9 NASEHAT AGAR RUMAH TANGGAMU BAHAGIA - LITERASI SAMBAS
News Breaking
Intro
wb_sunny

Breaking News

9 NASEHAT AGAR RUMAH TANGGAMU BAHAGIA

9 NASEHAT AGAR RUMAH TANGGAMU BAHAGIA

 Oleh: Usmul Hidayah


      Literasisambas.org Segaja puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita memuji, memohon pertolongan serta ampunan-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan nafsu-nafsu kita dan dari kejahatan-kejahatan amal perbuatan kita. Barang siapa yang ditunjuki oleh Allah, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, maka tak seorang pun yang bisa menunjukinya. Petunjuk Allah adalah sebuah nikmat yang harus disyukuri terlebih lagi nikmat dalam berumah tangga. Allah berfirman:

وَاللّٰهُ جَعَلَ لَكُمْ مِّنْۢ بُيُوْتِكُمْ سَكَنًا

Artinya: “Dan Allah menjadikan rumah-rumah bagimu sebagai tempat tinggal”. (QS. An-Nahl: 80)

Ibnu Katsir berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan kesempurnaan nikmat-Nya dengan apa yang Dia jadikan bagi mereka berupa rumah-rumah yang merupakan tempat tinggal mereka. Mereka kembali kepadanya, berlindung, dan memanfaatkannya dengan berbagai macam manfaat”.

Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan rasul Allah. Semoga shalawat, salam dan keberkahan dilimpahkan kepada beliau, keluarga, sahabat dan segenap orang yang mengikutinya. Amma ba’du.

Sesungguhnya manusia memerlukan nasehat dalam kehidupan. Sebagai makhluk sosial dan juga seorang muslim, kita sangat dianjurkan untuk saling mengingatkan dalam kebaikan melalui nasehat. Kata “nasehat” berasal dari Bahasa Arab yaitu “nashaha” yang memiliki dua makna yaitu “khalasha” dan “khaatha”. “Khalasha” bermakna murni dan bersih dari segala kotoran sedangkan “khaatha” artinya menjahit. Menasihati dapat diibaratkan menjahit pakaian yang robek (perbuatan buruk), sehingga baju itu menjadi bagus kembali.

Imam Nawawi rahimahullah, menukil keterangan dari Imam Khaththabi rahimahullah, menyatakan bahwa kata “nashaha” diambil dari kata “nashahtu al-‘asla” yang diibaratkan ketika menyaring madu dari lilinnya. Madu yang terpisah dari lilinnya akan menjadi murni dan bersih.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum meminta nasehat. Pastikan orang tersebut orang yang ‘alim atau berilmu dan bisa menjaga rahasiamu. Dan sebaik-baik nasehat adalah seorang yang selalu mengajak ke jalan Allah dan apabila kita mendengarnya ada ketenangan di dalam hati. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ اَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّنْ دَعَآ اِلَى اللّٰهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَّقَالَ اِنَّنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Artinya: “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, “Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?”. (QS. Fushilat: 33)

Nasehat ini dimaksudkan untuk dua hal, mendapatkan maslahat (kebaikan) yakni dengan amar ma’ruf atau mencegah kerusakan yakni menghilangkan kemungkaran. Nasehat ini tidak lain adalah petunjuk Allah Yang Maha Penyanyang, sebagaimana dalam firman-Nya, yang artinya, “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. Karena sesungguhnya rumah tangga adalah dasar terbentuknya kepribadian seseorang. Jika rumah tangga baik, maka baiklah bangsa dan jika rumah tangga rusak maka rusaklah bangsa.

 Setiap orang yang sudah berumah tangga pasti menginginkan tempat tinggal baik. Dalam hal ini bukan berarti memiliki rumah yang besar, mewah lagi megah, tetapi bagaimana menciptakan rumah yang nyaman, damai, tentram, lagi lapang. Apabila kita pulang dari kerja atau kegiatan lainnya maka masalah di luar bisa hilang seketika. Rumah yang ada ketentraman merupakan idaman bagi setiap manusia yang sudah berumah tangga.

Adapun tips agar rumah seperti surga, sebagai berikut:

1.        Memilih Istri yang Tepat

Allah Subhanahu wa Ta’ala, berfirman:

وَاَنْكِحُوا الْاَيَامٰى مِنْكُمْ وَالصّٰلِحِيْنَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَاِمَاۤىِٕكُمْۗ اِنْ يَّكُوْنُوْا فُقَرَاۤءَ يُغْنِهِمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

Artinya: “Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui”. (QS. An-Nuur: 32)

Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wa Sallam, bersabda:

“Dunia semuanya adalah kesenangan, dan sebaik-baik kesenangan adalah wanita Shalihah”. (HR. Muslim, no. 1468)

 

Laki-laki yang shalih dengan wanita shalihah akan mampu membangun rumah tangga yang baik, sebab negeri yang baik akan subur tanamannya dengan izin Tuhannya, sedang negeri yang buruk tidak akan keluar tanaman darinya kecuali dengan susah payah.

 

2.        Jadikan Rumah sebagai Tempat Dzikrullah (Mengingat dan Menyebut Allah)

Rasulullah, bersabda:

“Perumpamaan rumah yang di dalamnya ada dzikrullah dan rumah yang tidak ada dzikrullah di dalamnya adalah (laksana) perumpamaan antara orang yang hidup dengan yang mati”. (HR. Muslim dari Abu Musa 1/539. Cet. Abdul Baqi)

 

Karena itu, rumah harus dijadikan tempat untuk melakukan berbagai dzikir, baik itu dzikir di dalam hati maupun dengna lisan. Dzikir di sini bermaksud ibadah, contohnya seperti shalat malam atau shalat sunnah lainnya, membaca al-Qur’an atau mempelajari ilmu agama dan membaca buku lain yang bermanfaat.

 

3.        Pendidikan Keimanan untuk Anggota Keluarga

Dari Aisyah, beliau berkata:

“Suatu ketika Rasulullah mengerjakan shalat malam, ketika akan witir beliau mengatakan, ‘Bangunlah, dan dirikanlah shalat witir wahai Aisyah’ ”. (HR. Muslim, Shahih Muslim bi Syarh an-Nawawi, 6/23)

“Allah mengasihi laki-laki yang bangun malam kemudian shalat, lalu membangunkan istrinya sehingga shalat, jika tidak mau, ia memerciki wajahnya dengan air”. (HR. Ahmat dan Abu Dawud, Shahih al-Jami’, no. 3488)

 

Adapun pendidikan keimanan yang lain adalah dengan sedekah. Di antara ide yang bagus adalah dengan meletakkan kotak infaq di dalam rumah untuk orang-orang miskin, sehingga setiap uang yang masuk di dalamnya menjadi hak bagi orang-orang yang membutuhkannya, karena itulah tabungan mereka di dalam rumah orang muslim. Atau jika ahli keluarga membiasakan puasa sunnah, niscaya akan mendorong anggota keluarga yang lain untuk melakukan hal yang sama.

 

4.        Buatlah Perpustakaan di Rumahmu

Di antara yang membantuu proses pengajaran bagi keluarga adalah pemberian kesempatan belajar agama dan menolong mereka untuk menta’ati hukum-hukum syari’at dengan membuat perpustakaan Islami di rumah. Tidak harus besar, tetapi yang terpenting adalah bisa menyeleksi buku-buku yang bisa menambah keimanan dan bisa bermanfaat bagi anggota keluarga. Adapun buku yang harus ada di dalam perpustakaan di rumah adalah seperti buku tafsir, hadits, akidah, fiqh, akhlak, sejarah dan biografi, buku saku ataupun buku-buku yang bermanfaat lainnya. Apa yang telah disarankan tentang usulan buku tersebut, hanyalah sebagai contoh, bukan berarti kami membatasinya.

 

5.        Belajar Hukum-hukum Syariat tentang Rumah

Di antara hukum-hukum syariat tentang rumah yang harus diketahui oleh anggota keluarga adalah:

a.       Hukum Shalat di rumah

Tentang shalat laki-laki, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, bersabda:

“Sebaik-baik shalat laki-laki adalah di rumahnya, kecuali shalat wajib”. (HR. Abu Dawud, ada di dalam Shahih al-Jami’, no. 2749)

Adapun bagi wanita, semakin ke dalam tempat shalatnya dari bagian rumahnya, maka semakin utama. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:

“Sebaik-baik kaum wanita yaitu di bagian palig dalam dari rumahnya”. (HR. Ath-Thabrani, lihat Shahih al-Jami’, no. 3311)


b.      Agar orang lain tidak menjadi iman di rumahnya, dan seseorang tidak boleh duduk di tempat yang biasa diduduki oleh pemilik rumah kecuali dengan izinnya

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, bersabda:

“Tidak boleh seorang laki-laki diimami di wilayah kekuasaannya, dan tidak diduduki atas kemuliaannya (tempat duduknya) di rumahnya kecuali dengan izinnya”. (HR. Ath-Tirmidzi, no. 2772)


c.       Bersalam masuk ke rumah dan meminta izin untuk masuk ke rumah orang lain

Allah Subhanahu wa Ta’ala, berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَدْخُلُوْا بُيُوْتًا غَيْرَ بُيُوْتِكُمْ حَتّٰى تَسْتَأْنِسُوْا وَتُسَلِّمُوْا عَلٰٓى اَهْلِهَاۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاِنْ لَّمْ تَجِدُوْا فِيْهَآ اَحَدًا فَلَا تَدْخُلُوْهَا حَتّٰى يُؤْذَنَ لَكُمْ وَاِنْ قِيْلَ لَكُمُ ارْجِعُوْا فَارْجِعُوْا هُوَ اَزْكٰى لَكُمْ ۗوَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ عَلِيْمٌ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. Dan jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu, “Kembalilah!” Maka (hendaklah) kamu kembali. Itu lebih suci bagimu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. An-Nuur: 27-28)


d.      Melarang anak-anak dan pembantu masuk ke dalam kamar tidur ibu-bapak, tanpa izin pada waktu istirahat (tidur)

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِيْنَ مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ وَالَّذِيْنَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلٰثَ مَرّٰتٍۗ مِنْ قَبْلِ صَلٰوةِ الْفَجْرِ وَحِيْنَ تَضَعُوْنَ ثِيَابَكُمْ مِّنَ الظَّهِيْرَةِ وَمِنْۢ بَعْدِ صَلٰوةِ الْعِشَاۤءِۗ ثَلٰثُ عَوْرٰتٍ لَّكُمْۗ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلَا عَلَيْهِمْ جُنَاحٌۢ بَعْدَهُنَّۗ طَوَّافُوْنَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلٰى بَعْضٍۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمُ الْاٰيٰتِۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Hendaklah hamba sahaya (laki-laki dan perempuan) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig (dewasa) di antara kamu, meminta izin kepada kamu pada tiga kali (kesempatan) yaitu, sebelum salat Subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari, dan setelah salat Isya. (Itulah) tiga aurat (waktu) bagi kamu. Tidak ada dosa bagimu dan tidak (pula) bagi mereka selain dari (tiga waktu) itu; mereka keluar masuk melayani kamu, sebagian kamu atas sebagian yang lain. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat itu kepadamu. Dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana”. (QS. An-Nuur: 58)


e.       Dilarang mengintip rumah orang lain, tanpa izin mereka

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, bersabda:

“Barangsiapa mengintip rumah kaum (orang) lain tanpa izin, kemudian mereka mencongkel matanya, maka tidak ada diyat baginya dan tidak pula qishash”. (HR. Ahmad, al-Musnad, 2/385. Dalam Shahih al-Jami’, no. 6046)


f.        Wanita yang ditalak tidak boleh keluar atau dikeluarkan dari rumahnya selama waktu iddah (menunggu) dengan memberikan infaq kepadanya

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ اِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاۤءَ فَطَلِّقُوْهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَاَحْصُوا الْعِدَّةَۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ رَبَّكُمْۚ لَا تُخْرِجُوْهُنَّ مِنْۢ بُيُوْتِهِنَّ وَلَا يَخْرُجْنَ اِلَّآ اَنْ يَّأْتِيْنَ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍۗ وَتِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ ۗوَمَنْ يَّتَعَدَّ حُدُوْدَ اللّٰهِ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهٗ ۗ لَا تَدْرِيْ لَعَلَّ اللّٰهَ يُحْدِثُ بَعْدَ ذٰلِكَ اَمْرًا

Artinya: “Wahai Nabi! Apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar), dan hitunglah waktu iddah itu, serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumahnya dan janganlah (diizinkan) keluar kecuali jika mereka mengerjakan perbuatan keji yang jelas. Itulah hukum-hukum Allah, dan barangsiapa melanggar hukum-hukum Allah, maka sungguh, dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali setelah itu Allah mengadakan suatu ketentuan yang baru”. (QS. Ath-Talaq: 1)


g.      Kucing-kucing piaraan tidak menjadikan bejana najis, bila kucing tersebut minum atau makan darinya

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, bersabda:

“Dari Abdullah bin Abi Qatadah, dari ayahnya bahwasanya diletakkan untuknya bejana yang berisi air wudhu, lalu seekor kucing menjilat ke dalamnya, lalu ia (tetap) melakukan wudhu. Mereka berkata, ‘Hai Abu Qatadah, bejana itu telah dijilat oleh kucing’. Ia menjawab, ‘Aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Kucing termasuk di antara anggota keluarga, dan ia termasuk di antara yang mengitari kalian’ ” (HR. Ahmad dalam al-Musnad, 5/309 dan dalam shahih al-Jami’, no. 3637)

 

6.        Bermusyawarah dalam Persoalan-persoalan Keluarga

Allah berfirman:

وَاَمْرُهُمْ شُوْرٰى بَيْنَهُمْۚ

Artinya: “Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka”. (QS. Asy-Syura: 38)

Untuk menjaga keutuhan  dan menjaga kekompakkan keluarga adalah meluangkan waktu dan kesempatan bersama mendiskusikan permasalahan yang terdapat di keluarga baik persoalan intern dan ekstern keluarga.

 

7.        Saling Menjaga Rahasia Rumah Tangga

Dalil pelarangannya adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:

“Sesungguhnya di antara manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada Hari Kiamat yaitu laki-laki yang mencumbui istrinya, dan istri yang mencumbui suamiya, kemudian ia sebarluaskan rahasianya”. (HR. Muslim, 4/157)

 

8.        Saling Membantu dalam Pekerjaan Rumah

Demikian yang dikatakan oleh istri beliau Aisyah, ketika ditanya apa yang dikerjakan olah Rasulullah dalam rumahnya. Aisyah menjawab dengan apa yang dilihatnya sendiri. Dalam riwayat lain disebutkan:

“ia adalah manusia di antara sekalian manusia, membersihakan bajunya, memerah susu kambingnya, dan melayani dirinya”. (HR. Imam Ahmad, al-Musnad,  6/256, dalam as-Silsilah ash-Shahihah, no. 671)

 

9.        Bersikap Lembut dan Suka Bercanda dengan Keluarga

Bersikap lembut kepada istri dan anak-anak merupakan salah satu faktor yang bisa menebarkan iklim kebahagian dan eratnya hubungan baik di tengah keluarga. Karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, bersabda:

“Segala sesuatu yang di dalamnya tidak ada dzikrullah maka itu adalah perbuatan sia-sia dan main-main belaka, kecuali empat perkara: cumbu rayu seorang laki-laki terhadap istrinya....”. (HR. An-Nasi’i daslam ‘Isyrah an-Nisa’, hal. 87, dalam Shahih al-Jami’, no. 4534)

Itulah beberapa nasehat ataupun amalan agar rumah terasa di surga, seperti kata pepatah yang berbunyi, “Rumahku, Surgaku”. Mudah-mudahan Allah memberikan manfaat kepada kita semua. Dari sebuah rumah yang Islami akan lahir penompang-penompang perbaikan bagi masyarakat, berupa da’i-da’i teladan, penuntut ilmu, mujahid yang sesungguhnya dan unsur kebaikan lainnya.

 

Wallahu a’lam....

 

Sumber: 40 Nasehat Memperbaiki Rumah Tangga. Karya: Syaikh Dr. Muhammad bin Shalih al-Munajjid

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar