KETIKA KAMU MELUPAKAN KEBAIKAN IBUMU - LITERASI SAMBAS
News Breaking
Intro
wb_sunny

Breaking News

KETIKA KAMU MELUPAKAN KEBAIKAN IBUMU

KETIKA KAMU MELUPAKAN KEBAIKAN IBUMU

KETIKA KAMU MELUPAKAN KEBAIKAN IBUMU

 Oleh: Usmul Hidayah

        Literasisambas.org Ada seorang anak yang datang pada seorang ustadz, kemudian mengeluh tentang perbuatan ibunya. Dia mengatakan, “Ibu saya itu orangnya kuno dan tidak berpendidikan. Akibatnya, saya merasa teraniaya menjadi anak”. Lalu dengan tenang ustadz tersebut mengatakan, “Tulislah semua keburukan ibumu!”. kemudian anak tersebut menulis semua keburukan ibunya, “Ibuku orangnya pemarah, kurang perhatian, pelit, suka mendendam, dan sebagainya”. Setelah selesai, ustadz pun berkata, “Sekarang tulis secara jujur apa jasa dan pengorbanan ibumu!”. Akhirnya anak tersebut termenung, “Sewaktu di perut ibu, sembilan bulan saya mengisap darahnya. Saat itu, sulit berdiri dan berjalan berat, bahkan berbaring pun sakit. Tiga bulan pertama mual dan muntah karena ada saya di perutnya. Ketika saya akan terlahir di dunia, ibu meregang nyawa antara hidup dan mati. Meskipun bersimbah darah dan sakit tiada terperi, tapi ibu tetap rela dengan kehadiran saya. Setelah lahir, satu per satu jari saya dihitungnya dan dibelainya. Ditengah rasa sakit, beliau tiba-tiba tersenyum dengan lelehan air mata bahagia melihat saya terlahir dan saat itu pula ibu menyangka akan lahir anak yang sholeh yang memuliakannya”.

Ketika sang anak menulis pengorbanan ibunya, tak terasa berlinanglah air matanya. Semakin sadar bahwa untaian pengorbanan ibunya sungguh tidak sebanding dengan kebaikan yang telah ia perbuat untuk memuliakan ibunya. Bahkan, jika tubuh kita dikupas tidak akan terbanding, tidak akan bisa menandingi perih pahitnya penderitaan orangtua kita.

Wahai para anak yang shaleh! Dalam sebuah hadits, Abu Hurairah r.a berkata, “Telah datang kepada Rasulullah Saw, seorang laki-laki lalu bertanya, wahai Rasulullah, siapakah yang lebih berhak saya pergauli dengan baik?” Beliau menjawab, “Ibumu”. Dia bertanya lagi, “Kemudiaan siapa?” Beliau menjawab, “Ibumu”. Dia  bertanya lagi, “Kemudian siapa?”. “Ibumu”. Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau menjawa, “Ayahmu”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari hadits tersebut, jelaslah betapa Allah melalui lisan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam benar-benar menilai pengorbanan orangtua, khususnya ibu kita, sehingga tiga kali beliau menyebutkan nama ibu sebelum ayah. Padahal, beliau sendiri hanya berjumpa dengan ibunya satu tahun, yaitu dari usia lima sampai enam tahun. Namun, beliau begitu mengajarkan penghormatan kepada ibunya, termasuk ibunda kita semua.

Cobalah kita renungkan! Pada waktu kita bayi, tidak kenal siang malam kita berbaring dan bangun sesuka hati. Padahal, ibu kita hampir tidak tidur semalam suntuk. Rasanya, beliau tidak rela bila ada satu ekor nyamuk pun yang mengigit tubuh kita. Ketika kita kecil mulai nakal, ibu bahagia memamerkan diri kita kepada tetangga-tetangga. Walaupun untuk itu beliau begitu direpotkan, berhutang sana-sini agar kita punya sepatu dan berpakaian layak. Ketika menjelang sekolah, ibu dan ayah sungguh-sungguh membanting tulang mencari nafkah, agar kita bisa bersekolah seperti anak-anak yang lain. Walaupun mereka harus menahan lapar, namun puas asal anak-anaknya bisa kenyang.

Namun dalam kenyataan, seiring pertumbuhan, tidak sebaik itu bakti kita kepada orangtua. Semakin lama kita semakin besar, mata jadi sering sinis kepada orangtua kita. Jangankan mencium tangan ibu, untuk sebuah senyum pun kita terkadang berat untuk melakukannya. Bahkan ucapan dan tindakan kita seakan seperti pisau yang sering mengiris hatinya. Lebih dari itu, seringkali seorang anak begitu mudah menyuruh-nyuruh orangtuanya. Tak ubahnya seperti pesuruh yang dihormati sekadarnya. Padahal tenaga, keringat, dan darah mereka habis untuk membela kita.

Lebih parah lagi, ada sebagian anak yang tidak mau memuliakan orangtuanya. Manakala orangtua semakin jompo dan si anak tidak mau mengurusnya, maka dititipkanlah orangtuanya di panti jompo, Astaghfirullah. Ini adalah perbuatan yang sangat tercela, padahal dulu kita sangat menyusahkannya. Harusnya semua itu diingat-ingat, wahai anak.

Wahai anak yang beriman! Tidak heran jika anak yang durhaka, anak yang tidak tahu balas budi, hidupnya di dunia ini akan diliputi penderitaan. Kita sering mendengar, betapa hukuman-hukuman Allah diberikan pada anak-anak yang sering mendzalimi orangtuanya. Oleh karena itu, marilah kita berusaha untuk selalu mengenang kembali semua untaian pengorbanan orangtua. Sungguh pengorbanan orangtua kita adalah utang. Walau ditebus nyawa sekalipun rasa-rasanya tidak akan berbayar. Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Surah al-Israa’ ayat 23 berfirman:

۞ وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا

Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu-bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-sekali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “AH” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”.

Begitu santunnya Islam mengajarkan penghormatan kepada orangtua. Bukan saja dari raut muka, bahkan perkataan “AH” saja sudah terlarang dalam Islam. Apalagi menghardik dan bersikap keras atau kasar. Bahkan, kita dilarang untuk memaki ibu-bapak orang lain, bisa jadi akan mengundang orang itu untuk memaki orangtua kita. Dan itu adalah kedzaliman bagi orangtua. Harusnya kata-kata yang mulia saja yang keluar dari lisan kita.

Beruntunglah bagi siapa pun yang orangtuanya masih ada karena jika orangtua sudah terbungkus kain kafan, kita tidak bisa lagi mencium tangannya atau menatap wajahnya. Karena itu, kita harus memiliki tekad yang sangat kuat untuk berbakti pada orangtua. Minimal kita berhenti menyakiti hati orangtua hingga tidak ada luka yang ditoreh dihatinya. Syukur kalau kita sudah bisa menyenangkan dan diberkahi manfaat besar bagi dunia dan juga akhiratnya.

Yang paling penting dalam menghormati orangtua bukanlah hanya dengan memberikan harta. Namun, yang paling penting dibutuhkan adalah akhlak dari anaknya. Apalah artinya anak kaya, anak bergelar, anak berpangkat, tetapi tidak berakhlak kepada ibu-bapaknya? Akhak inilah sebenarnya kekayaan termahal yang bisa membuat sang anak do’anya diijabah oleh Allah, sehingga bisa menyelamatkan dan memuliakan ibu-bapaknya. Betapa yang dirindukan orangtua itu senyum manis yang tulus dari anaknya serta ketawadhu'an.

Oleh karena itu, jangan beli orangtua dengan harta. Harta itu hanya secuplik. Apalah artinya kita ngasih uang, tapi uang itu dilemparkan ke depan wajahnya? Mudah-mudahan kita semua dapat benar-benar menyadari bahwa orangtua itu tidak berbeli kecuali oleh kemuliaan akhlak. Sosok orangtua memang tidak selalu sesuai dengan harapan kita. Kita tidak bisa mengharapkan sosok ibu atau bapak seideal seperti yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam dan Istrinya. Akan tetapi, justu kita harus mencari kelebihan-kelebihan mereka untuk kita syukuri. Sedangkan, soal kekurangannya kita harus ada dibarisan yang paling depan untuk membantunya agar luput dan selamat dari kehinaan karena kekurangan-kekurangan itu.

Saran untuk Kita Semua

Wahai orangtua yang berpangkat anak, dan para anak yang shaleh! Bagaimanapun keadaan orangtua kita, darah dagingnya melekat pada diri kita. Jika mereka belum shaleh dan shalehah, kita yang harus mati-matian meminta kepada Allah supaya orangtua  kita mendapat hidayah. Kalau orangtua masih berlimang dosa, kita harus berjuang keras supaya diampuni oleh Allah. Kalau belum taat, kita yang harus membuktikan bahwa diri kita sendiri adalah orang yang sedang berjuang keras kearah ketaatan itu.

Setiap orang berproses, ada yang awalnya kurang ilmu, namun lambat laun ilmunya bertambah. Jadi, kita harus sikapi kekurangan orangtua kita dengan kelapangan hati. Bagaimanapun juga, tidak ada manusia yang sempurna. Oleh karena itu, mudah-mudahan tekad kita semakin kuat untuk memuliakan orangtua, Amin ya Rabbil’alamin...

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar