6 AKHLAK YANG HARUS DIMILIKI OLEH SEORANG GURU - LITERASI SAMBAS
News Breaking
Intro
wb_sunny

Breaking News

6 AKHLAK YANG HARUS DIMILIKI OLEH SEORANG GURU

6 AKHLAK YANG HARUS DIMILIKI OLEH SEORANG GURU

 Oleh: Usmul Hidayah

Literasisambas.org Seseorang bisa jadi hebat pasti tidak terlepas dari peranan seorang guru. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Undang-Undang No. 14 Tahun 2005, guru adalah  tenaga pendidik profesional di bidangnya yang memiliki tugas utama dalam mendidik, mengajar, membimbing, memberi arahan, memberi pelatihan, memberi penilaian, dan mengadakan evaluasi kepada peserta didik yang menempuh pendidikannya sejak usia dini melalui jalur formal pemerintahan berupa Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah.

Guru mengajarkan ilmu dari yang tidak tahu menjadi tahu. Guru juga poros utama bagi dunia pendidikan. Ia menjadi penentu kemajuan suatu negara di masa depan. Secara umum, tugas guru adalah mengajar siswa-siswi agar memilki pengetahuan dan keterampilan dalam masing-masing bidang pelajaran. Bukan hanya mengajar, tapi bagi seorang guru, ia harus bisa memberikan contoh yang baik bagi siswanya dengan akhlakul karimah seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, karena guru adalah seseorang yang digugu dan ditiru.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasûlullâh itu suri teladan yang baik”. (QS. al-Ahzâb:21)

Syaikh Abdur Rahmân bin Nâshir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan kaedah menaladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini dengan menyatakan, “Para Ulama ushul (fiqih) berdalil (menggunakan) dengan ayat ini untuk berhujjah dengan perbuatan-perbuatan Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bahwa (hukum asal) umat beliau adalah meneladani (beliau) dalam semua hukum, kecuali perkara-perkara yang ditunjukkan oleh dalil syari’at sebagai kekhususan bagi beliau. Kemudian uswah (teladan) itu ada dua: uswah hasanah (teladan yang baik) dan uswah sayyi`ah (teladan yang buruk).

Dengan demikian sebelum menyalurkan ilmu kepada siswanya, seorang guru harus memiliki akhlak yang baik terlebih dahulu. Hal ini tertujuan agar apa yang diajarkan memberikan dampak yang baik kepada peserta didik. Dan saat proses belajar mengajar dimulai, akan menjadi hikmah dan langsung tembus ke hati peserta didik.

Adapun akhlak seorang guru yang harus dimiliki agar menjadi panutan bagi peserta diidknya adalah:

1.        Ikhlas Ketika Mengajarkan Ilmu

Kata Ikhlas ini mungkin seperti terlihat mudah, dan banyak orang mengabaikannya. Maka kita sebagai seorang guru harus dengan sungguh-sungguh berusaha merealisasikan keikhlasan dalam setiap amal secara terus menerus saat mendidik siswanya. Ikhlas adalah kunci di terimanya amalan dan bisa merubah ibadah menjadi maksiat yang pada akhirnya akan membawa kita kepada murka Allah Subhanahu wa ta'ala.

Nabi shallalllahu ‘alaihi wassalam, bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لا يَقْبَلُ مِنْ الْعَمَلِ إِلا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amalan kecuali yang murni hanya untuk-Nya, dan dicari wajah Allah dengan amalan tersebut”. (HR. An-Nasa’I no. 3140, dishahihkan Al-Albani)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga menjelaskan akibat dari perbuatan tidak ikhlas atau bukan mengharapkan ridha Allah semata, dalam sabdanya:

عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ وَهُوَ يَخْطُبُ النَّاسَ فَقَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا 

الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَإِلَى رَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَإِلَى 

رَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Artinya: “Umar bin Khatthab sedang berkhotbah di hadapan manusia, katanya;; "saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya setiap amalan sesuai dengan niat, dan balasan bagi seseorang itu sesuai dengan apa yang di niatkannya. Maka barangsiapa hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya maka pahala hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa hijrahnya untuk dunia atau wanita yang akan di nikahinya, maka balasan hijrahnya sesuai dengan tujuan hijrahnya tersebut”. (Hadits Sunan Ibnu Majah No. 4217)

Ikhlas dalam mengajarkan suatu ilmu apa lagi jika seseorang berprofesi sebagai guru adalah sesuatu hal yang sangat penting, karena ini berkaitan dengan diterimanya amalan menjadi amalan shalih atau malah sebaliknya menjadikan amalan yang asalnya ibadah menjadi maksiat (riya’).

Menurut Syaikh Prof. Dr. Ibrahim ar-Ruhaili hafizhahullah mengatakan, “Ikhlas dalam beramal karena Allah ta’ala merupakan rukun paling mendasar bagi setiap amal salih. Ia merupakan pondasi yang melandasi keabsahan dan diterimanya amal di sisi Allah ta’ala, sebagaimana halnya mutaba’ah (mengikuti tuntunan) dalam melakukan amal merupakan rukun kedua untuk semua amal shalih yang diterima di sisi Allah.” (Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 49)

2.        Mengamalkan Ilmu yang Dimiliki

Di saat kita menjadi orang yang bisa menjelaskan atau mengajarkan tentang suatu ilmu, terutama ilmu Islam, maka secara tidak langsung kita belajar ingin menjadi sebaik-baiknya muslim. Tetapi apakah hanya cukup dengan mengajarkan ilmu yang bermanfaat tanpa mengamalkannya, dan kita mendapatkan jalan yang lurus? Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala, memperingatkan dalam firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”. (QS. As-Saff: 2-3)

3.        Selalu Mengingatkan Siswa Keutamaan Ilmu dan Orang yang Berilmu

Hal itu agar mereka makin bersemangat belajar. Di antaranya dengan membaca firman Allah subhanahu wa ta’ala:

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ

Artinya: “Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Mujadilah: 11)

 

Dan sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda:

قَالَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ 

بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ 

مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ

الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ

Artinya: “Abu Ad Darda lalu berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa meniti jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan mempermudahnya jalan ke surga. Sungguh, para Malaikat merendahkan sayapnya sebagai keridlaan kepada penuntut ilmu. Orang yang berilmu akan dimintakan maaf oleh penduduk langit dan bumi hingga ikan yang ada di dasar laut. Kelebihan seorang alim dibanding ahli ibadah seperti keutamaan rembulan pada malam purnama atas seluruh bintang”. (Hadits Sunan Abu Dawud No. 3157

4.        Bersikap Tawadhu’ Kepada Para Siswa

Memanggil siswa dengan nama atau julukan yang baik, berwajah ceria, murah senyum, menjawab salam, menanyakan keadaan mereka dan mempergauli mereka dengan ramah. Tawadhu’ termasuk kunci keberhasilan dalam mendidik dan menyampaikan ilmu. Allah subhanahu wa ta’ala, berfirman:

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ ۚ

Artinya: “Dan bersikap tawadhu’lah kamu terhadap oraong-orang yang mengikutimu dari kalangan orang-orang yang beriman”. (QS. Asy-Syu’ara: 215)

Bahkan merupakan sebab naiknya derajat seseorang, termasuk di hadapan para siswa. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda:

إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

Artinya: “Dan tidak ada seorang pun yang bersikap tawadhu’ karena Allah, kecuali pasti Allah akan mengangkat derajatnya”. (HR. Muslim: 2588)

5.        Memiliki Perhatian Terhadap Siswanya

Sebelum memulai proses belajar mengajar, seorang guru yang baik selalu menanyakan kabar peserta didik. Menanyakan kabar atau alassan peserta didik jika tidak hadir hari ini dan kemaren. Seorang guru yang hebat, hendaknya ia memperlakukan siswanya sebagaimana mempelakukan anak kandungnya sendiri. Dia menyanyanginya, berbuat baik kepadanya, bersabar atas kenakalan dan adab yang buruk yang mungkin terjadi. Menasehatinya dengan baik dan ramah, bukan dengan menghina atau mendzaliminya. Meniatkan itu semua karena ingin mendidiknya serta memperbaiki akhlak dan keadaannya.

6.        Mendo’akan Siswa

Imam Abu Ishaq al-Bakri berkata, “Telah sampai kabar kepadaku tentang seseorang guru yang mulia, terlihat sedang bedo’a di sekitar ka’bah. ‘Ya Allah, siapa pun yang pernah aku ajari, jadikanlah ia termasuk hamba-hamb-Mu yang shalih’. Kemudian sampai kabar kepadaku bahwa dengan sebab didikan guru itu telahirlah ulama dan orang-orang shalih yang jumlahnya sekitar sembilan puluhan orang”. (Tartibu-Mudarik: 6/245)

Dari penjelasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa seorang guru adalah sosok pahlawan yang penting untuk membangun sebuah bangsa. Guru bukan hanya membuat seseorang menjadi pintar tapi guru juga dituntut menjadi teladan yang baik bagi siswanya. Dengan demikian, maka siswa pun akan menilai dan mengikuti gerak-gerik guru tersebut. Jika seorang guru sudah menjadi seseorang yang diidolakannya maka dengan mudah guru tersebut membentuk akhlak yang baik bagi siswanya yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah. Karena sesungguhnya kepintaran tanpa ada akhlak yang baik adalah sebuah kepahitan.

 

Wallahua’lam....

 Baca Juga: 6 AKHLAK PENUNTUT ILMU TERHADAP GURU DALAM ISLAM

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar