HAMIL LUAR NIKAH: 5 KENIKMATAN YANG AKAN ALLAH CABUT BAGI MEREKA (BERZINA) - LITERASI SAMBAS
News Breaking
Intro
wb_sunny

Breaking News

HAMIL LUAR NIKAH: 5 KENIKMATAN YANG AKAN ALLAH CABUT BAGI MEREKA (BERZINA)

HAMIL LUAR NIKAH: 5 KENIKMATAN YANG AKAN ALLAH CABUT BAGI MEREKA (BERZINA)

Oleh: Usmul Hidayah

Literasisambas.org - Jatuh cinta adalah anugerah yang terindah dan setiap insan pasti akan merasakannya. Namun, jatuh cinta juga merupakan cobaan bagi manusia yang beriman. Banyak dikalangan pemuda muslim di zaman now, jika jatuh cinta mereka justru terperangkap dengan pacaran, yang jelas jauh dari nilai-nilai Islam. Dan tidak sedikit mereka melakukan hal-hal yang belum pantas dilakukan. Sehingga pada akhirnya mereka menanggung akibat atas perbuatan yang mereka lakukan sebelum ada hubungan yang halal.

Pacaran bukan merupakan ajaran Islam, bahkan budaya Indonesia sangatlah bertentangan dengan praktek pacaran yang saat ini begitu menjamur dikalangan muda-mudi. Di dalam al-Qur’an sangat jelas sekali Allah melarang untuk mendekati zina. Firman Allah:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗوَسَاۤءَ سَبِيْلًا

Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk”. (QS. Al-isra’: 32)

Mengapa ini bisa terjadi? Mungkin salah satunya adalah kurangnya pengawasan dari orang tua dan kurangnya pengetahuan tentang Hukum Islam yang berkaitan dengan hal tersebut. Sehingga apa yang mereka lakukan (pacaran) mendapatkan kebenaran dari lingkungan keluarga dan masyarakat sekitarnya. Memang tidak dipungkiri bahwa manusia diciptakan berpasang-pasangan, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala yang telah berfirman di dalam al-Qur’an:

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗ

Artinya: “Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang”. (Ar-Rum ayat 21)

Dengan diciptakannya manusia berpasang-pasangan bukan berarti saat kita jatuh cinta kepada lawan jenis, kita bebas untuk meluahkannya tanpa ada yang mengaturnya. Allah sangat paham dengan ciptaannya terlebih lagi kita sebagai ummat Islam, maka Syari’at Islam sangat jelas dan terang mengontrol jika perasaan cinta itu hadir kepada lawan jenisnya, baik saat siap maupun tidak siap.

Jika seseorang belum siap, maka Islam memerintahkan kepada hamba-Nya untuk berpuasa dan menahan pandangan. Jika seseorang telah siap, maka tiada obat yang paling manjur jika seseorang jatuh cinta melainkan pernikahan. Itulah perintah Islam melalui Rasul-Nya yang Mulia dan Beliau, bersabda sebagaimana telah diceritakan kepada kami 'Abdan dari Abu Hamzah dari Al A'masy dari Ibrahim dari 'Alqamah berkata; Ketika aku sedang berjalan bersama 'Abdullah radliallahu 'anhu, dia berkata: Kami pernah bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang ketika itu, Beliau bersabda:

مَنْ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ 

وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

Artinya: "Barangsiapa yang sudah mampu (menafkahi keluarga), hendaklah dia kawin (menikah) karena menikah itu lebih bisa menundukkan pandangan dan lebih bisa menjaga kemaluan. Barangsiapa yang tidak sanggup (manikah) maka hendaklah dia berpuasa karena puasa itu akan menjadi benteng baginya". (Hadits Shahih Al-Bukhari No. 1772)

Hadits di atas merupakan bahwa Islam telah mengatur setiap perasaan cinta itu hadir. Allah tidak membiarkan hamba-Nya menanggung perihnya akibat dari perasaan tersebut. Tapi kebanyakan kawulan muda salah dalam melangkah, sehingga mereka terjerumus perangkap setan yang terlaknat dan akhirnya hamil diluar pernikahan. Tapi setan tidak cukup di di situ saja, setan tetap membisikan rayuan-rayuan yang halus bahkan mereka (manusia) menganggap hal tersebut merupakan “benar” yang harus dilakukan untuk menutupi dari perbuatannya tersebut.

Setidaknya ada 5 kerugian bagi mereka yang melakukan perzinahan dan mengakibatkan hamil diluar nikah:

1.        Mudah Hamil bukan Suatu Nikmat dari Allah, tapi Cobaan

Kenapa orang berzina cepat hamil? Kurang lebih seperti ini dengan beberapa tambahan. Allah berikan karena Dia mau, bukan sebagai bentuk nikmat, tapi Cobaan dan Ujian. Bayangkan, orang yang berzina apakah mau punya anak? Jawabannya pasti “Tidak”. Dengan begitu, Allah kasih cobaan dari perbuatan yang telah mereka kerjakan. Allah Maha Kuasa, berbuat apa yang dikehendaki-Nya, menghendaki sesuatu dengan segala hikmahnya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيْدُۗ

Artinya: Mahakuasa berbuat apa yang Dia kehendaki”. (QS. Al-Buruj: 16)

 

2.        Mudah dalam Melahirkan tapi Bukan Bentuk Kasih Sayang Allah

Kehamilan yang Allah berikan kepadanya justru itu cobaan buat mereka. Tidak sedikit yang diusir dari keluarganya, dijauhi teman-temannya, dikeluarkan dari sekolah, bahkan mendapatkan hukuman sosial yakni rasa malu di masyarakat. Kehamilan yang mereka dapatkan seharusnya bentuk kebahagiaan bagi orang tua, mertua dan keluarga lainnya justru sebagai aib di masyarakat. Bagaimana dihadapan Allah di akhirat nanti?

Dalam proses mengandung, mereka sangat pandai sekali menyembunyikannya, perutnya tidak terlihat besar, dapat pula berjalan dengan gagahnya. Kadang, bisa pergi ke sekolah dan membuat kegiatan lapangan sebagaimana siswa lainnya, sedangkan sebenarnya sedang mengandung. bahkan sampai proses melahirkan pun tidak ada yang mengetahui. Ada sebagian yang tiba-tiba melahirkan di kebun, di kambar mandi, bahkan di tempat-tempat lain jauh dari keramaian.

Yang lebih hebatnya lagi, melahirkan seorang diri tanpa ada bantuan orang lain. Ternyata, ketakutan yang amat sangat membuat seorang gadis dapat melahirkan anaknya dengan mudah. Mulai dari hubungan yang salah, ketika hamil tidak timbul kesusahan sebagaimana wanita-wanita biasa ketika sedang hamil. Seolah-olah Allah memudahkan proses kelahirannya, tapi itu semua adalah nikmat yang Allah cabut darinya.

 

3.        Allah Hilangkan Rasa Kasih Sayang Terhadap Anaknya

Setelah sang ibu melahirkan anaknya, dengan mudah mereka membuang dan langsung membunuhnya. Bukankah sering kita mendengar berita bayi yang dibuang, dibunuh, dikubur dan lain sejenisnya? Inilah akibat dari perzinahan, apabila mereka hamil, dan Allah mudahkan proses kelahiran tapi Allah cabut rasa kasih sayang orang tua kepada anaknya.

Disinilah hikmahnya, mulai dari dimudahkannya hamil, bisa menyembunyikan kehamilannya, dimudahkan melahirkannya bahkan tanpa bantuan orang lain, itu karena Allah cabut semua nikmat yang hanya bisa dirasakan oleh kehamilan seorang istri atau ibu dari hubungan yang Allah ridhai, yakni hubungan yang halal setelah menikah.

 

4.        Allah Hilangkan Pahala Mengandung dan Melahirkan

Seharusnya mengandung dan melahirkan itu sebuah kenikmatan yang pahalanya sangat besar, karena perjuangan yang luar biasa. Kenikmatan tersebut tidak akan pernah dirasakan oleh laki-laki. Akan tetapi, Allah tidak memberikan itu untuk mereka. Karena Allah mencabut rasa kesusahan itu sehingga tidak mendapatkan pahala sebagaimana wanita-wanita lain yang bersusah payah ketika hamil hasil pernikahan yang sah. Jadi jauhi zina! Apapun itu bentuknya, sekecil apapun perbuatannya. Tidak akan pernah ada nikmat dan tidak ada kebahagiaan di dalamnya

 

5.        Anak Hasil Zina Dinasapkan kepada Ibunya dan Tiak Mendapatkan Hak Waris dari Bapaknya

Jika mereka melaksanakan pernikahan dan merawat anak tersebut maka anaknya dinasabkan kepada ibunya sebagaimana nasib anak mula’anah yang dinasabkan kepada ibunya, bukan ke bapaknya. Sebab, nasab kedua anak ini terputus dari sisi bapak. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menyatakan tentang anak zina:

لأَهْلِ أُمِّهِ مَنْ كَانُوا

Artinya: “(Anak itu) untuk keluarga ibunya yang masih ada....”. (Hadits hasan, riwayat Abu Dawud, kitabuth Thalaq, Bab Fi Iddi’a` Walad az-zina no. 2268. Dan Shahih Sunan Abi Dawud no. 1983)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah ketika menjelaskan konsekuensi hukum dari sebuah mula’anah antara seorang suami dengan istrinya menyatakan: “Hukum keenam adalah terputusnya nasab anak dari sisi sang bapak. Karena Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallammenetapkan untuk tidak dipanggil anak tersebut dengan nasab bapak. Inilah yang benar dan merupakan pendapat mayoritas Ulama”. (Zadul Ma’ad, 5/357 )

Syaikh Mushthafa al’Adawi hafizhahullah mengatakan, “Inilah pendapat mayoritas ulama, nasab anak tersebut terputus dari sisi bapaknya. Sebab, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menetapkan agar tidak dinasabkan kepada bapaknya. Inilah pendapat yang benar”. (Jami’ Ahkamin Nisa`, 4/232)

Bukan hanya dinasab saja, anak hasil zina tidak mendapatkan hak waris. Dari Abdullah bin Amr bin Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda:

قَضَى النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ مَنْ كَانَ مِنْ أَمَةٍ لَمْ يَمْلِكْهَا ، أَوْ مِنْ حُرَّةٍ عَاهَرَ بِهَا فَإِنَّهُ لا

 يَلْحَقُ بِهِ وَلا يَرِثُ

Artinya: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memutuskan bahwa anak dari hasil hubungan dengan budak yang tidak dia miliki, atau hasil zina dengan wanita merdeka TIDAK dinasabkan ke bapak biologisnya dan tidak mewarisinya”. (HR. Ahmad 7042, Abu Daud 2267, dihasankan Syuaib Al-Arnauth).

Itulah kerugian bagi mereka yang bezina. Rayuan setan memberikan kenikmatan yang sesaat dan penyesalan yang berpanjangan. Dari hal di atas, Islam juga tidak membiarkan kalian terus perpuruk atas pebuatan yang kalian lakukan (zina). Perintah ini adalah bentuk kasih sayang Allah kepada Hamba-Nya dan Allah memberikan fasilitas tersebut yang tiada duanya, yakni dengan bertaubat. Maka dari itu, jika kalian terjerumus, maka cepat-cepat kembali kepada Allah agar Allah mengampuni dosa kalian dengan benar-benar bertaubat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ بَنِيْ آدَمَ خَطَاءٌ وَ خَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّبُوْنَ. رَوَاهُ التِّرْمـِذِيُّ

Artinya: "Setiap anak adam (manusia) berbuat kesalahan, dan sebaik-baiknya orang yang bersalah adalah yang bertaubat". (HR At Tirmidzi, no.2499 dan dihasankan Al Albani dalam Shahih Al Jami’ Ash Shaghir, no. 4391)

Dengan bertaubat, kita dapat membersihkan hati dari noda yang mengotorinya. Sebab dosa menodai hati, dan membersihkannya merupakan kewajiban. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya seorang mukmin bila berbuat dosa, maka akan (timbul) satu titik noda hitam di hatinya. Jika ia bertaubat, meninggalkan (perbuatan tersebut) dan memohon ampunan (kepada Allah), maka hatinya kembali bersih. Tetapi bila menambah (perbuatan dosa), maka bertambahlah noda hitam tersebut sampai memenuhi hatinya. Maka itulah ar-raan (penutup hati) yang telah disebutkan Allah dalam firmanNya “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka. (Hadits riwayat Ibnu Majah, no. 4244 dan dihasankan Al Albani dalam Shahih Al Jaami’ no. 1666)

 

Wallahua’lam

Baca Juga: PACARAN ADALAH KEBAHAGIAAN, BENARKAH?

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar