Aku Bertanya: Apa itu kalimat Mengerjakan Perintah-Nya, Menjauhi Larangan-Nya - LITERASI SAMBAS
News Breaking
Intro
wb_sunny

Breaking News

Aku Bertanya: Apa itu kalimat Mengerjakan Perintah-Nya, Menjauhi Larangan-Nya

Aku Bertanya: Apa itu kalimat Mengerjakan Perintah-Nya, Menjauhi Larangan-Nya

 Oleh: Usmul Hidayah


Aku Bertanya: Apa itu Kalimat "Mengerjakan Perintah-Nya, Menjauhi Larangan-Nya"?

Literasisambas.org - Kalimat itu bukanlah sebuah kalimat yang hanya tersimpan dalam otak kita, yang tersimpan hanya untuk hiasan pikiran kita. Kalimat tersebut mempunyai makna yang begitu besar buat orang-orang mencari keridhoan ilahi. Seharusnya kalimat itu kita sadari dan fahami secara radian (meluas). Sadar dalam arti kita malu jika tidak mengerjakan apa yang diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan malu jika kita melanggar Larangan-laranganNya.

Janganlah terlalu banyak bertanya dengan kalimat tersebut, karena sesungguhnya akan membuat kita bingung dan menyelisihi apa yang diperintahkan. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam,

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ 

فَاجْتَنِبُوْهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلاَفُهُمْ 

عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ.

Artinya: “Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apa saja yang aku larang terhadap kalian, maka jauhilah. Dan apa saja yang aku perintahkan kepada kalian, maka kerjakanlah semampu kalian. Sesungguhnya apa yang membinasakan umat sebelum kalian hanyalah karena mereka banyak bertanya dan menyelisihi Nabi-nabi mereka.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhâri dan Muslim)

Kita tidak sadar bahwa kita hanya Malu pada manusia dan kita merasa terhindar dari penglihatan manusia dan kita tidak pernah menyadari bahwa kita dalam pengawasan Allah Subhanahu wa Ta’ala sepanjang masih bernafas, 24 jam Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu mengawasi kita tanpa tertinggal 1 detik pun apa yang telah kita lakukan. Dia maha Melihat apa yang telah kita lakukan baik terang terangan maupun sembunyi sembunyi, baik perilaku akan kebaikan kita maupun kejahatan kita, selalu dipantau dan diperhatikan oleh-Nya.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

Artinya: “Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Baqarah: 233)

Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah ketika menerangkan ayat, “Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.”. Ia menerangkan bahwa Allah itu melihat apa yang manusia kerjakan, tidak ada yang samar dalam ilmu Allah. Allah mengetahui semuanya dari segala sisi. Allah yang menjaga dan mengingat amalan mereka, sampai nantinya akan memberikan hukuman. Bashiir berasal dari mubshir yaitu yang melihat, lalu diubah mengikuti wazan fa’iil. Sebagaimana musmi’ (yang mendengar) menjadi samii’, siksa yang pedih (mu’lim) menjadi aliim (sangat pedih), mubdi’ as-samaawaat (pencipta langit) menjadi badii’, dan semisal itu. (Sya’nu Ad-Du’aa’, hlm. 60-61. Lihat An–Nahju Al-Asma’ fi Syarh Asma’ Allah Al-Husna, hlm. 164)

Lalu tanyalah hati Anda? Apakah pantas, apakan pantas diri ini mendapatkan surga-Nya? Apakah pantas kita mendapat Surga-Nya dengan keadaan sekarang ini? Kita sadar bahwa kita itu tak pantas mendapatkan semua itu jika dalam keadaan sekarang ini penuh dosa dan noda. Berlumur dosa baik di sengaja maupun yang tidak kita sengaja, baik terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi.

Dan kita pula menyadari bahwa diri kita ini sangat takut akan Azab-Nya, takut akan Neraka-Nya, dan kita mengetahui tempat itu dimiliki oleh orang-orang yang selalu melanggar larangan-larangan dan tempat orang-orang yang berbuat dosa dan kesalahan.

Saudara-saudara sekalian? Beruntunglah kita masih punya kesempatan, punya kesempatan untuk membenahi diri ini. Punya kesempatan untuk memperbaiki diri ini dari dosa dan kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan. Kita pernah berbuat maksiat kepada Allah. Beruntunglah kita mempunyai kesadaran untuk berbuat baik dan berusaha untuk mencari jalan mendekatkan diri pada-Nya, Dia maha Pengampun, Maha Penerima Taubat, betapa baiknya Allah kepada hamba-hambaNya.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

۞ قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗ

اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ وَاَنِيْبُوْٓا اِلٰى رَبِّكُمْ وَاَسْلِمُوْا لَهٗ مِنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُوْنَ

Artinya: “Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat ditolong.” (QS. az-Zumar: 53-54)

Selama masih hidup, selama masih bernafas, kita diberi kesempatan untuk mengucapkan kata TAUBAT, masih punya kesempatan untuk mohon ampunan agar diampunkan dari segala dosa-dosa yang pernah kita lakukan, kecuali dosa-dosa Syirik besar, syirik yang tidak pernah di taubati hingga akhir hayat dimuka bumi ini. Walau pun kesyirikan besar yang kita lakukan, Allah akan mengampuni jika kita bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat, karena selama masih bernafas, setiap tarikan dan hembusan nafas kita itu adalah kesempatan untuk bertaubat kepada-Nya.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۚ

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. an-Nisaa’: 48)

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya berkata, “Allah Ta’ala tidak akan mengampuni dosa syirik yaitu ketika seorang hamba bertemu Allah dalam keadaan berbuat syirik.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, terbitan Dar Ibnul Jauzi, 3: 129).

Maksud ayat ini kata Ibnul Jauzi yaitu Allah tidak akan mengampuni pelaku syirik (musyrik) yang ia mati dalam kesyirikan (Lihat Zaadul Masiir, 2: 103). Ini berarti jika sebelum meninggal dunia, ia sudah bertaubat dan menyesali kesyirikan yang ia perbuat, maka ia selamat.

Jika kita sudah menyadari dan kita telah mengucapkan TAUBAT,,, maka kembali lagi pada kalimat: "Mengerjakan semua perintahNya dan Menjauhi segala larangan-laranganNya". Dengan itu kita malu apa-apa yang telah kita kerjakan belum pernah kita mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya dan malu jika kita masih berniat untuk melakukan apa yang telah Ia larang.

Perlu kita ingat kembali bahwa semua apa-apa yang kita lakukan baik itu apa yang telah diperintahkannya maupun apa yang telah dilarangnya melainkan semua itu dalam pengawasannya 24 jam tanpa terlewatkan sedetikpun apa yang kita lakukan. Wallahua’lam….

 

Semoga Bermanfaat

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar