SEBAGAI REFLEKSI: MARI BERKACA DARI ULAMA TERDAHULU - LITERASI SAMBAS
News Breaking
Intro
wb_sunny

Breaking News

SEBAGAI REFLEKSI: MARI BERKACA DARI ULAMA TERDAHULU

SEBAGAI REFLEKSI: MARI BERKACA DARI ULAMA TERDAHULU

Literasisambas.org Kta mungkin sering mendengar para ulama di zaman sekarang sering bercerita tentang kisah heroik ulama terdahulu, menukil petuah mulia dari ulama terdahulu, dan selalu mengambil ibrah dari ulama terdahulu.

Ini menandakan bahwa ulama terdahulu memang hebat dalam banyak hal, terutama mereka sangat hebat dalam penguasaan ilmu agama. Sebagai bukti, ulama-ulama terdahulu jauh lebih banyak menghasilkan karya tulisan ketimbang ulama di zaman sekarang.

Selain itu, tingkat kesulitan bacaan ulama terdahulu jauh lebih tinggi karena harus membaca manuskrip. Berbeda dengan zaman sekarang para ulama telah dimudahkan dengan percetakan buku yang menyediakan kertas yang jauh lebih baik, tulisan yang jauh lebih rapi, dan sebagainya. Akan tetapi tetap saja dari segi menghasilkan karya masih belum bisa menghasilkan sebanyak seperti para ulama terdahulu.

Kalau kita pikir-pikir lagi, terasa aneh bukan? Di samping ulama terdahulu dihadapkan dengan keterbatasan sarana prasrana dalam berkarya, tetap saja ulama terdahulu jauh lebih banyak menghasilkan karya ketimbang ulama zaman sekarang? Jadi, mengapa ulama terdahulu lebih unggul dari pada ulama di zaman sekarang?

Jawabnya tidak lain dan tidak bukan adalah terletak pada tingkatan kemauan. Ulama terdahulu punya mental warrior. Mereka rela menempuh perjalanan yang panjang hanya demi memperoleh ilmu agama. Tak jarang bahkan mereka menempuh perjalanan beribu-ribu kilometer dari negeri satu ke negeri yang lain hanya dengan bermodalkan kendaraan berupa unta dan dengan perbekalan secukupnya. Dari situ, terlihat sekali bahwa ulama terdahulu sangat memuliakan ilmu.

Maka tak heran mengapa ulama zaman dahulu banyak menghasilkan kitab puluhan bahkan ratusan jilid. Kita bandingkan dengan doktor dan professor di zaman sekarang paling banyak hanya bisa menghasilkan kitab kurang lebih hanya belasan jilid,  dan itupun terhitung hanya sedikit yang bisa menghasilkan sampai puluhan jilid. Dari situ terlihat bahwa ulama zaman dahulu memang mereka merupakan manusia-manusia pilihan.

Lain halnya dengan kita mau diakui ataupun tidak, sangat jelas kita kalah total dari ulama terdahulu. Jika kita sadari, setidaknya ada beberapa hal yang membuat kita kalah dari ulama terdahulu. Apa itu? Tidak lain dan tidak bukan karena kita telah termanjakan oleh segala fasilitas-fasilitas yang memudahkan, namun membuat kita mudah terleha-leha. Penyebab lainnya juga adalah karena segala kenikmatan dunia (fitnah dunia) telah dibukakan kepada kita sehingga membuat kita lebih mudah terjerumus ke dalam perkara-perkara maksiat yang akhirnya membuat kita jauh dari nur cahaya Allah.

Tulisan di atas hanya sedikit sebagai ocehan dari pribadi penulis. Ada banyak sekali ocehan yang sebenarnya ingin penulis sampaikan dalam tulisan ini. Namun penulis rasa cukup itu saja sebagai pelampiasan. Mari kita lanjutkan pembahasan. Mungkin kita bertanya-tanya siapa saja ulama terdahulu yang dimaksud dalam tulisan ini?

Sebenarnya banyak sekali jika disebutkan satu persatu. Imam al-Bukhari adalah salah satu dari ulama terdahulu yang patut kita acungi jempol. Bagi sebagian orang yang telah lama dalam mempelajari ilmu hadis pasti tidak asing lagi dengan ulama yang satu ini.

Ia dikenal sebagai pengarah kitab hadis tersahih dan termasyur. Ia rela mengembara beribu-ribu kilometer dari kota Bukhara menuju Syam, Mesir, Aljazair, Basrah, Hijaz, Kufah, dan Baghdad hanya demi mendapatkan riwayat hadis. Selain itu, pengembaraannya hanya bermodalkan kendaraan onta dan perbekalan makanan secukupnya. Alhasil atas kerja kerasnya, kita saat ini bisa menikmati karya-karyanya yang fenomenal dan monumental.

Selain dari Imam al-Bukhari sebenarnya masih ada imam-imam lain yang sangat hebat dengan menghasilkan banyak karya. Seperti Imam al-Mundziri yang menghasilkan karya 40-80 jilid, Imam at-Thabari yang menghasilkan karya 50-100 Jilid, Imam asy-Syafi’i yang telah mengarang 150-200 jilid, dan masih banyak lagi imam-imam yang lain.

Sungguh, jika kita membaca kitab Siyar A’lam an-Nubala karya Imam adz-Dzahabi yang memuat 23 jilid mengenai biografi para ulama terdahulu, kitab Tazdkiratul Huffadz, dan beberapa kitab lain yang mengulas para ulama-ulama terdahulu, maka penulis yakin bahwa setiap orang akan merasa kecil ketika telah membaca kitab tersebut.

Kemudian penulis juga yakin jika seseorang membaca kitab tersebut, maka akan hilang sikap ujub (berbangga diri) dalam diri mereka. Karena dalam kitab tesebut dijelaskan bagaimana kerja keras dari kesungguhan dan kesabaran mereka dalam menuntut ilmu, tegar mereka dalam berdakwah, serta ujian yang mereka rasakan.

Akan tetapi jika sebagian orang yang merasa telah berilmu namun tidak pernah membaca kitab-kitab tesebut, maka kemungkinan dia akan merasa seolah-olah dialah yang paling hebat, paling berilmu, dan merasa paling top di hadapan orang lain.

Hal yang perlu diketahui bersama bahwa alasan mengapa ulama terdahulu menjadi hebat dan rela menghadapi kesakitan demi mendapatkan ilmu adalah hanya karena satu alasan, yakni karena “cinta”. Segala hal yang dilandasi dengan cinta pasti akan membuahkan hasil dan membuat seseorang  akan mencapai targetnya. Dengan cintalah ia rela berkorban melakukan segala sesuatu demi mendapatkan hal yang ia cintai.

Nah, kalahnya lagi kita sekarang adalah karena kurangnya rasa cinta terhadap ilmu. Ilmu seakan-akan dianggap sebagai suatu hal yang remeh. Padahal dengan ilmulah peradaban suatu bangsa dapat berkembang. Harusnya kita malu karena sangat jauh kalahnya dengan kehebatan ulama terdahulu. Malu karena mereka tetap hebat dengan segala keterbatasan yang mereka miliki, dan malu karena kita tetap kalah meskipun segala fasilitas telah tersedia.

Maka dari itu, kalaulah kita tidak bisa menjadi sehebat seperti ulama terdahulu, akan tetapi setidaknya mari kita maksimalkan segala potensi yang kita miliki selama ini, gunakan rasa malu kita sebagai motivasi agar kita terus maju dan tidak mau kalah dari mereka.

Sebagai penutup dari tulisan ini, sering-seringlah membaca kisah-kisah perjuangan para ulama terdahulu dalam menuntut ilmu. Karena ulama-ulama terdahulu usianya dihabiskan dengan keberkahan. Waktu-waktu mereka dihabiskan untuk menghasilkan karya.

Penulis tidak bisa membayangkan lagi jika Imam al-Bukhari, Imam al-Mundziri, Imam at-Thabari, Imam asy-Syafi’i, dan imam-imam lain yang jika hidup di era digital ini kira-kira seberapa lebih banyak karya tulisan yang mereka hasilkan lagi.

Lantas, bagaimana dengan kita hari ini? Jangan sampai usia kita dihabiskan dengan segala sesuatu yang tidak bermanfaat. Apakah dengan sisa usia kita yang terbatas ini kita habiskan dengan perdebatan dan komentar-komentar serta status-status yang tidak bermanfaat.

Baca Juga: 5 CARA MEMPERKUAT ISTIQOMAH

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar