Kekeliruan dalam Memahami Zuhud - LITERASI SAMBAS
News Breaking
Intro
wb_sunny

Breaking News

Kekeliruan dalam Memahami Zuhud

Kekeliruan dalam Memahami Zuhud

Oleh: Hadi Wiryawan

Literasisambas.org Tema zuhud menjadi pembahasan yang sering dibahas oleh para ulama yang telah lama berkecimpung dalam dunia tazkiyatun nufus. Banyak orang yang salah dalam memahami makna zuhud yang sebenarnya. Karena definisi umum yang disalah pahami oleh orang-orang awam adalah meninggalkan dunia secara utuh tanpa adanya negosiasi dan penjelasan secara detail.

Dalam tulisan ini, setidaknya penulis akan memaparkan tiga kekeliruan yang sering disalah pahami oleh sebagian orang yang merasa dirinya telah menjadi orang yang zuhud.

Meninggalkan Dunia Sama Sekali
Imam Ibnu al-Jauzi rahimahullah pernah berkata: “Orang awam terkadang mendengar hinaan terhadap dunia ini di dalam al-Qur’an yang mulia dan hadis-hadis, lalu dia berpendapat bahwa jalan keselamatan adalah meninggalkan dunia. Dia tidak memahami masalah duniawi yang tercela. Kemudian Iblis mempermainkannya dengan berkata: “Engkau tidak akan selamat di akhirat, kecuali dengan meninggalkan dunia.” Maka ia pun mengasingkan diri ke gunung-gunung, menjauhi salat Jum’at, salat berjamaah, dan duduk beramai di majelis ilmu. Dia menjadi seperti binatang liar. Dan dikhayalkan kepadanya bahwa inilah zuhud yang hakiki.
Pemahaman ini jelas bertentangan dengan ayat al-Qur’an:
وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (QS. al-Qasas [28]: 77)

Hingga saat ini kita masih menemukan orang-orang yang bertindak jahil semacam itu. Padahal kemungkinan dia memiliki kewajiban menafkahi keluarga. Atau karena ia tidak memahami rukun-rukun salat sebagaimana mestinya. Atau mungkin juga, dia masih menanggung beban kezhaliman-kezhaliman yang belum terselesaikan. Atau mungkin bisa lebih tragis lagi jika pengasingan diri itu karena kekecewaan hidup atau putus asa. Sedangkan Iblis telah mengelabuhi orang ini karena kedangkalan ilmunya.
Seandainya dia mau belajar memahami agama ini dengan benar kepada yang lebih alim, maka dia menjadi lebih tahu ternyata dunia ini tidaklah tercela. Allah sang Maha Hakim (menebarkan hikmah dan kebijaksanaan) telah menganugerahkan segala sesuatu dan merupakan kebutuhan pokok bagi kelangsungan hidup umat manusia.

Dunia merupakan sarana untuk meraih kesempurnaan ilmu dan ibadah kepada Tuhan. Seperti makanan untuk menjaga ketahanan tubuh, pakaian untuk menutupi aurat, dan masjid untuk melaksanakan salat. Dikatakan tercela itu bila dalam mencari dunia dengan cara yang haram atau mengambilnya secara berlebihan dan dapat melupakan ibadah.
Pergi mengasingkan diri ke gunung-gunung hukumnya terlarang, tindakan-tindakan seperti meninggalkan salat jamaah dan salat Jum’at merupakan kerugian. Jauh dari ilmu dan ulama akan mengakibatkan ia terkukung oleh kejahilan. Meningglakan ayah dan ibu tanpa dasar yang jelas merupakan kedurhakaan terhadap orang tua, dan termasuk dosa besar. (Sumber: al-Muntaqa an-Nafis min Talbis Iblis, hlm. 191-192).
Meninggalkan perkara-perkara Mubah, Padahal Bermanfaat
Ibnul Qayyim al-Jauzi berkata, “Di antara tipu daya Iblis terhadap orang-orang zuhud adalah Iblis menjadikan mereka salah sangka bahwa zuhud itu meninggalkan perkara-perkara mubah.” Sebagai contoh, ada seseorang yang dengan sengaja tidak mau mencicipi buah-buahan, mengurangi porsi makanan sehingga badannya kurus-kering. Atau menyiksa dirinya dengan mengenakan pakaian buruk dan tidur di jalanan. Ini bukanlah tuntunan Rasulullah Shalallahu ‘Alahi wa Sallam., dan bukan pula tradisi para sahabat dan pengikut beliau. Mereka dahulu lapar bila tidak mendapatkan apapun, namun bila mereka menemui makanan, mereka akan memakannya. (Sumber: al-Muntaqa an-Nafis min Talbis Iblis, hlm. 193).
Islam mengajarkan keseimbangan hidup. Kita diperbolehkan bahkan diperintahkan melakukan hal-hal mubah ada nilai kebaikan dan kemanfaatan, asalkan tidak berlebih-lebihan. Untuk ukuran zaman sekarang, bahwa kebutuhan sekunder bisa menjadi primer ketika mampu memberi nilai tambah terhadap segala aktifitas manusia. Misalnya kendaraan, dengan fasilitas ini orang bisa mengatur waktu dengan efektif dan itu sangat berpengaruh pada produktifitas kerja. Begitu juga dengan fasilitas-falisitas yang lain.
Contoh lagi seperti seorang juru dakwah yang memiliki mobilitas tinggi dalam melayani umat agar bertakwa, ia dituntut tepat waktu dan memberi pelayanan terbaik. Kalau sudah begitu, dia harus menggunakan fasilitas dan sarana yang dapat memperlancar kegiatannya. Misalnya kendaraan yang cepat atau akomodasi yang nyaman. Maka tidak dibenarkan juka ia menolak atau meninggalkan semua itu dengan alasan zuhud.

Meninggalkan Harta Benda Secara Total dan Menjadikan Kefakiran sebagai Tujuan Hidup

Jika zuhud identik dengan kefakiran, maka hal itu sangat bertentangan dengan ajaran Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam., karena beliau memohon perlindungan kepada Allah dari tujuan hidup yang berorientasi pada kemiskinan. Di dalam hadis beliau pernah berdoa:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْقِلَّةِ وَالْفَقْرِ وَالذِّلَّةِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ
Dari Abu Hurairah ia berkata; "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam doanya mengucapkan: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kefakiran, kekurangan dan kehinaan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari melakukan kezhaliman atau dizhalimi." (HR. an-Nasa'i)
Demikian pula sifat malas bekerja dengan dalih zuhud yang palsu, jelas bertolak belakang dengan ajaran Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam., yang menganjurkan umatnya untuk bekerja keras dan mencari rezeki yang halal. Sabda beliau Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam:
عَنْ الْمِقْدَامِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

Dari Al Miqdam radliallahu 'anhu dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak ada seorang yang memakan satu makananpun yang lebih baik dari makanan hasil usaha tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Allah Daud AS memakan makanan dari hasil usahanya sendiri". (HR. al-Bukhari)

Oleh sebab itu, hakikat zuhud bukanlah meninggalkan harta duniawi. Banyak sahabat Nabi yang kaya-raya, seperti Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, dan lainnya. Kendati pun demikian mereka adalah tokoh-tokoh orang yang zuhud. Justru kezuhudan seseorang itu lebih mapan dan matang ketika sudah tercukupi segala kebutuhannya, dan memiliki sifat qana’ah dan ikhlas menerima ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Demikianlah penjelasan singkat mengenai kekeliruan yang sering disalah pahami oleh sebagian orang. Pada dasarnya segala sesuatu harus dikembalikan kepada Allah yang merupakan maha pemberi petunjuk dan Rasulnya yang merupakan suri teladan bagi umat Islam. Maka dari itu, contoh orang yang paling ideal untuk diteladani sifat zuhudnya adalah Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam beserta para sahabat-sahabatnya yang paling paham mengenai hakikat zuhud.


(Hadi Wiryawan/ 29-07-20)



Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Next
Posting Lebih Baru
Previous
This is the last post.

Posting Komentar