat ini yang kita banggakan, tetapi di antara mereka ada empat imam yang tersohor, yaiktu para pendiri empat madzhab. Mereka itu adalah al-Imam Abu Hanifah, al-Imam Malik bin Anas, al-Imam Asy-Syafi’I dan al-Imam Ahmad bin Hanbal.

Meskipun ada madzhab-madzhab fiqh yang lain, tetapi keempat madzhab inilah yang diterima secara luas dalam dunia Islam hingga saat ini. Bahkan sebagian negeri dikenal dengan madzhab tertentu. Madzhab Syafi’ie misalnya, banyak tersebar di negeri-negeri Asia Tenggara. Madzhab Maliki banyak tersebar di negara-negara Afrika. Madzhab Hanafi banyak tersebar di India, Pakistan, Bangladesh, dan Afganistan, ddan juga di China. Adapun Madzhab Hanbali banyak tersebar di negeri-negeri Arab, khususnya Arab Saudi. (Ajaran Madzhab Asy-Syafi’I yang Ditinggalkan, hal. 12)

Di antara  keempat imam tersebut yang sangat cemerlang adalah al-Imam Asy-Syafi’i. Beliaulah pendiri dan pemraksasa madzhab Syafi’I yang merupakan madzhab yang banyak dianut dibumi pertiwi nusantara ini.

1.       Biografi al-Imam Syafi’i

Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Idris bin al-‘Abbas bin ‘Utsman bin Syaafi’ bin as-Saaib bin ‘Ubaid bin’Abd Yaziid bin Haasyim bin al-Muthallib bin ‘Abdi Manaaf, sehingga nasab beliau bermuara kepada Abdu Manaaf kakek buyut Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Al-Muthallib adalah saudaranya Hasyim, ayahnya Abdul Muthallib kakek Nabi Muhammad dan kepada Syafi’ bin as-Saaib penisbatan al-Imam Asy-Syafi’i. (Lihat Siyar A’laam An-Nubalaa 10/5-6 dan Thabaqaat Asy-Syafi’iyah Al-Kubra 2/71-72)

Dilihat dari jalur nasabnya, maka nasab Imam as-Syafi’i ini begitu mulia, apalagi garis keturunan beliau menyambung dengan nasab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu pada kakek beliau; Abdi Manaf bin Qushay. Maka para ulama setidaknya menyebut ada dua keutamaan yang ada pada nasab Imam asy-Syafi’i, yaitu;

Pertama, tentu saja karena beliau berasal dari suku Quraisy. Sebuah keutamaan yang tidak dimiliki oleh imam madzhab yang lain seperti Imam Abu Hanifah, Malik bin Anas dan Ahmad bin Hanbal. Dari sahabat Abi Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Manusia adalah para pengikut suku Quraisy. Kaum muslimnya mengikuti kaum muslim Quraisy, pun dengan orang kafirnya juga mengikuti orang kafir Quraisy. (Sahih Al-Bukhari. 4/178. No 3495)

Syaikh Mustafa Dieb al-Bugha mengomentari, maksud hadits ini adalah karena suku Quraisy merupakan pemimpin yang mula-mula, dan orang-orang pada waktu itu wajib untuk menaati mereka dalam hal kepemimpinan.

Kedua, karena beliau seorang Muththolibi yaitu berasal dari Bani Muththolib. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang termasuk Bani Hasyim bersabda: “Sesungguhnya Bani Hasyim dan Bani Muththolib adalah satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. (Sahih Al-Bukhari. 4/179. No 3502)

Berpegang dengan hadits ini, Imam al-Baihaqi menyimpulkan bahwa jika seseorang bersholawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan keluarganya (Bani Hasyim) maka sholawat dan doa itu juga mengalir ke anak keturunan Bani Muththolib. (Manaqib Asy-Syafi’i. Al-Baihaqi. 1/43-4)

Al-Imam Asy-Syafi’I memiliki kunyah Abu Abdillah, akan tetapi lebih dikenal dengan sebutan Imam asy-Syafi’i, yang diambil dari nama kakek beliau, daripada nama kunyah beliau. Berbeda dengan Imam Abu Hanifah yang lebih dikenal dengan nama kunyahnya ini daripada nama asli beliau yaitu; an-Nu’man bin Tsabit.

Meskipun nenek moyang beliau suku Quraisy di Mekah, tetapi beliau tidak lahir di Mekah, karena ayah beliau Idris merantau di Palestina. Sehingga beliau dilahirkan di Ghaza (Palestina) dan ada yang mengatakan bahwa beliau lahir di ‘Asqalan pada tahun 150 Hijriyah, tahun di mana wafatnya al-Imam Abu Hanifah an-Nu’man bin Tsabiit al-Kuufi. Bahkan ada pendapat yang mengatakan di hari wafatnya al-Imam Abu Hanifah.

Adapun Ibu dari Imam asy-Syafi’i, maka para ulama ahli sejarah umumnya menyebutkan bahwa beliau berasl dari suku Azd. Adapun namanya, sebagaimana disebutkan oleh Imam al-Baihaqi, adalah Fatimah binti Ubaidillah bin al-Hasan bin al-Husain bin Ali bin Abi Tholib. Namun riwayat ini disebut oleh Imam al-Fakhrurrozi sebagai riwayat yang syad (lemah).

Terlepas dari perbedaan para ulama dalam menyebut nama Ibu dari Imam asy-Syafi’i dan juga pepatah yang mengatakan ‘apalah arti sebuah nama’, ada hal yang penting untuk kita perhatikan sekaligus membuat takjub adalah bagaimana beliau berjuang merawat, mendidik dan memotivasi Imam asy-Syafi’i kecil untuk menuntut ilmu dengan situasi yang begitu sulit kala itu hingga beliau berhasil menjadi seorang Imam Besar kaum muslimin di kemudian hari. Padahal Imam asy-Syafi’i telah yatim sejak kecil, juga beliau tidak terlahir dalam sebuah lingkungan keluarga akademis meskipun ibunda beliau sangat konsen dan mencintai ilmu. Juga sulitnya kondisi ekonomi keluarga beliau yang tergolong orang yang miskin. (Wildan Jauhari, Biografi Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, hal. 7-8)

Ayah beliau Idris meninggal dalam keadaan masih muda, hingga akhirnya Imam Asy-Syafi’I dipelihara oleh ibunya dalam kondisi yatim. Karena khawatir terhadap anaknya, sang ibu membawa beliau yang masih berumur 2 tahun ke kampung halaman aslinya, yaitu Mekah. Beliau pun tumbuh berkembang di Mekah dalam kondisi yatim. Beliau menghafal al-Qur’an pada saat berusia 7 tahun, dan menghafal kitab al-Muwaththa’  karya Imam Malik pada saat berumur 10 tahun. Ini menunjukkan betapa cerdasnya al-Imam Asy-Syafi’i.

Beliau pun belajar dari para ulama Mekah, diantaranya Muslim bin Khalid az-Zanji al-Makky yang telah memberikan ijazah kepada al-Imam Asy-Syafi’I untuk boleh berfatwa, padahal umur beliau masih 15 tahun. Lalu setelah itu beliau bersafar ke Madinah dan berguru bertahun-tahun kepada al-Imam Malik bin Anas.

Pada tahun 195 H, beliau pergi ke Baghdad dan mengajar di sana sehingga banyak ulama yang berputar haluan dari madzhab ahli ra’yu menuju madzhab Syafi’i. Di Baghdad beliau banyak menulis buku-buku lama beliau, setelah itu beliau pun kembali ke Mekah. Pada tahun 198 H beliau kembali lagi ke Baghdad dan menetap di sama selama sebulan. Kemudian beliau pergi ke Mesir dan menetap di sana meneruskan dakwah beliau. (Ajaran Madzhab Asy-Syafi’I yang Ditinggalkan, hal. 13)

 

2.       Guru al-Imam Asy-Syafi’i

Adapun guru-guru al-Imam Asy-Syafi’I, adalahDari banyaknya para guru yang mulia itu, berikut penulis kedepankan beberapa nama guru yang paling berpengaruh dalam membentuk pondasi keilmuan yang kokoh serta akhlak mulia yang menghiasi diri Imam asy-Syafi’i, diantaranya:

a.      Sufyan bin Uyainah

Beliau adalah Sufyan bin Uyainah bin Maimun Abu Muhammad al-Kufi al-Makki. Lahir di Kufah tahun 107 H dan wafat di Mekkah pada tahun 198 H. Seorang Tabiut Tabi’in yang menjadi guru besar di kota Mekkah dalam bidang hadis dan ilmunya. Sekaligus seorang rowi terpercaya yang disepakati para ulama. (Tahdzib Siyar A’lam An-Nubala. Adz-Dzahabi. 1/301)

b.      Muslim bin Kholid az-Zanji

Nama lengkap beliau adalah Muslim bin Kholid bin Muslim al-Qurasyi al-Makhzumi. Berasal dari negeri Syam. Seorang syaikh dan mufti kota Mekkah di zamannya. Lebih banyak mempelajari dan mengajarkan fikih daripada hadis. Beliau wafat pada tahun 179 H di Mekkah. (Tahdzib Siyar A’lam An-Nubala. Adz-Dzahabi. 1/282)

c.       Imam Malik bin Anas

Beliau adalah Imam Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir al-Ashbahi. Memiliki kunyah Abu Abdillah. Imamnya kota Madinah, pendiri dan pencetus madzhab Maliki. Lahir pada tahun 93 H di Madinah dan wafat di tempat yang sama tahun 179 H.

d.      Muhammad bin al-Hasan Asy-Syaibani

Lahir di kota Wasit tahun 132 H. tumbuh dan berkembang di kota Kufah kemudian pindah ke Baghdad dan akhirnya wafat di kota Ray tahun 189 H. menimba ilmu pertama kali kepada Imam Abu Hanifah kemudian bermulazamah kepada muridnya; Imam Abu Yusuf. Sempat juga menimba ilmu kepada Imam Malik bin Anas. Sepeninggal Abu Yusuf, tidak ada yang lebih faqih di wilayah Irak melebihi Muhammad bin al-Hasan. Memiliki banyak karya tulis yang menjadi rujukan utama dalam kajian madzhab hanafi, diantaranya adalah kitab Zhohir ar-Riwayat.

e.       Waki’ bin Al-Jarrah

Nama lengkap beliau Waki’ bin al-Jarrah bin Mulih bin Adiy al-Kufi. Memiliki kunyah Abu Sufyan. Seorang imam hadis di kalangan tabiut tabiin. Lahir di kota Kufah tahun 129 H. memiliki beberapa karya dalam bidang tafsir, hadis, dan sejarah. wafat pada tahun 197 H. (Tahdzib Siyar A’lam An-Nubala. Adz-Dzahabi. 1/317)

Imam asy-Syafi’i mengambil dan meriwayatkan hadis dari beliau. Dan sebuah syair yang masyhur mengenai gurunya yang mulia ini;

Aku mengeluh kepada Waki mengenai buruknya hafalanku

Ia menunjukiku agar meninggalkan perbuatan maksiat

Tersebab ilmu ialah cahaya

Dan cahaya Allah tak diberikan pada pelaku maksiat (Tawali at-Ta’sis. Ibnu Hajar al-Asqolani. Hal 145)

f.    Abdul Wahab bin Abdul Majid ats-Tsaqofi

Beliau lahir pada tahun 110 H dan wafat tahun 194 H pada usia 84 tahun. Seorang ahli hadis terpercaya yang hadisnya diriwayatkan oleh Imam asy-Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal. (Tahdzib At-Tahdzib. Ibnu Hajar. 3/504)

g.   Ismail bin Ibrahim Al-Bashri

Beliau seorang ulama hadis kenamaan yang berasal dari Kufah. lahir pada tahun 110 H dan wafat tahun 193 H.

 

3.       Karya al-Imam Asy-Syafi’i

Ada segudang karya yang telah dihasilkan oleh pena Imam asy-Syafi’i. Secara umum, kitab-kitab karya Imam asy-Syafi’i dapat dipetakan menjadi dua kelompok besar yaitu: fase Irak; adalah karya beliau yang ditulis dalam rentang waktu antara tahun 195 – 199 H, yang kemudian disebut sebagai qoul qadim. Fase Mesir; yaitu karya beliau yang dtulis dalam rentang tahun 200-204 di Mesir. Yang nantinya lebih dikenal sebagai qoul jadid Imam asy-Syafi’i dan pada umumnya Imam asy-Syafi’i tidak memberi nama secara spesifik pada karya-karya yang telah berhasil ditelurkannya. Diantara karya-karya beliau yang masyhur ialah:

a.      Al-Hujjah

Adalah sebuah kitab fiqih madzhab syafi’i. Al-Hasan az-Za’farani menamakannya al-Hujjah. Tersebab kitab ini adalah sebagai hujjah atau dalil pendapat-pendapat Syafi’iyah dalam membantah pendapat ahli ro’yi dari kalangan fuqaha Irak. (Al-Imam Asy-Syafi’i Fi Madzhabaihi Al-Qadim Wa Al-Jadid. Ahmad Nahrawi Al-Indunisiy. Hal 712)

b.      Ar-Risalah

Diantara keistimewaan kitab ini ialah merupakan kitab pertama yang ditulis tentang kaidah-kaidah ushul fikih. Beliau menulis buku tersebut atas permintaan Abdurrahman bin Mahdi. Beliau menulis surat kepada asy-Syafi’i agar beliau membuat sebuah buku yang mencakup makna-makna al-Qur’an dan mencakup ilmu-ilmu hadis, kehujjahan ijmak, serta nasikh dan mansukh dari al-Qur’an dan hadis.

Dari korespondensi via surat menyurat itulah akhirnya terkumpul tulisan dan dibukukan menjadi kitab ar-Risalah. Maka atas jasa besar Imam asySyafi’i inilah Abdurrahman bin Mahdi berkata, “Tidaklah aku sholat kecuali aku mendoakan Imam asy-Syafi’i dalam sholatku tersebut”. (Tariikh Baghdaad. 2/64-65)

c.       Al-Umm

Kitab ini adalah cerminan fase akhir dari kematangan ijtihad asy-Syafi’i setelah perjalanan panjangnya dalam mencari ilmu, menggali, berdebat, berdiskusi, dan merenung di Hijaz, Irak dan Mesir. Kitab ini juga termasuk kitab asy-Syafi’i yang paling terakhir ditulis. Secara singkat bisa disebutkan bahwa kitab al-Umm ini adalah representasi nyata dari madzhab jadid Imam asy-Syafi’i.

Adapun isi kitab al-Umm, menurut Syaikh Rif’at Fauzi (seorang muhaqiq terkenal asal Mesir) mengandung lima poin pembahasan; pertama, furu’ fikih, yakni pembahasan fikih rincian terkait halal-haram dan hukum berbagai perbuatan maupun benda. Ini adalah bagian terbesar kitab al-Umm. Dua, ushul fikih seperti pembahasan kitab ar-Risalah. Tiga, fikih muqoron (fikih perbandingan) seperti pembahasan kitab Ikhtilaf Malik wa Asy-Syafi’i, Ikhtilaf Abu Hanifah Wa Ibni Abi Laila. Empat, Ayat-ayat hukum dan tafsirnya yang disebutkan oleh Imam asy-Syafi’i sebagai dalil atas hukum fikih yang digalinya. Lima, Hadis-hadis dan atsar hukum dengan sanad bersambung sebagai dalil pembahasan hukumyang disebutkan.

Dan yang menarik untuk dicata ialah bahwa menurut penelitian Syaikh Rif’at Fauzi, kitab ar-Risalah yang berbicara mengenai ushul fikih itu adalah bagian dari kitab al-Umm, bukan sebuah kitab independen yang terpisah. (Wildan Jauhari, Biografi Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, hal. 29-30)

d.      Musnad Imam Asy-Syafi’i

Kitab Musnad Imam asy-Syafi’i ialah kumpulan hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan atsar sahabat yang diriwayatkan oleh Imam Syafi’i yang disusun oleh seorang ahli hadis Abu al-Abbas al-Ashom (w 346 H). Beliau menyusun kitab ini berdasarkan riadiy dari Imam asy-Syafi’i.

Karya Imam asy-Syafi’i tidaklah terbatas hanya pada empat kitab yang penulis sebutkan diatas. Melainkan hanya sebagai contoh diantara karya Sang Imam yang begitu banyak. Yaquth ar-Rumi al-Hamawi menyebutkan total karya Sang Imam berjumlah 147 kitab. (Mu’jam Al-Udaba’. Yaquth bin Abdillah Ar-Rumu Al-Hamawi. 17/324)

 

4.       Wafatnya Imam Asy-Syafi’i

Imam asy-Syafi’i adalah seorang yang betul-betul tahu bagaimana dan untuk apa waktu itu dihabiskan. Hampir-hampir setiap detik dan menit dalam hidupnya digunakan dalam amal-amal positif dan produktif, seperti merampungkan karya-karya ilmiahnya, dan memberi pengajaran kepada murid-murid kinasihnya dalam berbagai halaqah. Kiranya jadwal beliau yang sangat padat itulah yang membuat kesehatan beliau terus menurun.

Sebagian sejarawan mengatakan bahwa di akhir hayatnya, Imam asy-Syafi’i menderita penyakit ambeien yang akut. Hingga tak jarang murid-murid beliau melihat darah mengalir dari tubuh beliau saat menaiki hewan tunggangannya atau saat duduk mengajar di majlis ilmu. Bercak darah itu mereka dapati membekas pada pelana kuda dan kursi tempat duduk beliau.

Namun begitu, Imam asy-Syafi’i ialah orang setegar karang. Beliau ridha dan ikhlas dengan segala ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang ditakdirkan untuknya. Sabar dalam menghadapi setiap kesulitan hidup dan cobaan yang silih berganti. Selalu mengharap balasan yang baik atas sakit yang dideritanya selama ini.

Saat tergolek lemah di tempat pembaringannya, Imam asy-Syafi’i meminta kepada muridnya Yunus bin Abdil A’la dengan berkata lirih, “Wahai Yunus, bacakanlah untukku surat Ali Imran ayat seratus dua puluh ke atas. Perlahan saja, tidak perlu cepat-cepat.” Yunus pun melakukan permintaan gurunda mulia. Selepas mendaras al-Quran sesuai permohonan Sang Imam dan mulai beranjak akan berpamitan, Sang Guru yang berbudi luhur itu berkata kepada Yunus, “Jangan lupakan aku. Sebab, aku tengah menghadapi ajal.” (Biografi Lima Imam Madzhab, Imam Syafi’i. Muchlis Hanafi. Hal 244)

Imam as-Syafi’i Sang Imam Madzhab, Penolong Sunnah, Penopang Hadis menghembuskan nafasnya yang terakhir pada malam jum’at di akhir bulan Rajab tahun 204 H/819 M dalam usia 52 tahun. Jasad beliau dikebumikan di wilayah Fusthat di Mesir. Radhiyallahu ‘anhu.

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar