7 Amalan Sunnah di Hari Raya Idul Fitri berserta Haditsnya - LITERASI SAMBAS
News Breaking
Intro
wb_sunny

Breaking News

7 Amalan Sunnah di Hari Raya Idul Fitri berserta Haditsnya

7 Amalan Sunnah di Hari Raya Idul Fitri berserta Haditsnya

 Oleh: Usmul Hidayah

Literasisambas.org - Tak lama lagi umat Islam akan segera menyambut Hari Raya Idul Fitri. Penentuan awal bulan Syawal ini menjadi momen yang ditunggu masyarakat, karena menjadi penanda tibanya Hari Raya Idul Fitri. Hari raya Idul Fitri adalah hari raya umat Islam setelah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan sehingga banyak ibadah sunnah yang diperintahkan dibulan tersebut yang tidak ada di bulan lainnya. Agar Idul Fitri penuh dengan pahala berlipat ganda, berikut ini sunnah-sunnah Idul Fitri yang perlu diketahui dan diamalkan.

1.       Mandi Sebelum Shalat Idul Fitri

Disunnahkan untuk mandi sebelum melaksanakan shalat Ied, sebagaimana yang telah di riyawatkan dari Ibnu Abbas, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى

Artinya: “Dari Ibnu Abbas dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mandi pada hari raya iedul Fitri dan iedul Adlha." (Hadits Sunan Ibnu Majah No. 1305 - Kitab Mendirikan shalat dan sunah yang ada di dalamnya)

Mandi ketika itu disunnahkan. Yang menunjukkan anjuran ini adalah atsar dari sahabat Nabi. Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, seseorang pernah bertanya pada ‘Ali mengenai mandi. ‘Ali menjawab, “Mandilah setiap hari jika kamu mau.” Orang tadi berkata, “Bukan. Maksudku, manakah mandi yang dianjurkan?” ‘Ali menjawab, “Mandi pada hari Jum’at, hari ‘Arafah, hari Idul Adha dan Idul Fithri.” (HR. Al-Baihaqi, 3: 278. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Lihat Al-Irwa’, 1: 177)

 

2.       Berhias dan Memakai Pakaian Terbaik

Idul Fitri merupakan simbol kemenangan umat Islam karena berhasil menahan hawa nafsu selama bulan Ramadhan. Oleh sebab itu, setiap Muslim hendaknya memantaskan diri untuk menyambut lebaran dengan membersihkan diri, berpakaian yang rapi, serta memakai wewangian.

Dari Ibnu Abbas, bahwa pada suatu saat di hari Jumat, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ هَذَا يَومُ عِيدٍ جَعَلهُ الله لِلمُسلِمِينَ فمَن جاءَ إلى الـجُمعةِ فَليَغتَسِل وَإِن كانَ عِندَه طِيبٌ فَليَمسَّ 

مِنهُ وَعَلَيكُم بِالسِّواكِ

Artinya: “Sesungguhnya hari ini adalah hari raya yang Allah jadikan untuk kaum muslimin. Barangsiapa yang hadir jumatan, hendaknya dia mandi. Jika dia punya wewangian, hendaknya dia gunakan, dan kalian harus gosok gigi.” (HR. Ibn Majah dan dihasankan al-Albani)

Imam Maalik rahimahullah berkata, “Saya mendengar para Ulama bahwa memakai minyak wangi dan berhias pada setiap hari raya itu disunnahkan”. (Al-Mughni 3/257)

Imam as-Sindi mengatakan: “…dari hadis disimpulkan bahwa berhias ketika hari raya merupakan kebiasaan yang mengakar di kalangan mereka (Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat). Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengingkarinya, yang artinya kebiasaan itu tetap belaku… (Hasyiah as-Sindy ‘ala an-Nasa’i, 3:181)

 

Sedangkan sunnah memakain pakaian yang terbaik, dari Jabir bin Abdillah, beliau mengatakan:

كانت للنبي -صلى الله عليه وسلم- جُبّة يَلبسُها فِي العِيدَين ، وَ يَوم الـجُمعَة

Artinya: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki jubah yang beliau gunakan ketika hari raya dan hari Jumat.” (HR. Ibn Khuzaimah dan kitab shahihnya)

Sunnah di sini maksud dari mengenakan pakaian terbaik yang kita miliki, bukan berarti pakaian baru dan mahal.

 

3.       Makan Sebelum Shalat Idul Fitri

Makan sebelum shalat ied, ini merupakan disunnahkan. Makan pagi ini sebagai pertanda bahwa kita sedang tidak berpuasa setelah sebulan penuh berpuasa. Berbeda dengan hari raya idul adha, dimana disunnahkan untuk berpuasa sebelum shalat ied, dan berbuka setelah. Sebagaimana dari ‘Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ وَلاَ يَأْكُلُ يَوْمَ الأَضْحَى حَتَّى 

يَرْجِعَ فَيَأْكُلَ مِنْ أُضْحِيَّتِهِ

Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat ‘ied pada hari Idul Fithri dan sebelumnya beliau makan terlebih dahulu. Sedangkan pada hari Idul Adha, beliau tidak makan lebih dulu kecuali setelah pulang dari shalat ‘ied baru beliau menyantap hasil qurbannya.” (HR. Ahmad 5: 352. Syaikh Syu’aib  Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Ibnu Hajar rahimahullah dalam Al-Fath (2: 446) menyatakan bahwa diperintahkan makan sebelum shalat Idul Fithri adalah supaya tidak disangka lagi ada tambahan puasa. Juga maksudnya adalah dalam rangka bersegera melakukan perintah Allah.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لا يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ .. وَيَأْكُلُهُنَّ وِتْرًا


Artinya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah keluar pada hari Idul Fithri (ke tempat shalat, pen.) sampai beliau makan beberapa kurma terlebih dahulu. Beliau memakannya dengan jumlah yang ganjil.” (HR. Bukhari, no. 953)


Catatan: Kalau tidak mendapati kurma, boleh makan makanan yang lainnya (halal).

 

4.       Berjalan Kaki saat Menuju Tempat Shalat Ied

Jika memungkinkan, disunnahkan untuk berjalan kaki menuju tempat shalat Idul Fitri sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

عَنْ عَلِيٍّ قَالَ إِنَّ مِنْ السُّنَّةِ أَنْ يُمْشَى إِلَى الْعِيدِ

Artinya: “Dari Ali ia berkata, "Termasuk dari sunnah adalah berjalan kaki menuju shalat ied." (Hadits Sunan Ibnu Majah No. 1286 - Kitab Mendirikan shalat dan sunah yang ada di dalamnya)

 

5.       Bertakbir saat Menuju Tempat Shalat

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ فَيُكَبِّرُ حَتَّى يَأْتِيَ المصَلَّى وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلاَةَ فَإِذَا قَضَى 

الصَّلاَةَ ؛ قَطَعَ التَّكْبِيْرَ

Artinya: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam biasa keluar hendak shalat pada hari raya Idul Fithri sambil bertakbir sampai di lapangan dan sampai shalat hendak dilaksanakan. Ketika shalat hendak dilaksanakan, beliau berhenti dari bertakbir.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 2/1/2. Hadits ini mursal dari Az-Zuhri namun memiliki penguat yang sanadnya bersambung. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 171. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa riwayat ini shahih)

Bertakbir ini bermaksud untuk mensyukuri ketika puasa Ramadhan telah sempurna kita kerjakan. Firman Allah:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Artinya: “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185).

Ibnu Syihab Az-Zuhri menyatakan bahwa kaum muslimin ketika itu keluar dari rumah mereka sambil bertakbir hingga imam hadir (untuk shalat ied). Disyari’atkan bertakbir dilakukan oleh setiap orang dengan menjaherkan (mengeraskan) bacaan takbir. Ini berdasarkan kesepakatan empat ulama madzhab. (Majmu’ah Al-Fatawa, 24: 220)

 

6.       Mengucapkan Selamat antar Sesama

Ketika umat Islam bertemu di hari raya, disunnahkan untuk mengucapkan selamat hari raya sebagaimana para sahabat melakukannya. Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqalani menjelaskan bahwa ucapan Idul Fitri yang diucapkan para sahabat ketika bertemu sahabat lainnya adalah taqabbalallahu minna wa minkum.

Hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

فعن جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ قَالَ : كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اِلْتَقَوْا يَوْمَ الْعِيدِ يَقُولُ 

بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك

Artinya: Dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa jika para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa dengan hari ‘ied (Idul Fithri atau Idul Adha, pen), satu sama lain saling mengucapkan, “Taqabbalallahu minna wa minka (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).” Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. (Fath Al-Bari, 2: 446)

Khususnya di Indonesia, berbagai macam ucapan selamat hari raya. Misalnya:

ü  Selamat Idul Fithri 1442 H.

ü  Minal ‘aidin wal faizin, semoga kembali dan meraih kemenangan

ü  Ied mubarak, semoga menjadi ‘ied yang penuh berkah

ü  Kullu ‘aamin wa antum bi khair, moga di sepanjang tahun terus berada dalam kebaikan.

ü  Sugeng Riyadi 1442 H (selamat hari raya) dalam bahasa Jawa.

 

Contoh ucapan selamat yang diucapkan saat hari raya tiba di atas sebenarnya tidak diberi aturan ketat di dalam syari’at kita. Ucapan apa pun yang diutarakan selama maknanya tidak keliru asalnya bisa dipakai. Allahua’lam.

 

7.       Menempuh Jalan yang Berbeda saat Pergi dan Pulang dari Shalat Ied

Disunnahkan untuk menempuh jalan yang berbeda antara pergi dan pulang shalat Idul Fitri. Jadi ketika pergi ke lapangan melewati satu jalan, hendaknya pulangnya melalui jalan yang lain.

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ كَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ

Artinya: Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berada di hari ied (ingin pergi ke tempat shalat,), beliau membedakan jalan antara pergi dan pulang”. (HR. Bukhari, no. 986)

Di antara hikmah kenapa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam membedakan antara jalan pergi dan pulang adalah agar banyak bagian bumi yang menjadi saksi bagi kita ketika beramal. Allah Ta’ala berfirman,

يَوْمَىِٕذٍ تُحَدِّثُ اَخْبَارَهَاۙ

Artinya: “Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya.” (QS. az-Zalzalah: 4)

Rasul lalu bertanya, “Apakah kalian tahu apa yang diceritakan oleh bumi?”

Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda:

إِنَّ أَخْبَارَهَا أَنْ تَشْهَدَ عَلَى كُلِّ عَبْدٍ أَوْ أَمَةٍ بِمَا عَمِلَ عَلَى ظَهْرِهَا أَنْ تَقُولَ عَمِلَ كَذَا وَكَذَا يَوْمَ 

كَذَا وَكَذَا قَالَ فَهَذِهِ أَخْبَارُهَا

Artinya: “Sesungguhnya yang diberitakan oleh bumi adalah bumi jadi saksi terhadap semua perbuatan manusia, baik laki-laki maupun perempuan yang telah mereka perbuat di muka bumi. Bumi itu akan berkata, “Manusia telah berbuat begini dan begitu, pada hari ini dan hari itu.” Inilah yang diberitakan oleh bumi.” (HR. Tirmidzi no. 2429. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Namun hadits ini punya penguat dalam Al-Kabir karya Ath-Thabrani 4596, sehingga hadits ini dapat dikatakan hasan sebagaimana kesimpulan dari Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaliy dalam Bahjah An-Nazhirin, 1: 439)

 

Demikian beberapa penjelasan ringkas mengenai Sunnah-sunnah saat shalat Idul Fithri. Semoga bermanfaat. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Yuk amalkan!

 

 

Usmul dan Tim Literasi Sambas

Mengucapkan:

“Semoga Hari Kemenangan kita penuh berkah, dan semoga Allah menerima amalan kita dan juga diterimanya puasa kita semuanya, serta semoga Allah menyempurnakannya taqabbalallahu minna wa minkum, kullu ‘aamin wa antum bi khair. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1442 H, Mohon Maaf Lahir dan Bathin”.

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar