News Breaking
Intro
wb_sunny

Breaking News

"GOOD LOOKING", RADIKALISME?

"GOOD LOOKING", RADIKALISME?

 Oleh: Usmul Hidayah


Literasisambas.org Beberapa hari yang lalu, sempat viral sebuah pernyataan yang menyatakan bahwa “Good Looking” adalah sebuah kesalahan dalam beragama, terutama yang beragama Islam. Tentu pernyataan tersebut mengundang kontroversi atau perdebatan, baik dari masayarakat, ustadz, ulama, tokoh politik atau lainnya. Mereka menilai bahwa penampilan seseorang yang “good looking” merupakan suatu pernyataan yang “gegabah” jika itu sebuah radikalisme.

Dalam hal ini, penulis tidak berpihak kepada seseorang atau sekelompok orang melainkan ingin mengajak kepada para pembaca untuk berpikir, apakah penampilan “good looking” tersebut sebuah kesalahan dalam beragama, yang tentunya dalam bergama Islam. Apakah penampilan “good looking” tersebut merupakan penampilan yang bisa membuat seseorang menjadi sesat atau semisalnya dalam memahami Islam. Sebelum ke topik permasalahan, ada baiknya kita mengetahui pengertian dari “Good Looking” tersebut agar kita bisa memahami setiap untaian kata atau kalimat dalam setiap paragraf.

Kalimat Good Looking berasal dari bahasa Inggris terdiri dari 2 kata, yakni good dan looking. Good dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah budiman, bagus, cakap, susila, utuh, pandai, pintar, lumayan, berkedudukan tinggi, sedap, afdal, enak, baik. Sedangkan Looking dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang artinya mencari. Jadi, pengertian Good Looking menurut Merriam Webster adalah “having a pleasing or attractive appearance”. Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah mempunyai penampilan yang menarik. Sedangkan dalam kamus Inggris – Indonesia, Good Looking adalah enak dilihat, nyaman dilihat, ganteng, cantik, rupawan, bagus dan semisalnya. Dari pengertian di atas, dapat kita simpulkan good looking adalah seseorang yang berpenampilan menarik, baik dari segi pakaian maupun fisik ataupun keahlian yang ia miliki.

Setiap orang pasti ingin tampil menarik agar bisa membuat orang di sampingnya atau di sekitarnya merasa senang saat melihatnya. Untuk tampil menarik pasti setiap orang memiliki cara yang berbeda dan unik, baik dari segi keterampilannya, ilmunya, pakaianya, fisiknya ataupun barang yang ia pakai agar menjadi pembeda dengan yang lainnya. Selama dalam batas wajar atau tidak berlebihan dan diperbolehkan dalam syari’at Islam hal ini boleh-boleh saja.

Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ ࣖ

Artinya: “Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan”. (QS. Al-A’raf: 31)

Penampilan merupakan salah satu hal yang diperhatikan dalam Islam. Bagaimanapun, Islam sangat menjaga adab dan sopan santun dalam berpenampilan dan berpakaian bahkan dianjurkan dalam berhias. Sebagaimana Allah berfirman:

يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ قَدْ اَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُّوَارِيْ سَوْءٰتِكُمْ وَرِيْشًاۗ

Artinya: “Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya Kami telah menyediakan pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan bagimu”. (QS. Al-A’raf: 26)

Ini adalah perintah Allah subhanahu wa ta’ala bagi setiap hamba, bahwa sesungguhnya Islam sudah mengatur bahkan menganjurkan agar setiap muslim berpakaian sesuai syari’at dan berhias atau bernampilan menarik. Barangsiapa yang melalaikan perintah salah satu dari dua perkara di atas, yakni berpakaian sesuai syari’at (menutup aurat) dan berhias, maka sesungguhnya orang tersebut telah menyimpang dari ajaran Islam dan mengikuti jejak setan.

Dalam lanjutan QS. al-A’raf ayat 26, Allah menyebutkan bahwa sesungguhnya pakaian atau hiasan yang terbaik adalah ketaqwaan.

وَلِبَاسُ التَّقْوٰى ذٰلِكَ خَيْرٌۗ ذٰلِكَ مِنْ اٰيٰتِ اللّٰهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُوْنَ

Artinya: “Tetapi pakaian takwa, itulah yang lebih baik. Demikianlah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka ingat”. (QS. Al-A’raf: 26)

Tafsir Ibnu Katsir kalimat Libasut Taqwa dari beberapa sahabat Nabi berbeda pendapat. Menurut Ikrimah mengatakan bahwa yang dimaksud dengan libasut taqwa ialah pakaian yang dikenakan oleh orang-orang yang bertakwa kelak di hari kiamat. Demikian menurut riwayat Ibnu Abu Hatim. Zaid ibnu Ali, As-Saddi, Qatadah, dan Ibnu Juraij mengatakan bahwa libasut taqwa ialah iman. Sedangkan menurut Al-Aufi, dari Ibnu Abbas, libasut taqwa ialah amal saleh. Menurut Ad-Dayyal ibnu Amr meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa makna yang dimaksud ialah pertanda baik yang ada pada wajah. Disebutkan dari Urwah ibnuz Zubair bahwa libasut taqwa ialah takut kepada Allah. Dan menurut Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan bahwa libasut taqwa ialah bertakwa kepada Allah; dengan pakaian itu seseorang menutupi auratnya, demikianlah pengertian libasut taqwa.

Dari penjelasan di atas, sesungguhnya Islam tidak melarang seseorang untuk berpenampilan menarik atau disebut dengan istilah “Good Looking”. Justru Islam memerintahkan seorang muslim khususnya dan manusia pada umumnya untuk selalu berpenampilan menarik dan berhias untuk menjaga kesopanan dan kehormatan seseorang di hadapan manusia dan kepada Allah nanti (akhirat). Perintah Islam untuk menutup aurat ini berlaku bagi setiap manusia, karena pakaian yang demikian merupakan kesopanan yang dijiwai oleh agama dan moral yang tinggi.

Untuk menjaga kesopanan dan kehormatan manusia, Islam memberikan batasan-batasan dalam berpenampilan atau berhias, yakni pakaian yang menutup aurat dan jangan sampai berlebihan. Perintah tersebut menjadi tolak ukur bagi seseorang hamba dalam menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya. Dan inilah yang disebut dengan ketaqwaan. Karena sesungguhnya pengertian taqwa adalah menjalankan apa yang diperintah Allah dan menjauhi semua larangan Allah. Tidaklah seseorang dikatakan mendekatkan diri pada Allah selain dengan menjalankan kewajiban yang Allah tetapkan dan menunaikan hal-hal yang sunnah.

Berkaitan seseorang yang berpenampilan menarik “good looking” dengan segala ilmu agama yang ia miliki seperti seorang hafan qur’an dan hadits, memakai pakaian yang disyari’atkan seperti cenala cingkrang, menjaga janggut, cadar dan lainnya, berusaha menjalankan sunnah-sunnah Rasulullah dan menghindari segala bentuk bid’ah, sering mengutarakan haq adalah haq, bathil adalah bathil merupakan awal dari radikalisme? Bukankah ketaqwaan adalah segala bentuk pendekatan hamba kepada Tuhannya dan itu adalah pakaian atau hiasan yang terbaik? Maka dari pernyataan di atas sesungguhnya tidak benar. Karena sesungguhnya Islam melarang segala bentuk radikalisme bagi ummatnya dan Islam adalah sebuah petunjuk bagi orang-orang yang berpegang teguh kepada agama Allah.

Sebagaimana dalam Firman-Nya:

وَمَنْ يَّعْتَصِمْ بِاللّٰهِ فَقَدْ هُدِيَ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ ࣖ

Artinya: “Barangsiapa berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sungguh, dia diberi petunjuk kepada jalan yang lurus”. (QS. Ali Imran: 101)

Dan Islam juga merintahkan atau menyeru yang ma’ruf, dan mencegah yang munkar (radikalisme). Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ 

وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Artinya: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. Ali Imran:104)

يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لَا تَغْلُوْا فِيْ دِيْنِكُمْ وَلَا تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ اِلَّا الْحَقَّ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda untuk menghindari pebuatan yang melampaui batas (radikalisme):

إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِى الدِّيْنِ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوِّ فِى الدِّيْنِ

Artinya: Hindarilah oleh kalian tindakan melampaui batas (ghuluw) dalam beragama sebab sungguh ghuluw dalam beragama telah menghancurkan orang sebelum kalian. (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Majah).

Bukan hanya untuk yang beragama Islam, Allah juga memerintahkan ahl kitab dan kepada ummat manusia agar tidak melampaui batas, sebagaimana dalam Firman-Nya:

يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لَا تَغْلُوْا فِيْ دِيْنِكُمْ وَلَا تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ اِلَّا الْحَقَّۗ

Artinya: “Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar”. (QS. An-Nisa’: 171)

Sebagaimana yang dikatakan ibnu Faris rahimahullah dalam kitabnya Mu’jam maqaayis Lughah. Sikap melampaui batas adalah bersikap radikal dengan segala bentuknya yang menyelisihi syariat. Dalam bahasa Arab kata (الْغُلُوّ) yang berarti radikal, kekerasan dan kekakuan kembali kepada sebuah kalimat yang bermakna sesuatu yang berlebih-lebihan dan melampaui batas dan ukuran. Dan sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Manzhur rahimahullah dalam kitab Lisanul Arab, ghuluw adalah berlebih-lebihan dalam agama dengan melakukan sesuatu yang melampaui batas dengan kekerasan dan kekakuan.

Dari penjelasan di atas, dengan berbagai sumber menurut al-Qur’an dan Sunnah, bahwa sesunggunya orang yang berpenampilan menarik “good looking” yang dibalur dengan ketaqwaan merupakan bukan hal yang terlarang atau disebut dengan istilah radikalisme. Bahkan Allah memerintahkan untuk beramal sholeh.  Sebagaimana Firman-Nya:

الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ ۙ 

وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَآ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ وَبِالْاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَۗ

Artinya:  “(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada (Al-Qur'an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat”. (QS. Al-Baqarah: 3-4)

Jika seseorang yang mengaku beriman kepada Allah tetapi melakukan perbuatan yang salah atau melakukan kejahatan (radikalisme), maka ia telah mendzalimi dirinya sendiri dan tidak ada hubungannya dengan Istilah Penampilan Menarik “Good Looking”. Sebagaimana Firman-Nya:

اِنَّهٗ لَا يُفْلِحُ الظّٰلِمُوْنَ

Artinya: Sesungguhnya orang yang dzalim itu tidak akan beruntung. (QS. Yusuf: 23)

Sebagai penutup kami mohon maaf atas segala kekurangan dan kekeliruan dalam penyampaian materi ini. Semua itu adalah karena keterbatasan ilmu yang kami miliki. Semoga apa yang kami sampaikan ini bermanfaat bagi kami sendiri dan bagi kaum Muslimin semua. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memperlihatkan kepada kita yang benar itu adalah benar, kemudian menuntun kita untuk mengikutinya. Dan memperlihatkan kepada kita yang salah itu adalah salah, dan kita dijauhkan dari mengikuti hal yang salah tersebut. Dsan semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan petunjuk dan taufiq-Nya kepada kaum Muslimin seluruhnya agar berjalan dan beramal dengan dasar al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan benar.

 

Wallahua’lam....

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar