MUDAH DAN EFEKTIF: BEGINILAH CARA RASULULLAH MENDIDIK ANAK - LITERASI SAMBAS
News Breaking
Intro
wb_sunny

Breaking News

MUDAH DAN EFEKTIF: BEGINILAH CARA RASULULLAH MENDIDIK ANAK

MUDAH DAN EFEKTIF: BEGINILAH CARA RASULULLAH MENDIDIK ANAK

 Oleh: Usmul Hidayah

Literasisambas.org Dewasa ini banyak sekali kemorosotan moral yang dilakukan oleh kalangan anak-anak. Angka kriminalitas pun setiap hari bertambah meningkat. Tindak kejahatan yang dilakukan oleh anak-anak di nusantara ini sudah tidak terhitung jumlahnya. Mungkin sudah tidak asing lagi kita mendengar berita anak membunuh ibu atau ayah kandungnya sendiri. Begitu juga pornografi, pacaran, pergaulan bebas, rokok, miras, melibas habis dunia anak. Berita-berita sadis tersebut setiap hari ngantri tayang di stasiun televisi di negeri pertiwi ini.

Semua itu tidak lain karena adanya suatu krisis yang sangat besar yang melanda negeri ini. Krisis yang hari ini melanda hampir setiap rumah tangga. Tidak lain dan tidak bukan krisis tersebut adalah “krisis tarbiyyah atau pendidikan”. Krisis inilah yang menjadikan bangsa ini merosot menuju kehancuran, karena kehancuran suatu kaum dimulai dari kehancuran akhlaknya. Dan kehancuran akhlaknya dimulai dari rumah tangga, di mana orang tua yang salah dalam mendidikanya.

Anak adalah karunia Allah yang begitu besar kepada hamba-Nya. Ia adalah anugerah terindah yang selalu dinanti oleh setiap pasangan suami istri. Anak merupakan permata hati yang senantiasa menyejukkan sanubari. Begitu juga penghias hidup yang menjadikan hidup lebih indah dan berseri. Begitu juga sebaliknya, jika anak yang kita dambakan ternyata jauh dari apa yang kita inginkan, maka anak tersebut menjadi musibah bagi orangtuanya. Bahkan anak tersebut akan menjadi musuh di akhirat kelak. Karena sesungguhnya orangtuanyalah yang bertanggungjawab terutama Sang Ayah sebagai pemimpin keluarga.

Sebagaimana Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”. (QS. At-Tahrim: 6)

Dan Allah berfirman:

اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَاۤءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَّبِمَآ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْ ۗ

Artinya: “Laki-laki (suami) itu pemimpin bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya”. (QS. An-Nisa’: 34)

 Telah jauh sekali umat ini dari tuntunan Islam dalam mendidik anak yang merupakan generasi masa depan. Hari ini orang tua pun membiarkan putra-putrinya dididik oleh budaya-budaya dari barat atau budaya yang jauh dari Syari’at Islam. Salah satunya, pacaran yang merupakan pintu zina telah menjadi tren di kalangan kawula muda zaman ini. Bahkan, banyak orang tua yang malu karena putra atau putrinya tak punya pacar yang mengencaninya. Allahu musta’an.

Tak ada yang bisa mengatasi kerusakan ini kecuali kita harus kembali kepada pendidikan anak yang benar, yaitu pendidikan yang diambil dari “Sumber Kenabian”. Pendidikan yang diajarkan langsung oleh Sang Pengajar yang kapasitanya melebihi seorang doktor atau profesor dari zaman ke zaman. Sungguh di dalam diri Beliau terdapat suri teladan yang baik, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala di dalam al-Qur’an:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ

Artinya: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah”. (QS. Al-Ahzab: 21)

Ada beberapa rambu-rambu yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam mendidik anak, diantaranya:

1.        Mengedepankan Pendidikan Aqidah

Dalam mendidik anak, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa mengedepankan pendidikan aqidah pada anak didiknya, yaitu mengenalkan anak kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan mentauhidkan-Nya. Ini merupakan tujuan manusia diciptakan dan misi para Rasul di utus ke bumi. Rasulullah berusaha keras untuk mendidik anak, untuk ditanamkan rasa tawakkal dan menggantungkan hati anak kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata. Sebagaimana pendidikan Beliau kepada Ibnu ‘Abbas sewaktu kecilnya dan Rasulullah memberikan nasihat kepadanya yang masih kecil.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كُنْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا فَقَالَ يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ

 كَلِمَاتٍ احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ

 فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ

 كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ

 رُفِعَتْ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ

Artinya: “Dari Ibnu Abbas berkata: Aku pernah berada di belakang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam pada suatu hari, beliau bersabda: "Hai 'nak, sesungguhnya aku akan mengajarimu beberapa kalimat; jagalah Allah niscaya Ia menjagamu, jagalah Allah niscaya kau menemui-Nya dihadapanmu, bila kau meminta, mintalah pada Allah dan bila kau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah, ketahuilah sesungguhnya seandainya ummat bersatu untuk memberimu manfaat, mereka tidak akan memberi manfaat apa pun selain yang telah ditakdirkan Allah untukmu dan seandainya bila mereka bersatu untuk membahayakanmu, mereka tidak akan membahayakanmu sama sekali kecuali yang telah ditakdirkan Allah padamu, pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering. (maksudnya takdir telah ditetapkan)". (Hadits Jami' At-Tirmidzi No. 2440)

Kemudian senantiasa membangun karakter sejak dini, seperti membentuk aqidah dan keimanan yang menjadi tonggak awal sukses dan tidaknya anak-anak ke depannya. Allah berfirman:

وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ”Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (QS. Luqman: 13)

 

2.        Mengajarkan dan Memperhatikan Shalat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada orang tua untuk mengajarkan shalat kepada anaknya pada usia tujuh tahun dan memukul anak pada usia sepuluh tahun bila enggan shalat, sebagaimana dalam haditsnya:

عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ الرَّبِيعِ بْنِ سَبْرَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ 

وَسَلَّمَ مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلَاةِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِينَ وَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِينَ فَاضْرِبُوهُ عَلَيْهَا

Artinya: “Dari Abdul Malik bin Ar-Rabi' bin Sabrah dari Ayahnya dari Kakeknya dia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Perintahkanlah anak kecil untuk melaksanakan shalat apabila sudah mencapai umur tujuh tahun, dan apabila sudah mencapai umur sepuluh tahun maka pukullah dia apabila tidak melaksanakannya". (Hadits Sunan Abu Dawud No. 417)

Dalam kitab Tahfatul Ahwadzi, al-‘Alqami, berkata: “Hendaklah mengajarkan mereka hal-hal yang diperlukan mengenai shalat, di antaranya tentang syarat-syarat dan rukun shalat. Memerintahkan mereka untuk mengerjakan shalat setelah belajar”. Dikatakan juga bahwa, “Diperintahkannya memukul itu hanya untuk yang telah berumur sepuluh tahun karena pada saat itu ia telah mampu menahan derita pukulan pada umumnya. Yang dimaksud dengan memukul itu adalah pukulan yang tidak membahayakan dan tidak melukai, dan hendaknya menghindari wajah dalam memukul”.


3.        Mengajarkan Adab-adab Mulia

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada orang tua untuk mengajarkan adab-adab yang mulia kepada anak. Maka dari itu, orang tua pun harus memiliki adab yang mulia agar bisa menjadi teladan bagi anaknya. Seorang anak kecil sangat peka untuk meniru segala tingkah laku yang dilihat ataupun didengar olehnya. Hati anak ibarat lembaran yang masih putih polos, tergantung dengan tinta apa dia akan diukir. Jika diukir dengan tinta emas, maka perangainya pun berkilau seperti emas.

Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat semangat mengajarkan adab mulia kepada anak kecil. Di antaranya sabda Beliau kepada Hasan bi Ali waktu masih kecil:

عَنْ أَبِي الْحَوْرَاءِ السَّعْدِيِّ قَالَ قُلْتُ لِلْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ مَا حَفِظْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ

وَسَلَّمَ قَالَ حَفِظْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ فَإِنَّ

 الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ

Artinya: “Dari Abu Al Haura` As Sa'di berkata: Aku bertanya kepada Al Hasan bin Ali: Apa yang kau hafal dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam? Ia menjawab: Aku menghafal dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam: "Tinggalkan yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu karena kejujuran itu ketenangan dan dusta itu keraguan". (Hadits Jami' At-Tirmidzi No. 2442)

Nasihat mulia itu begitu tertanam dalam hati Hasan bin Ali hingga dewasa. Begitu juga pengajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Umar bin Abi Salamah, anak tiri Beliau, ketika tangan beliau suka berpindah-pindah dalam satu nampan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda:

مِنْ عُمَرَ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ قَالَ كُنْتُ فِي حَجْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَتْ يَدِي تَطِيشُ فِي الصَّحْفَةِ فَقَالَ لِي يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

Artinya: “Dari 'Umar bin Abu Salamah ia berkata; Dulu aku berada di pangkuan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lantas tanganku memegang piring, maka beliau bersabda kepadaku: "Wahai anak, sebutlah nama Allah, dan makanlah dengan tangan kananmu, serta makanlah yang ada di hadapanmu". (Hadits Shahih Muslim No. 3767)

 

4.        Menumbuhkan Jiwa Kemandirian

Jiwa kemandirian seorang anak harus dibina sejak dini. Tidak sepantasnya orang tua memanjakan anak secara berlebihan, sebab hasil dari kemanjaan adalah ketergantungan dan anak tidak ulet dalam menempuh kehidupan. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membiasakan anak untuk mendiri dan mengemban tanggung jawabnya. Suatu hari Rasulullah pernah melewati Abdullah bi Ja’far bin Abu Thalib, waktu itu Abdullah yang masih kecil sedang menjual mainan anak-anak dari kulit yang dibuat oleh ibunya. Seketika itu Rasulullah bedo’a, “Ya Allah, berkahilah pedagangannya”.

Imam Ibnul Qoyyim, memberikan petuah bijak untuk para orangtua melalui nasehatnya, “Seyogyanya anak dijauhkan dari kemalasan, pengangguran, dan santai, tetapi biasakan ia bekarja. Jangan dibiarkan santai, kecuali untuk mempersiapkan diri dan badannya untuk kesibukan yang lain. Karena kemalasan dan pengangguran berakibat jelek, dan hasilnya penyesalan. Sebaliknya, rajin dan lelah hasilnya terpuji, baik di dunia maupun di akhirat kelak atau keduanya. Orang yang paling santai di dunia adalah orang yang paling lelah di akhirat kelak dan orang yang paling santai di akhirat kelak adalah orang yang dulunya paling lelah di dunia. Kepemimpinan di dunia dan kebahagiaan di akhirat tidak bisa di raih kecuali melewati jembatan kelelahan”.

 

5.        Menambahkan Rasa Cinta dan Kasih Sayang Kepada Anak

Kebutuhan seorang anak akan rasa cinta dan kasih sayang dalam keluarga sangatlah besar. Ketiadaan rasa tersebut akan berakibat adanya gangguan mental diri anak. Jika orang tua tidak memiliki rasa kasih sayang kepada anak, maka anak tersebut pun akan seperti apa yang telah orang tuanya lakukan kepadanya ataupun hanya sedikit saja rasa kasih sayangnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ الْأَقْرَعَ بْنَ حَابِسٍ أَبْصَرَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ الْحَسَنَ

 

فَقَالَ إِنَّ لِي عَشْرَةً مِنْ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ وَاحِدًا مِنْهُمْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

 

إِنَّهُ مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ

 

Artinya: “Dari Abu Hurairah Bahwa "Aqra' bin Habis pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mencium cucunya Hasan. Kata Aqra'; "Aku punya anak sepuluh orang. Namun tidak satupun di antara mereka yang pernah kucium." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Siapa yang tidak penyayang, tidak akan disayangi". (Hadits Shahih Muslim No. 4282)

 

Hari ini banyak sekali orang tua yang mengaku mengikuti sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, namunn tak pernah memberikan waku bercanda kepada anak tecinta dengan dalih kesibukan yang tak kunjung habisnya. Padahal Rasulullah adsalah orang yang paling sibuk mengurus umatnya. Namun Beliau meluangkan waktu untuk anak atau cucunya tercinta. Bahkan sebagian suami menyerahkan pendidikan anak sepenuhnya kepada sang istri. Lebih tragis lagi sebagaian istri pun tidak tahu cara mendidik anaknya dengan baik dan benar. Bahkan ada juga sebagian orang tua tidak mengetahui perkembangan pendidikan anaknya karena kesibukan pekerjaan dan menyerahkan semua tugasnya kepada pembantu rumah tangga.


6.        Memberi Balasan Perilaku Baik

Suatu hari ketiak Ibnu Abbas masih kecil, ia pernah bermalam bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia berkata, Nabi masuk ker kamar kecil, maka aku menyediakan air wudhu untuk Beliau”. Beliau berkata, “Siapakah yang menyediakan air ini?” Lantas Beliau pun diberitahu, maka Beliau berdo’a untuknya sebagai balasan atas kebaikannya:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْخَلَاءَ فَوَضَعْتُ لَهُ وَضُوءًا قَالَ مَنْ وَضَعَ

 هَذَا فَأُخْبِرَ فَقَالَ اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

Artinya: "Dari Ibnu 'Abbas, bahwa pernah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam masuk kedalam WC, lalu aku letakkan bejana berisi air. Beliau lantas bertanya: "Siapa yang meletakkan ini?" Aku lalu memberitahukannya, maka beliau pun bersabda: "Ya Allah pandaikanlah dia dalam agama". (Hadits Shahih Al-Bukhari No. 140)

Do’a tersebut benar-benar berkah, ketika dewasanya Ibnu Abbas menjadi sosok ulama yang ilmunya sangat luas bagaikan samudera. Sehingga karena keluasan ilmunya itu, dia dijuluki sebagai “Pena Umat” ini.

Alangkah baiknya jika para orang tua meneladani pujian Nabi kepada anak karena anak butuh motivasi dari kedua orang tuanya. Tidaklah kenapa memberikan hadiah kepada anak atas prestasi yang dia raih seperti anak telah menghafal juz ‘amma atau menghatamkan al-Qur’an atau menghafal hadits-hadits pilihan. Karena semua itu mampu mendongkrak semangat anak untuk lebih maju dan berprestasi.

Itulah beberapa contoh nyata metode Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam mendidik anak. Kalau kita gali lagi tentunya akan lebih banyak yang kita dapatkan. Namun cukuplah contoh tersebut mewakili bahwa Beliau benar-benar sosok Murabbi sejati bagi sang anak. Rasulullah adalah panutan untuk kita semua, terutama bagi orang tua dalam mendidik anak sehingga menjadi anak yang sholeh dan sholehah yang bisa membanggakan orang tuanya baik di dunia maupun akhirat kelak.


Wallahua'lam....

Baca Juga: 9 NASEHAT AGAR RUMAH TANGGAMU BAHAGIA

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar