KUNCI REZEKI BAGI ORANG BERIMAN MENURUT AL-QUR'AN - LITERASI SAMBAS
News Breaking
Intro
wb_sunny

Breaking News

KUNCI REZEKI BAGI ORANG BERIMAN MENURUT AL-QUR'AN

KUNCI REZEKI BAGI ORANG BERIMAN MENURUT AL-QUR'AN

Oleh: Usmul Hidayah


Literasisambas.org - Ibnu Qayim Radiyallahuanhu pernah melihat seekor ular buta sebelah dia jalan. Ular buta ini kelihatan selaput matanya warna putih. Ibnu Qayim melihat dengan hikmah Allah. Lalu beliau bilang, “Ular ini buta” dan Ibnu Qayim berbicara dengan dirinya sendiri: “Saya ingin tahu bagaimana Allah subhanahuwata’ala memberikan makan ular ini”. Kemudian Ibnu Qayim mengikuti ular itu berjalan. Bisa jadi ular yang buta itu dimakan oleh ular yang lain, tapi ular tersebut tetap berjalan dengan izin Allah. Allah yang menciptakannya dan Allah yang menjaminnya. Lalu ular tersebut mengdapatkan pohon, lalu menaiki pohon sampai ke dahan. Lalu Ibnu Qayim pun melihat ke atas, saya temukan ada seekor burung kecil yang lagi membersihkan sayapnya. Burung ini karena asyik membersihkan badannya dan dia tidak tahu kalau ada ular ada disebelahnya. Dan ular tersebut karena buta, dia juga tidak tahu kalau ada burung disebelahnya. Tapi, Allah punya kuasa, ular ini bisa mencium bau burung lalu ular tersebut mencengkram burung tersebut dan memakannya. Kata Ibnu Qoyim: “Subhanallah, Allah yang telah memberikan makan ular yang buta matanya”.

 Coba bayangkan sekalian, miliaran makhluk Allah dan yang menakjubkan Makhluk Allah yang buta saja Allah jamin rezekinya apalagi yang tidak buta. Dan kita sebagai manusia yang punya akal dan pikiran, jika kita masih mengeluh dan tidak yakin dengan rezeki yang telah Allah tetapkan. Nauzubillah, ada yang salah dengan keimanan kita kepada Allah. Firman Allah subhanahuwata’ala yang Berbunyi:

وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا

Artinya: “Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya”. (QS. Huud: 6)

Di dalam Qur’an ada ayat membahas tentang jaminan rezeki. Ayat yang satu, untuk seluruh manusia baik itu Beriman maupun untuk seluruh manusia, dan ayat yang satu lagi khusus untuk orang yang Beriman Saja. Ayat Qur’an untuk seluruh manusia, yang berbunyi:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

Artinya: "Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi”. (QS. al-Baqarah: 168)

Sedangkan Ayat yang dikhususkan bagi Orang yang Beriman, firman Allah subhanahuwata’ala:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا رَزَقْنٰكُمْ وَاشْكُرُوْا لِلّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah”. (QS. al-Baqarah: 172)

Mengapa Allah Menyebutkan tentang Rezeki (Makan) ayat pertama dengan “Halalan dan Thayyiban” dan yang aang lain dengan “Thayyiban” saja?

Dua ayat tersebut sangat berbeda, ayat yang pertama di awali dengan “Hai Sekalian Manusia”, sedangkan ayat yang kedua, diawali dengan “Hai Orang-orang yang beriman”. Ayat yang pertama ada kalimat “Halalan Thoyyiban”, sedangkan ayat yang kedua, dihilangkan Halalan-nya dan hanya kalimat “Thoyyiban” saja.

Ayat ini dibuka dengan Iman, “Hai orang-orang yang beriman”. Jika ada ayat al-Qur’an dibuka dengan kalimat Iman, maka ayat ini hanya ditunjukan untuk orang yang beriman tidak untuk selainnya. Dan lanjutan ayat “Kuluu” dalam tafsiran ini adalah ikhtiar. Jadi sesholeh-sholehnya orang, beriman-imannya seseorang, bertaqwa-taqwanya seseorang, Allah masih memerintahkan untuk ikhtiar untuk kebaikannya, dan tidak cukup hanya dengan berdo’a saja.

Mengapa pada ayat ini, dihilangkan kata halalnya. Kata Para Ulama, karena orang beriman itu, imannya otomatis membimbingnya dia mencari yang halal. Orang beriman mustahil mencari yang haram, jika ada orang yang mengaku beriman kemudian mencari yang haram, ini menunjukkan ada yang salah dalam Imannya dan Imannya pasti bermasalah, palsu dan bisa dikatakan munafik. Maksudnya apa? Jika kita ingin mencari rezeki tidak pernah berpikir kepada yang haram, kita berkerja tidak pernah memikirkan yang haram, pokoknya yang halal, halal, halal, maka Allah akan mempercepat rezekinya kepada kita dengan kalimat: “Ma Razaknakum: Kami yang dekatkan Rezekinya bukan dia yang lelah untuk mencarinya”. Jadi rumusnya di dalam Qur’an dengan kalimat Iman, jangan pernah pikirkan yang haram. Maka Allah akan dekatkan rezeki kita dengan yang halal dan dijauhkan kepada yang haram.

Mencari rezeki bukan dinilai dari banyaknya yang kita dapat, tapi dinilai dari berkahnya. Dalam ayat tersebut ada kalimat “Thoyyib” yang bertunjuk kepada keberkahan. Orang yang mencari rezeki tidak menggunakan Iman, sekalipun banyak tapi kelihatan sedikit. Silahkan cek, banyak orang yang posisinya sudah tinggi, kaya tapi masih korupsi juga. Kenapa, karena nafsunya muncul. Kalau orang sudah mencari rezeki dengan nafsu, mohon maaf, yang banyak pun kelihatan sedikit, kerja lagi, kerja lagi. Pergi Malam, pulang malam, dan rezekinya tidak pernah cukup. Dan ini menunjukkan tiada keberkahan dalam rezeki tersebut dan ada yang salah di dalamnya. Beda dengan Rezeki yang berkah. Meskipun nampaknya sedikit, contohnya cuma seorang Honorer, tetapi bisa memenuhi segala kebutuhan kehidupannya. Inilah Kuasa Allah, Rezeki yang Halal selalu dalam Perlindungan Allah dan Allah selalu Mencukupinya tapi rezeki yang haram tiada jaminan oleh Allah dan serba kekurangan.

Dari kreteria manusia yang disebutkan dan dapat kita renungkan di dalam ayat tersebut. Mereka tidak perlu jauh-jauh untuk menjemput rezeki. Misalnya orang lain menjemput rezeki yang tanpa iman dan taqwa harus banting tulang, perlu tenaga ekstra, perlu perjalanan yang jauh, baru bisa dapat. Tapi sebaliknya bagi orang yang beriman dan bertaqwa, jalan sedikit ada rezeki, menjemputnya tidak diperlukan tenaga yang banyak yang lebih luar biasanya rezekinya banyak yang didapatkan, mau makan tiba-tiba makanan datang dan ditraktir lagi, mau beli sesuatu Allah cukupkan. Ini lah bahasa Allah, jika Iman dan Taqwa meningkat maka Rezeki datang dengan derasnya. Untuk mendukung ayat tersebut Firman Allah subhanahuwata’ala QS. at-Talaaq: 2-3 yang berbunyi:

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗاِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Artinya: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu".

Wallahu a'lam....

 

 


Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar